
Medan, Sumatera Utara
Malam hari, Qonita dan Iman sudah berada di kamarnya. Qonita dan Iman sudah berada di tempat tidur. Iman sedang melihat ke layar HP nya entah sedang membaca apa.
"Bang," panggil Qonita.
"Ya, Sayang." Iman melihat ke arah istrinya.
"Lagi sibuk?" tanya Qonita.
Iman tersenyum menyeringai. "Kenapa, pengen?"
"Ha?" Mata Qonita terbelalak.
Qonita yang g4i r4h nya memang meningkat selama hamil, membuat Iman mengira isrinya itu sedang dalam posisi menginginkan.
"Bukan itu, Bang." Bibir Qonita sampai manyun karena merasa malu suaminya mengira dia meminta duluan.
"Jadi apa, hum?" Iman sudah meletakkan HP nya. Badannya sudah miring menghadap ke arah istrinya.
"Tadi pulang sekolah Qonita gak sengaja ketemu sama ayahnya anak-anak." Qonita sengaja menjeda kalimatnya, ingin melihat reaksi suaminya.
"Terus?" tanya Iman menunggu kelanjutan cerita istrinya.
"Ayah mereka bilang mau datang, mau ketemu sama Fuad dan Nabil. Ayah mereka minta alamat rumah kita. Qonita belum kasih, tadi Qonita cuma bilang nanti Qonita kirim via chat aja," ujar Qonita.
"Ya udah kasih aja lah, Sayang. Mereka udah lama kan gak jumpa sama ayahnya. Aku seh sebenarnya pengen nanyak itu udah lama, tapi Aku takut Kamu jadi kefikiran," ujar Iman.
Qonita terkejut. "Mau nanyak apa, Bang?"
"Ya nanyak kenapa ayah mereka gak pernah datang. Udah setahun kita menikah, tetapi sekalipun mereka gak pernah jumpa sama ayahnya. Aku khawatir kalau terlalu lama, takut anak-anak lupa sama ayahnya," ungkap Iman.
"Aku seh gada masalah kalau mereka nantinya berfikir kalau papi mereka cuma Aku. Tapi kan gak adil aja, ayah mereka masih hidup, dekat lagi sama-sama ada di Medan, tapi mereka gak tahu," sambung Iman.
__ADS_1
Qonita membenarkan pernyataan suaminya. Sebenarnya dia tidak ingin anak-anak melupakan ayah mereka, hanya saja dia tidak ingin mantan suaminya itu memanfaatkan mereka. Terlebih Qonita merasa malu pada suaminya.
"Jumpanya di luar aja ya, Bang. Jangan disini," seru Qonita.
"Lho, kenapa Sayang?" tanya Iman heran.
"Qonita khawatir kalau ayah mereka tahu rumah kita, nanti jadi sering datang kesini, Bang," ujar Qonita.
"Ya gak apa lah, Sayang. Gak usah kita batasi," sahut Iman.
"Bukan gitu, Bang. Ayah mereka itu mata duitan. Qonita takut tujuan ayahnya datang bukan cuma untuk menemui Fuad dan Nabil aja," imbuh Qonita sedih.
"Ya udah lah, Sayang. Kasih aja. Yang penting dia gak ganggu Kamu dan anak-anak."
"Tapi Bang, gimana kalau uangnya dipakai untuk yang gak bener?" tanya Qonita tidak setuju dengan pendapat suaminya.
"Itu urusan dia, Sayang. Dia bukan anak kecil yang harus kita atur. Udah, Kamu jangan khawatirin dia lagi." Mata Iman memicing menatap Qonita.
"Qonita bukan khawatirin ayah mereka, tapi Abang. Qonita khawatir Abang akan ditodong terus-terusan," ujar Qonita.
"Ha?" Mata Qonita melotot mendengar perkataan suaminya.
"Kamu pasti akan senang, Sayang. Aku tahu Kamu juga sangat menyukainya." Iman tersenyum menggoda.
Qonita sudah menunduk malu. Mendengar ucapan mesum suaminya saja dia sudah mulai terpancing, apalagi jika suaminya mulai meny3n tuhnya. Otomatis dia akan menikmati perlakuan menyenangkan dari suaminya.
Surga dunia, itulah salah satu nikmat dalam sebuah pernikahan. Apalagi mengerjakannya bisa mendapat pahala.
"Ah." Qonita sudah terbang tinggi dibuat suaminya. Selihai itu memang suaminya untuk memu 4skannya.
❤️❤️❤️
Jakarta
__ADS_1
Papa dan mama Mayang merasa senang melihat hubungan Mayang dan Agil kembali harmonis. Ini adalah kali pertama Agil datang kembali setelah 2 minggu lebih dia tidak pernah datang lagi.
Bersyukur orang tuanya melihat putri semata wayang mereka kini sudah kembali ceria. Bukan hanya Mayang, Yuna cucu mereka juga terlihat sangat senang bisa bermain dengan Agil dan Rangga.
Mungkin kehadiran Agil bisa menggantikan sosok papinya yang sangat jarang bersama Yuna. Begitu pula dengan Rangga, Yuna yang selama ini hanya menjadi anak tunggal tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang adik. Rangga yang memang sangat menggemaskan membuat semua orang sangat menyukainya.
Setelah Agil dan Rangga pulang, mereka masih berkumpul di ruang tengah.
"Yuna suka sama Rangga?" tanya Pak Erlangga pada cucunya.
"Suka donk, Opa. Adek Rangga lucu." Yuna tersenyum mengatakannya.
"Kalau Rangga jadi adeknya Yuna, mau gak?" tanya Pak Erlangga lagi.
Deg
Mayang sudah bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dan tujuan papanya bertanya seperti itu.
"Mau banget donk, Opa. Emang bisa, Opa?" tanya Yuna polos.
"Bisa donk, Sayang," jawab Pak Erlangga.
"Gimana caranya, Opa?" tanya Yuna penasaran.
"Ada caranya. Sekarang Opa tanyak, Yuna suka gak sama Om Agil?" tanya Pak Erlangga.
"Suka, om Agil kan baik, Opa," imbuh Yuna.
"Mau gak kalau om Agil jadi papanya Yuna?" tanya Opa Yuna itu.
Deg
Mayang terkejut mendengar pertanyaan papanya.
__ADS_1
Agil baru saja datang kembali. Memang hubungan mereka sudah kembali membaik. Hanya saja Mayang merasa, papanya terlalu dini mengatakan seperti itu kepada Yuna.
❤️❤️❤️