
..."Cintai Keluargamu. Luangkan Waktu, Bersikap Baik Serta Melayanilah Satu Sama Lain. Jangan Beri Ruang Untuk Penyesalan. Sebab Hari Esok Belum Tentu Ada Dan Hari Ini Sangatlah Singkat."...
Dua minggu sudah berlalu. Iman dan Qonita semakin romantis saja. Iman tidak berfikir sama sekali bahwa istrinya mengetahui fakta tentang yang selama ini dia sembunyikan.
Sementara Qonita berusaha untuk tidak mengingat-ingat fakta yang menyakitkan tentang suaminya itu. Lebih baik fokus pada kebahagiaan keluarga besarnya dan menikmati perasaan yang menyenangkan ini.
Mereka menjalankan aktivitas seperti biasa. Mengunjungi oma dan nenek bergantian. Anak-anak senantiasa terlihat bahagia. Itu semua sudah cukup bagi Qonita. Kebahagian keluarga, itulah harapannya.
Qonita terhenyak saat membaca sebuah berita di layar HP nya. Dia melihat sebuah berita yang sedang viral. Pernikahan kedua diam-diam yang dilakukan oleh seorang public figure.
Qonita tidak ingin membaca tentang komenan negatif dari pada netizen. Dia membuka halaman yang berkaitan dengan ajaran agama.
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 129).
"Astagfirullah," ucap Qonita setelah membaca terjemahan tersebut. "Bagaimana dengan Abang? Selama ini Abang jelas tidak berlaku adil dalam jatah bermalam. Mungkin tentang keuangan Abang bisa berbuat adil. Aku gak mau Abang menanggung dosa yang lebih banyak lagi."
❤️❤️❤️
"Sayang, Aku mau memanjakanmu lagi. Memberi kepuasan padamu seperti dua hari yang lalu. Mendengar d3sahanmu memberi semangat untukku. Ayo kita ulangi lagi," racau Iman di telinga Qonita sambil tangannya sudah menjalar kemana-mana.
Qonita sudah meremang dibuatnya. Tangannya sudah meremas kuat apa yang didapatnya. Entah itu seprei, baju atau bahkan tubuh suaminya.
__ADS_1
Qonita membiarkan suaminya bermain dengan puasnya. Sesekali ia membalas melakukan hal yang sama untuk mengimbangi permainan suaminya. Dalam sebuah permainan, tentu ada saling membalas bukan, tidak mungkin dari awal kalah telak tanpa ada perlawanan.
"Sayang," jerit Iman saat selesai menuntaskan misinya.
"Abang," Qonita pun berteriak saat tubuhnya bergetar hebat.
Setelah beristirahat sebentar dalam pelukan suaminya, Qonita menatap wajah suaminya. Iman menoleh pada istrinya.
"Kenapa Sayang, mau lagi," goda Iman dengan senyuman khasnya. Qonita mencubit perut suaminya.
"Abang, kenapa gak pernah keluar kota lagi?" tanya Qonita sambil memembaringkan badannya di dada suaminya. Ia dapat melihat jelas wajah suaminya kini, karena mereka saling berhadapan.
"Kalau Abang mau keluar kota, gak apa. Pergi aja. Qonita bisa ngerti pekerjaan Abang."
"Tumben banget malah nawarin, Sayang. Biasa Aku tinggal, udah mewek, aja." Iman mencebikkan bibirnya menggoda istrinya.
"Qonita mau Abang itu tetap bersikap profesional. Memprioritaskan kami, keluarga Abang, serta mengutamakan pekerjaan Abang." Qonita tersenyum mengutarakan pendapatnya.
"Aku khawatir, Sayang. Beberapa kali Aku tinggal Kamu keluar kota, ada aja kejadian setelahnya. Aku gak mau Kamu kenapa-kenapa." Iman mencubit manja dagu istrinya.
"Hahaha... Itu kan kebetulan aja, Bang. Qonita ikhlas kalau Abang mau keluar kota. Qonita ngerti kog, tanggung jawab Abang bukan hanya pada kami. Tapi pada pekerjaan Abang juga."
__ADS_1
"Jamal udah ngeluh ke Aku seh, Sayang. Sejauh ini sebenarnya dia bisa handle. Tapi Aku juga kasian kalau numpahin semua beban ke dia. Beneran Kamu gak apa Aku tinggal?"
Qonita mengangguk yakin. "Iya, Bang. Asal Abang harus ada waktu hubungin Qonita dan anak-anak. Sama jangan melakukan hal-hal yang dilarang agama."
"Iya, Sayang. Aku juga gak minat melakukan yang kayak gitu. Aku udah bersyukur Allah kasih Aku hadiah seindah Kamu dan anak-anak. Aku gak mau yang lain, kalian udah cukup untuk Aku. Kamu yang terindah, Sayang. Aku mencintaimu dari sini." Iman menunjuk dadanya.
Tangan Qonita meraba dada t3lanjang suaminya itu. Menurunkan jari telunjuknya dari atas ke bawah menelusuri tubuh kekar suaminya.
"Kalau mau nambah, Aku siap kasih, Sayang. Mau berapa ronde lagi?" tanya Iman tersenyum jahil.
"Nggak, Qonita mau istirahat." Qonita membalikkan badannya membelakangi suaminya.
"Istiirahatnya bisa setelah satu episode tambahan, Sayang." Iman menggelitiki tubuh istrinya.
Qonita tertawa geli akibat ulah suaminya.
"Ampun, Bang."
❤️❤️❤️
..."Ketika Kamu Benar-Benar Perduli Pada Keluarga, Kebahagiaan Mereka Lebih Penting Dari Pada Kebahagiaanmu."...
__ADS_1