PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 78 Karena Aku Punyamu


__ADS_3

Pagi hari Ichy pamit pergi TK pada Papi dan Bundanya. Qonita masih berbaring di tempat tidur.


"Hati-hati, Sayang. Semangat belajarnya, ya," ucap Qonita sambil mengulurkan tangannya, Ichy mencium tangan bundanya.


"Iya, Bun. Bunda cepat sembuh, ya." Ichy memeluk Bundanya dengan merebahkan badannya di atas tubuh Qonita. Qonita balas memeluk Ichy.


"Kasih ama Mang Adi ya, Sayang. Ini surat sakit, Bunda. Nanti Mang Adi antar ke sekolah Bunda setelah antar Kamu TK." Iman menyerahkan sebuah amplop pada Ichy.


"Iya, Pi." Ichy mencium tangan Papinya.


Fuad dan Nabil yang ikut mengantar Ichy juga mencium tangan Papi dan Bundanya.


"Kami pergi ya Bun, Pi. Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam, Sayang."


"Abang kog belum siap-siap?" tanya Qonita pada suaminya karena masih menggunakan celana pendek dan kaos oblong.


"Istriku gak ngantor ya Aku ikutan juga, Sayang." Iman menyeringai.


"Qonita gak apa, Bang. Abang kerja aja, ya. Kasihan bang Jamal."


"Astagfirullah, Sayang. Aku khawatirin Kamu, eh Kamu malah khawatirin asisten ku. Dimana harga diriku, Sayang." Iman memperlihatkan wajah berpura-puranya.

__ADS_1


"Masalahnya udah 3 hari Abang gak ke kantor."


"Sebulan gak ke kantor juga gak apa, Sayang. Gak akan ada yang marahin Aku. Paling papa. Tapi kalau papa tau Aku nemani mantunya yang lagi sakit, papa pasti malah bangga sama Aku." Iman tersenyum smirk.


"Terserah Pak Bos Suami aja lah." Qonita menyerah berdebat dengan suaminya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Iman lembut.


"Ha? Kan lagi sakit."


"Sakit kenapa?"


"Ya sakit demam, Bang."


"Kamu lagi ada fikiran? Cerita ama Aku, Sayang."


"Kog Abang nanyak gitu?"


"Aku ngerasa Kamu kayak lagi ada masalah, Sayang. Jangan dipendam sendiri."


Qonita terkekeh kecil. "Selama masih hidup ya akan selalu ada masalah, Bang."


"Bener, Aku maunya Kamu bagi ke Aku masalahnya, Sayang. Biar beban Kamu jadi ringan."

__ADS_1


"Qonita gak apa-apa kog, Bang." Qonita tersenyum kecil.


"Apa karena cerita temanmu yang suaminya selingkuh, Sayang?" Iman menatap dalam ke mata Qonita.


Iman memang sengaja bertanya seperti itu, dia meyakini sesuatu terjadi pada Qonita. Tetapi dia tidak bisa memastikan apa itu. Dan dari pertanyaan itu, dia ingin mendapat gambaran, apa kekhawatirannya terbukti benar.


"Apa yang Abang khawatirkan?" tanya Qonita agar suaminya mengungkapkan sesuatu.


"Kamu, Sayang. Aku mengkhawatirkan dirimu, perasaanmu," ujar Iman pasti.


Qonita terdiam. Lalu mengangguk.


"Teman-teman cerita maraknya perselingkuhan. Qonita pernah gagal karena permasalahan yang sama. Sementara Abang ada diluar sana. Qonita gak tau Abang bersama siapa dan berbuat apa. Qonita...." Qonita tak mampu melanjutkan ucapannya, air matanya meluluh lantakkan kekuatannya, bibirnya bergetar menahan agar ia dapat mengatur emosinya.


Iman menarik Qonita dalam pelukannya. Ia dekap istrinya yang sedang menangis senggugukan itu. Membelai rambutnya yang tergerai hingga ke pinggang.


"Lepaskan, Sayang. Keluarin semua apa yang Kamu rasakan. Aku siap mendengar semua resahmu, wahai pemilik hatiku." Iman berucap dengan sangat lembut.


Qonita sudah tidak terisak. Mendengar kata-kata suaminya serta merasakan hangatnya dekapan hangat suaminya membuatnya takut kehilangan. Kehilangan cinta, perhatian serta perlakuan romantis suaminya.


"Qonita takut kehilangan kebahagian yang selama ini ada dalam keluarga kita. Qonita takut anak-anak akan kecewa dan sedih lagi. Qonita juga gak mau kehilangan Abang dan Ichy. Qonita juga..."


"Hust." Iman mengurai pelukannya. Menangkup wajah Qonita yang terasa hangat dengan tangan dinginnya.

__ADS_1


"Kamu gak kan pernah kehilangan Aku, Sayang. Aku milikmu. Aku dan segala tentangku punya-mu, Sayang. Kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan. Hingga akhir hidupku, namamu akan selalu terukir di hatiku, di setiap hembusan nafasku, di setiap detakan jantungku, dan di seluruh aliran darahku."


❤️❤️❤️


__ADS_2