PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 134 Mayang dan Agil


__ADS_3

Malam hari Iman dan Qonita ada di kamar yang sudah disiapkan Mayang untuk mereka.


"Capek, Sayang?" tanya Iman pada istrinya. "Aku pijat lagi, ya."


"Nggak usah, Bang. Elus perut aja, anaknya rindu," ujar Qonita manja sambil tersenyum.


Iman pun langsung mengelus perut Qonita.


"Elus yang lain juga ya, Sayang. Biar adil. Dengan senang hati Aku melakukannya."


Tangan Iman sudah naik ke atas, menuju bagian s3ns1 t1f Qonita.


"Biar sekalian Aku kunjungi aja kedua anak kita, Sayang. Mereka pasti senang."


Qonita mencebik. "Abang mau gitu aja pakai alasan anaknya yang senang."


"Lho ya iya, Sayang. Anak kita pasti senang. Apalagi bundanya. Ya, kan?"


Qonita terkekeh dibuat suaminya. Ingin menolak perkataan suaminya, tapi sayang, apa yang dikatakan Iman benar semua.


Entah mengapa, belakangan ini Qonita memang senang jika berhubungan suami istri dengan suaminya. Disentuh sedikit saja, keinginannya langsung timbul untuk melakukannya.


Dan sayangnya suaminya mengetahui hal itu. Entah harus bersyukur atau harus merasa malu. Qonita sudah tidak perduli, toh melakukannya termasuk ibadah.


"Anggap aja kita kesini buat bulan madu, Sayang. Nikmatinlah apa yang Allah kasih ke kita. Ya gak, Sayang?"


"Emph, gimana menurut Abang aja. Qonita ikut." Badan Qonita mulai meliuk-liuk akibat tangan suaminya yang menggerayangi tubuhnya.


Qonita menggigit bibirnya, menahan suara er0 tis yang akan keluar karena rasa n1k m4t yang diberikan suaminya.


"Kenapa ditahan, Sayang? Keluarin aja." Iman mengetahui istrinya menahan gejolak yang dirasakannya. Dia memang sangat lihai menerbangkan istrinya ke awan-awan.


"Kamarnya gempetan, Bang. Nanti kedengaran. Udah diundang malah buat rusuh." Qonita khawatir suaranya terdengar oleh kamar disebelahnya.

__ADS_1


"Yang disebelah kamar adiknya Mayang. Hajar aja, Sayang. Paling dia lagi diluar jalan-jalan." Kamar mereka posisinya di ujung, hanya berdampingan dengan 1 kamar saja.


"Kluarin aja, Sayang. Kita n1k matin malam ini sampe puas." Iman berbisik di telinga istrinya, menambah sensasi geli yang dirasakan Qonita.


"Ahh..." Qonita akhirnya melepaskan jeritannya.


❤️❤️❤️


Mayang POV


Aku memang sengaja menyimpan nomor Qonita saat melihat fotonya dari HP Iman dulu.


Dan ternyata berguna, bukan. Aku bisa menghubunginya agar Iman bisa datang kesini.


Aku memang sengaja memaksa Iman datang. Yang pertama demi Yuna, anakku. Yang kedua, agar dia melihat bagaimana Mas Agil menyukaiku. Aku memanfaatkan situasi ini untuk memperlihatkan padanya, bahwa Aku, istri yang dicampakkannya, bisa mendapatkan cinta dari laki-laki hebat dalam waktu singkat.


Mas Agil menghubungiku saat Aku sudah di kamar. Dia mengajak Aku keluar malam untuk berjalan-jalan. Mas Agil juga mengatakan agar mengajak Iman dan juga Qonita biar ramai. Aku terpaksa menitipkan Yuna di kamar Papa dan Mama. Sedangkan Rangga bersama baby sitternya.


Aku dan Mas Agil berjalan menuju kamar Iman. Kami terkejut begitu sampai di depan kamarnya.


Mas Agil menarik tanganku, menjauh dari kamar Iman.


"Masa' iya kita berdiri disitu terus," ucap mas Agil tersenyum menyeringai. "Kalau pengen kita belum boleh kayak yang mereka lakukan. Kalau bisanya seh ya bisa kalau Kamu mau."


"Ck, Mas." Aku memberengut kesal pada mas Agil.


"Hahaha..." Dia malah tertawa. "Begitu masa iddah Kamu selesai, kita nikah ya, Aku udah lama banget gak merasakan kayak mereka tadi."


Langsung kutinggalkan saja mas Agil karena kesal. Eh dia malah tertawa lagi.


Mas Agil mengejarku. Aku dan mas Agil akhirnya pergi berdua saja.


Setelah berkeliling menikmati malam, kami akhirnya memutuskan kembali ke penginapan. Selama berjalan-jalan dengan mas Agil, dia membuatku merasa nyaman. Perlakuannya sangat menyenangkan. Sebagai perempuan single, Aku gak bisa menolak pesonanya.

__ADS_1


Mas Agil memarkirkan mobilnya. Dia menahan tanganku ketika Aku mau turun.


"Ada apa, Mas?" tanyaku.


"Mayang, Aku benar-benar menyukaimu. Mau kan menjadi istriku dan mama untuk Rangga?" Mas Agil menatap lekat mataku.


Aku pun menatap dalam wajahnya. Baru Aku sadari ternyata Mas Agil seganteng ini. Walau keadaannya gelap, tapi Aku bisa melihat ukiran indah wajahnya. Hidung yang mancung, bibir yang tebal, manis seperti Rangga jika tersenyum.


Entah bagaimana caranya, wajah mas Agil sudah berada tepat di depan wajahku. Dia menunduk mendekatiku. Secara spontan Aku memejamkan mataku.


Cvp


Dia mengecvp bibirku.


"Aku mencintaimu." Suaranya terdengar parau.


Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku diam. Namun dia mulai mendekati wajahku lagi. Lagi-lagi Aku memejamkan mataku.


Aku terkejut bagai tersengat listrik kala Aku merasakan bibirku dilv m4t olehnya. Basah. Dia benar-benar mengeksplor ke dalam mulutku.


Suasana sepi dan dingin membuatku ikut terhanyut dalam buaian bibir dan lidahnya. Ditambah lagi tangannya turun dari wajahku ke leher, lalu lengan hingga sampai ke telapak tanganku.


Digenggamnya jemariku. Tautan jemarinya di jemariku semakin kuat saat dia memperdalam c1 umannya.


"Im." Tanpa sadar Aku malah menyebut nama Iman saat dia melepas c1 umannya.


Aku dan mas Agil sama-sama terkejut.


"Maaf, Mas." Aku merasa sangat bersalah.


Mas Agil tersenyum. "Gak apa. Aku tahu Kamu butuh waktu. Aku akan menunggu."


Mas Agil mengelus pipiku dengan kelima jarinya. Lalu dia mengecvp dahiku.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2