PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 84 Mari Ulangi Lagi


__ADS_3

Selesai makan batagor bersama Iman dan Jamal, Qonita hendak pulang namun Iman melarangnya.


Iman mengatakan mereka akan pulang bersama. Sepeda motor Qonita nanti akan dibawa supir kantor.


Jamal yang mengetahui niat lain bosnya permisi beranjak keluar. Iman menatap istrinya sambil tersenyum-senyum. Qonita yang mengetahui keinginan suaminya menelan ludahnya.


Qonita memang sudah memperkirakan kemungkinan ini terjadi, sehingga dia menyempatkan menyemprotkan wewangian di sekolahnya sebelum berangkat ke kantor suaminya.


Iman mendekati istrinya, menc!um bibir istrinya lembut. Qonita belum membalas, hanya menerima perlakuan suaminya saja. Iman kembali mendaratkan c!umannya, kali ini lebih dalam dan lama. Saat hendak kembali mengulang, Qonita menahan dada suaminya.


"Abang bukannya lagi banyak kerja?" tanya Qonita pada suaminya.


Iman tersenyum. "Lagi gak ada, Sayang. Makanya mau ngerjain Kamu aja." Iman mengerling dengan senyum menggoda.


Seketika wajah Qonita memerah. Ia menunduk sambil menahan senyum.


"Yuk, Sayang." Iman menggenggam jari istrinya, menuntunnya ke arah ruangan istirahat Iman.


Setelah memasuki ruang itu serta mengunci pintunya, Iman meminta istrinya membuka jilbabnya.


"Buka, Sayang," pinta Iman. "Banyak jarumnya. Aku takut ada yang terlupa."


Qonita tersenyum mendengar kalimat suaminya. Dia pun membuka jarum serta bros yang digunakan pada jilbabnya itu, lalu membuka jilbab coklatnya itu.


Iman lalu menenggelamkan wajahnya pada leher istrinya. Ia menghirup aroma lembut itu.


"Wangi, Sayang." Iman semakin menggesek-gesekkan hidungnya pada permukaan kulit leher istrinya.

__ADS_1


"Kita main panas ya," ucap Iman tersenyum nakal.


"Ha? Maksudnya?"


"Dont talk baby. Enjoy." Iman pun melanjutkan aksinya.


❤️❤️❤️


"Assalamu'alaikum." Iman dan Qonita memasuki rumah mereka bersama.


"Wa'alaikum salam," ucap ketiga anak mereka.


"Kog Bunda lama pulangnya?" tanya Ichy pada Qonita. Karena biasanya Bunda akan pulang lebih awal dibanding Papinya.


"Kog bareng sama Papi? Janjian ya, Pi?" tanya Fuad heran.


Iman dan Qonita memeluk anak-anaknya setelah anaknya mencium tangan mereka.


"Anak-anak Papi udah pada ganteng dan cantik. Udah pada mandi ya?" tanya Iman basa-basi pada anak-anaknya.


"Udah donk, Pi," ucap Nabil menggemaskan.


"Kalau gitu giliran Papi dan Bunda yang mandi ya, biar kita sama wanginya," seru Iman.


"Oke, Pi," sahut Ichy, Fuad dan Nabil.


"Sebentar ya, Sayang," ucap Qonita pada anak-anaknya.

__ADS_1


"Iya, Bun."


Iman dan Qonita pun beranjak ke kamar mereka.


"Mandi bareng ya, Sayang. Kita udah lama gak ngelakuin sunnah Rasul yang satu ini, kan? Biar lengkap ama yang tadi." Iman tersenyum sexy.


"Mandi aja kan, Bang?" tanya Qonita memicingkan matanya.


"Lho, ya iya donk, Sayang. Di kamar mandi ya mau mandi lah." Iman tersenyum lebar.


"Kog kayaknya wajah Abang mencurigakan banget," selidik Qonita.


"Hahaha... Tugas utamanya mandi, Sayang. Tugas tambahannya nyenengin, Kamu." Iman tersenyum nakal.


"Abang gak capek, apa?" tanya Qonita heran.


"Wah, Kamu nantangin Aku, Sayang?" Apa harus kubuktikan seberapa tangguhnya Aku? Bisa-bisa kita gak keluar dari kamar ini, Sayang. Kalau gitu, Aku buktiin aja, ya." Iman tersenyum menaikkan sebelah bibirnya.


"Nggak. Qonita gak mau. Qonita mandi di kamar mandi lain aja." Qonita segera menjauh dari suaminya namun lekas ditahan Iman.


"Eits. No no no. Kali ini Kamu gak bisa lari, Sayang." Iman mengangkat tubuh Qonita dengan cara memeluknya dari belakang.


Iman bawa masuk istrinya itu ke kamar mandi, guna membuktikan sekuat apa tubuhnya walau satu harian dia sudah bekerja ditambah kerja sampingan melahap tubuh istrinya tadi.


"Aku suka suara er4nganmu saat Aku mencicipi setiap inchi tubuhmu, Sayang. Itu sungguh membuat gairahku bangkit." Iman pun langsung mengeksekusi istrinya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2