PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 165 Memohon Restu


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


"Gimana masalah rumah Kamu itu, Sayang?" tanya Iman pada istrinya.


Mereka sedang berdua di dalam kamar. Iman sengaja berpura-pura bertanya, dia ingin melihat reaksi istrinya. Dia sendiri tidak ingin menceritakan pada istrinya perihal kedatangan mantan suaminya ke kantor Iman.


"Qonita gak tau, Bang. Gak ada kabar terbaru. Baguslah Bang, dia gak ada nanyak ke Qonita lagi," seru Qonita.


"Mana tau dia lagi persiapan buat lapor ke hukum gimana, Sayang?" Iman ingin tau reaksi istrinya.


"Ya kita ikutin aja alurnya, Bang. Mau gimana lagi? Tapi kayaknya nggak bakal deh, Bang," sahut Qonita.


"Kalau seandainya dia datangi Kamu lagi ke sekolah, gimana?" tanya Iman.


"Ntar Qonita suruh aja buat ngelaporin ke pihak yang berwenang. Qonita males banget berurusan lagi sama dia," ungkap Qonita.


"Kalau seandainya dia datangi Kamu lagi, Kamu cari tempat yang ramai ya, Sayang. Trus sebisa mungkin menghindar dan gak buat sakit hati dia. Aku gak mau dia nekat ngapa-ngapain Kamu," ucap Iman khawatir.


"Iya, Bang." Qonita tersenyum pada suaminya. Dia merasa senang karena suaminya tampak sangat perhatian padanya.


"Sayang, nanti kalau Kamu melahirkan mau pakai berapa baby sitter?" tanya Iman.

__ADS_1


"Nambah pengasuh lagi ya, Bang?" tanya Qonita balik.


"Ya terserah Kamu, Sayang. Kamu butuhnya berapa orang? Kalau butuh 2 biar kita cari. Kalau bisa sebelum Kamu melahirkan, dia udah bekerja dulu dengan kita. Biar dia paham maunya Kamu nanti gimana dan dia udah tahu gimana lingkungan di rumah kita," imbuh Iman.


"Kalau nambah 1 sepertinya udah cukup, Bang. Vivi kan ada, Nurul juga ada, Alhamdulillah sekarang Ichy udah makin pintar dan mandiri. Jadi nanti Nurul bisa bantu jaga si kembar." Nurul adalah orang yang selama ini membantu Ichy mengurus keperluan dan perlengkapannya.


"Ya udah, nanti Aku minta tolong mama yang carikan, ya. Biasanya mama yang selama ini mencarikannya," ujar Iman.


"Jangan bilang sekarang Bang, terlalu cepat. Ini bahkan kehamilan Qonita masih di tri semester kedua," ungkap Qonita.


"Gak apa, Sayang. Cari dari sekarang juga gak apa, masuknya nanti, sebulan sebelum Kamu melahirkan," seru Iman.


"Oh gitu, Bang. Iya cari orang yang bagus sekarang ini susah ya, Bang. Moga aja dapat yang bagus kayak Vivi, yang sayang dan telaten jaga anak kita nanti, Aamiin," ujar Qonita.


❤️❤️❤️


Jakarta


Agil dan Mayang membahas sebentar tentang pernikahan mereka. Mereka sudah bersepakat akan langsung membicarakannya dengan kedua orang tua Mayang.


Mayang diantar supirnya Agil menjemput Yuna pulang sekolah, lalu pulang ke rumah papanya. Tadi Agil mengatakan, pulang bekerja Agil akan menyinggahi rumah Pak Erlangga untuk meminta restu menikahi Mayang.

__ADS_1


Agil tiba di rumah Pak Erlangga. Sudah ada kedua orang tua Mayang di ruang tamu. Bahkan abangnya Mayang pun ada disana. Sepertinya Mayang sudah menyampaikan pada keluarganya.


Agil pun menyalam kedua orang tua Mayang dan Abangnya. Agil dipersilahkan duduk. Tidak lama minuman sudah dibawa Mayang untuk mereka.


"Jadi maksud kedatangan Saya kesini adalah untuk melamar Mayang Pak. Semoga Bapak dapat mengizinkan Saya untuk segera menikahi Mayang." Agil menatap Pak Erlangga.


Pak Erlangga manggut-manggut. Sejujurnya inilah yang keluarga Mayang harapkan. Sedari dulu mereka ingin menjodohkan Mayang dan Agil.


"Mayang sudah mengatakan kepada Kami, bahwa dia setuju untuk menikah dengan Kamu. Sepanjang pengetahuan Kami tentang Kamu, Kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab, Kamu juga sayang pada Mayang dan Yuna.


"Mayang sudah mengatakan kepada Kami, bahwa dia setuju untuk menikah dengan Kamu. Sepanjang pengetahuan Kami tentang Kamu, Kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab, Kamu juga sayang pada Mayang dan Yuna. Untuk itu, Saya memberi restu untuk kalian berdua," ujar Pak Erlangga.


"Alhamdulillah. Kalau begitu kapan orang tua Saya bisa datang kesini, Pak? Kebetulan orang tua Saya sedang ada di Jakarta," ungkap Agil.


"Hari Sabtu ini saja, gimana Pa?" Abang Mayang memberi solusi.


"Papa setuju saja, Gimana Mayang, Ma?" Pak Erlangga bertanya pada putri dan istrinya.


"Mama setuju," ujar Bu Irma.


"Kamu gimana Mayang, setuju?" tanya pak Erlangga.

__ADS_1


"Setuju, Pa," jawan Mayang.


❤️❤️❤️


__ADS_2