
..."Jika terlihat rumit lupakanlah. Sebab Cinta selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana, kesetiaan yang tak menuntut apapun dan keindahan yang apa adanya.”...
... Tere Liye...
Binjai, Sumatera Utara
Bel rumah Mayang berbunyi. Mayang dan Yuna yang sedang menonton TV saling melirik.
"Papi pulang ya, Mi?" tanya Yuna pada maminya.
"Coba Mami lihat ya, Sayang." Mayang tidak yakin jika Iman yang datang. Karena biasanya suaminya itu datang di pagi atau siang hari.
Mayang membuka pintu. Betapa dia terkejut melihat seorang perempuan yang sangat dia kenali datang bersama perempuan lain yang usianya dibawahnya.
"Mama," ucap Mayang kaget. Sudah hampir 8 tahun lamanya dia tidak pernah lagi berjumpa dengan ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya.
Mayang bersujud di kaki mamanya. Cobaan kehidupannya selama ini mengingatkannya atas kesalahannya pada orang tuanya.
Apalagi saat melahirkan Yuna. Rasa sakit yang dia rasakan luar biasa hebatnya. Tanpa didampingi oleh mama maupun mama mertuanya, membuat rasa sakitnya semakin menjadi.
"Maafin Mayang, Ma." Mayang menangis memeluk kaki mamanya.
"Bangun, Sayang. Putri Mama, Mama sangat merindukan Kamu, Nak." Mamanya memeluk Mayang.
"Ini siapa?" tanya Mayang menunjuk orang yang datang bersama Bu Irma.
"Kakak udah lupa sama Wiwied?" tanya Wiwied sedih.
"Wiwied? Kamu makin cantik, aja. Kamu diet?" tanya Mayang karena dulu tubuh Wiwied tergolong gendut.
"Iya lah Kak, biar cantik kayak Kak Mayang." Wiwied cengengesan.
"Ayo masuk Ma, Wied." Mayang mengajak Yuna dan Wiwied masuk.
"Papi yang datang ya, Mi?" Yuna berlari menuju ruang tamu. "Eh, kirain Papi," seru Yuna karena melihat dua orang perempuan yang duduk di ruang tamu.
"Siapa ini, Yang?" tanya Bu Irma pada anaknya.
__ADS_1
"Anak Mayang, Ma. Yuna, ini kenalin Oma Irma Sayang," ujar Mayang.
"Cantik banget Cucu Oma." Bu Irma memeluk Yuna penuh haru. Dia teringat saat Mayang masih kecil, persis seperti Yuna.
"Mami bilang Oma tinggalnya jauh. Kog bisa kesini?" tanya Yuna pada maminya.
"Iya, Sayang. Oma kan pengen ketemu sama cucu Oma. Yuna senang gak ketemu Oma?" tanya Bu Irma.
"Seneng kog, Oma. Yang ini siapa, Oma?" tanya Yuna menunjuk Wiwied.
"Tante Wiwied. Sepupunya Mami Kamu, Sayang."
"Ohh. Ternyata saudara kita ada juga ya, Mi." Yuna berucap senang. Karena selama ini yang dia tahu keluarganya cuma Om Jamal saja.
Mayang terdiam mendengarnya. Sementara Bu Irma hanya mengernyit.
"Oma boleh gak ngomong berdua dulu sama Mami Kamu, Sayang?" tanya oma Irma pada Yuna.
"Boleh, Oma. Tante Wiwied mau main sama Yuna?"
"Boleh. Yuk kita main," ajak Wiwied. Mereka pun pergi ke arah dalam.
"Mama tahu dari mana kalau Mayang tinggal disini?" tanya Mayang pada mamanya.
"Mama ketemu Iman. Dia bersama perempuan lain."
Deg
Mayang terkejut mendengarnya.
"Ceritakan pada Mama, Yang. Bukankah Kamu bilang Kamu akan menikah dengan Iman?" desak Bu Irma.
Mayang mengangguk.
"Lalu siapa perempuan berhijab itu? Kenapa Iman menci umnya?" cecar Bu Irma.
Mayang menatap sedih mamanya.
__ADS_1
"Ceritakan, Nak. Bagaimana kehidupan Kamu selama ini?" ucap Bu Irma sedih.
"Kami hanya menikah siri, Ma?" Setetes air mata Mayang jatuh.
"Apa?" Bu Irma menangis mendengarnya. "Bagaimana bisa, Yang?" Bu Irma tersedu.
"Iman udah janji pada papinya akan menikahi Jihan, Ma."
"Perempuan yang bersamanya itu?" tanya Bu Irma.
"Bukan Ma. Itu Qonita, istri sah Iman yang sekarang. Jihan udah meninggal."
"Apa? Ya Allah, kenapa nasib Kamu seperti ini, Yang?" Bu Irma terisak mendengar cerita putrinya.
"Lalu kenapa Kamu mau hanya dinikahi siri? Bukannya Iman itu pacar Kamu? Dan kenapa Kamu membiarkan Iman menikah dengan perempuan lain?"
"Kami udah putus saat itu, Ma. Saat Mayang kabur dari rumah, ternyata Iman sudah bersedia menikah dengan Jihan. Iman gak nerima Mayang, Ma. Mayang diantar pulang ke rumah kita. Tapi mama sama papa udah gak ada. Dan kata satpam, nama Mayang udah dicoret dari KK." Mayang mengusap air matanya.
"Mayang..." Bu Irma memeluk anaknya sambil terisak. Tidak tega mendengar kisah menyedihkan putrinya itu.
"Kami memang pergi, Yang. Kami pikir Kamu menikah dan bahagia dengan Iman. Kalau tahu begini, Mama gak akan biarkan Kamu menikah dengannya, Yang. Keluarganya gak ada yang tahu tentang Kamu?"
Mayang menggeleng.
"Dia bagi adil waktu untuk Kamu dan istrinya?"
Mayang kembali menggeleng
"Jadi kenapa Kamu bertahan selama ini, Nak?" tanya Bu Irma pilu.
"Cuma Iman yang Qonita punya, Ma," ucap Mayang lirih.
"Anak Kamu ada berapa?" tanya Bu Irma lagi.
"Cuma Yuna, Ma."
"Kalau gitu, kalian ikut Mama pulang, ya. Mama gak ikhlas Kamu seperti ini, Yang," seru Bu Irma.
__ADS_1
"Tapi, Ma..."
❤️❤️❤️