PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 73 Yang Terbaik Untuk Semua


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


"Bunda, kog lama pulangnya?" tanya Ichy pada Qonita, setelah Qonita tiba di rumah 5 menit sebelum adzan magrib berkumandang.


Qonita masih bersyukur ia dapat memenuhi permintaan suaminya untuk pulang sebelum magrib. Ketiga anaknya sudah mengelilinginya.


"Gak enak gak ada Bunda dan Papi. Jadi sepi," keluh Fuad dengan wajah cemberut. "Kapan Papi pulang, Bun?"


"Mungkin besok, Sayang. Fuad rindu sama papi?" tanya Qonita.


"Iya, Bun. Mau main ama papi," ucap Fuad.


"Adek juga, rindu papi." Nabil tak mau kalah, turut berucap yang sama seperti abangnya.


"Sabar ya, Sayang. InsyaAllah papi besok pulang." Qonita terdiam dengan wajah datar.


Setelah menikah dengan Iman, kedua anak lelakinya itu memang sangat dekat dengan Iman. Bahkan dengan opa Pras. Opa Pras sangat suka mengajak mereka jalan-jalan.


Dan yang paling Qonita fikirkan adalah bagaimana mungkin anaknya menanyakan papinya dan mengatakan rindu. Karena sebelumnya anaknya tak pernah mempertanyakan ayah kandung mereka jika ayahnya tidak pulang, dulu. "Apa karena dulu mereka masih kecil?" Batin Qonita.


"Nanti kalau Papi keluar kota lagi, Abang boleh ikut gak, Bun?" tanya Fuad.


"Ha? Kan Papi mau kerja, Sayang. Bukan jalan-jalan."

__ADS_1


"Ya Allah, bagaimana jika sesuatu terjadi dengan pernikahanku. Bagaimana dengan anak-anak. Apa mereka bisa terima? Mereka sangat dekat dengan Abang." Mata Qonita kembali berair. Tetapi dia harus kuat. Jangan sampai anak-anak dan yang lain melihatnya menangis.


"Bunda mandi dulu ya, Sayang." Qonita pamit pada anak-anaknya dan meminta Vivi mengajak anak-anak untuk sholat magrib bersama.


Walau Fuad dan Nabil belum sholat dengan sempurna, tetapi mereka tetap diajarkan untuk sholat. Agar kelak terbiasa melaksanakan sholat lima waktu.


Qonita menunaikan Sholat Magrib di kamarnya. Di atas sajadah itu, ia tumpahkan kesedihannya.


"Ya Allah, tolonglah kami dan jangan Engkau biarkan kami, menangkanlah kami dan jangan Engkau sia-siakan kami, tunjukkanlah kami serta mudahkanlah kami menerima petunjuk-Mu. Ya Allah tuntunlah hati kami, baguskan dan benarkanlah lisan kami, teguhkanlah pendirian kami, dan enyahkanlah kedengkian yang ada di hati kami."


"Ya Allah, Engkau Maha mengetahui mana yang terbaik untuk hamba dan anak-anak, tunjuki hamba jalan lurusMu. Jalan terbaik yang harus hamba pilih."


“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan."


Tadi Qonita meminta agar pulang saja pada ketiga temannya. Ia tidak ingin mengambil keputusan disaat hati sedang marah dan kecewa. Ia harus dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Karena saat hati dikuasai rasa amarah, maka hal buruk mungkin saja bisa terjadi.


Qonita berusaha mengingat awal mula perkenalannya dengan Iman. Hingga ia akhirnya mengingat kalimat demi kalimat Iman yang sesungguhnya sudah menggambarkan keadaan yang sebenarnya namun ia tidak menyadarinya.


"Setelah Kamu, gak akan ada perempuan lain, Sayang. Kamu yang terakhir. Kamu bisa pegang kata-kata Aku. Aku janji."


Ucapan suaminya itu terngiang-ngiang di fikiran Qonita. Baru sekarang Qonita sadar akan kalimat yang didengungkan suaminya itu. 'Kamu yang terakhir', mungkin benar jika Qonita yang terakhir, tetapi bukan hanya dia satu-satunya, masih ada perempuan lain.


Memikirkan ucapan suaminya itu menambah luka di hati Qonita. Kenapa baru sekarang ia mengetahui semuanya.

__ADS_1


"Sama berapa banyak perempuan?"


"Cuma satu, Sayang. Pacar Aku, dulu."


"Mayang?"


Itu percapakapan mereka setelah pulang dari rumah udak Zardi. Qonita menanyakan sama siapa saja Iman pernah berc!uman.


Qonita juga menanyakan apa pernah suaminya berhubungan badan selama ia menduda.


"Nggak pernah, Sayang. Selain sama istriku, Aku gak pernah melakukannya sama perempuan lain." Iman menjawab dengan menatap lekat mata Qonita, menunjukkan kesungguhannya.


Suaminya mungkin tidak berbohong. Hanya saja, tentu saja ia melakukan hubungan suami istri setelah Jihan meninggal, drngan Mayang. Hanya saja Mayang itu adalah istrinya. Benar suaminya tidak berbohong, selain bersama istrinya, Iman tidak pernah melakukannya pada perempuan lain.


Qonita menghela nafas berat. Ia pernah gagal mempertahankan rumah tangganya. Baru delapan bulan ia menikah, dan sekarang ia mendapati kenyataan yang begitu menyakitkan.


Suaminya mempunyai istri selain dia. Bahkan suaminya memiliki anak selain Ichy. Apa bisa ia menyayangi anak itu seperti ia menyayangi Ichy?


Qonita menggeleng. "Kenapa, kenapa harus hamba, Ya Allah." Qonita kembali menangis.


"Bunda. Kog belum keluar juga?"


"Bunda. Kog gak makan?"

__ADS_1


"Bunda, Bunda."


Terdengar teriakan ketiga anaknya di depan pintu kamarnya.


__ADS_2