PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 48 Kantor Suami


__ADS_3

Hari ini, setelah mengantar Ichy TK, Iman beserta istri dan kedua anak laki-laki mereka langsung menuju kantor Iman.


Iman membawa keluarganya bukan karena ada pekerjaan penting yang mendesak. Dia hanya ingin menunjukkan tempat dia mencari pundi-pundi rupiah untuk menghidupi istri dan anak-anaknya itu.


"Selamat pagi Pak, Bu," sapa beberapa karyawan.


"Pagi," jawab Iman. Qonita mengangguk dan memberi senyum pada karyawan Iman itu.


Iman menggandeng istrinya di tangan kirinya, dan Fuad di tangan kanannya. Sementara Nabil berpegangan pada tangan kiri sang bunda.


Iman mengarahkan mereka ke ruang kantornya.


"Pagi, Bos," sapa Jamal.


Iman hanya mengangguk. Ia memperhatikan ruangannya yang semakin nampak kecil akibat penambahan 1 ruang lagi di dalam ruang kerjanya itu.


""Pagi, Bu Bos," sapa Jamal pada Qonita.


"Pagi, Asprinya Bos," balas Qonita. Jamal terkekeh mendengarnya.


"Hai Jagoan," sapa Jamal pada Fuad dan Nabil sambil bertos ria.


"Hai, Om," jawab Fuad dan Nabil.


Sementara Iman sudah memasuki ruang yang baru saja selesai didirikan dalam beberapa hari ini. Ia tampak manggut-manggut melihatnya.


"Ini ruang apa, Bang," tanya Qonita yng baru saja mendekat ke arah pintu kamar kecil itu.


"Ruang kerja untuk Kamu, Sayang." Iman tersenyum genit.


Qonita mengernyit bingung. Dia melihat di dalam ada 1 buat tempat tidur kecil, mungkin tempat tidur itu tempat untuk suaminya beristirahat jika sedang kelelahan.


Lalu mengapa suaminya malah mengatakan ini adalah ruang kerja untuk dirinya. Tidak mungkin kan, suaminya meminta bantuannya, lalu ia akan mengerjakannya di ruangan yang lebih cocok untuk menjadi tempat beristirahat ini.


Jika memang suaminya membutuhkan bantuannya, kenapa tidak dimeja lain atau di sofa saja.


"Abang sering tidur disini?" tanya Qonita.


Iman menggeleng dengan tersenyum penuh arti. Tidak mungkin ia mengatakan kalau dia saja baru melihat ruangan ini.


"Sebentar lagi, Aku akan menberikan pekerjaan untukmu, Sayang," bisik Iman. Iman melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Qonita, lalu mencium pipi kanan istrinya itu.


"Aku kerja, sebentar, ya."


Qonita mengangguk. Iman sudah beranjak meninggalkannya di ruangan itu. Qonita masih berdiri terdiam dengan wajah berkerut menandakan ia sedang memikirkan sesuatu.


Ucapan suaminya, sepertinya mengingatkan ia pada sesuatu. Tapi ia lupa apa itu. Akhirnya Qonita memutuskan untuk keluar dari kamar kecil itu.


Suaminya sudah tampak duduk di kursi kerjanya. Di depannya ada Jamal yang terlihat sedang berbicara sambil menunjukkan ke arah kertas sepertinya sebuah proposal, memberikan penjelasan.


Sementara anak-anaknya duduk di sofa panjang. Ia, mendekati anak-anaknya. Ikut bergabung duduk di sofa panjang itu.


"Mau keliling-keliling gak, Sayang? Biar Aku suruh orang untuk nemanin Kamu keliling."


Qonita yang tidak mau menganggu suaminya yang sepertinya sedang serius bekerja itu pun, mengangguk.


"Sebentar ya, Sayang. Aku panggil dulu." Iman mengangkat telepon kantor yang terletak di mejanya, terdengar ia menyuruh seseorang untuk datang.


Tak lama seorang perempuan datang. Salah satu karyawan Iman, usianya masih tampak muda.

__ADS_1


"Maaf Pak, Bapak memanggil Saya?" tanya perempuan itu.


"Temani istri dan anak-anakku keliling kantor. Perlakukan layaknya ratu," Iman melirik pada Qonita. Qonita yang mendengarnya merasa sungkan dan malu.


"Siap, Pak. Mari Bu, Saya antar keliling kantor," ucap perempuan itu ramah.


Qonita diajak berkeliling kantor, perempuan bernama Laila itu bersikap ramah dan sopan pada Qonita, serta berupaya akrab pada anak-anak Qonita.


Laila juga menjelaskan ruang dan bagian yang ada di kantor suaminya itu. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Qonita.


Sementara istri dan anaknya pergi berkeliling, Jamal masih terlihat melaporkan perkembangan pekerjaan selama Iman tidak masuk.


"Berapa lama Qonita cuti, Bos?" tanya Jamal.


Iman mengernyit. "Dua minggu. Minggu depan dia udah masuk. Ada apa?"


"Perusahaan Citra Mandiri kembali menanyakan kabar, Bos."


Iman yang sedari tadi sibuk membaca beberapa laporan menghentikan pekerjaannya.


"Hufft, Kamu udah sampaikan pesanku?" tanya Iman sedikit kesal.


"Udah, Bos. Tapi sepertinya..." Jamal terlihat ragu mengatakannya.


"Biarin aja. Suruh mang Didi awasi bosnya."


"Siap, Bos. Tapi, apa Bos gak takut kalau..." Jamal tidak berani mengucapkannya.


"Dia gak akan berani," ucap Iman datar.


"Siapa bilang?" celetuk Jamal.


"Kenapa?" Iman yang semula ingin mengabaikan, jadi penasaran.


Beberapa detik kemudian, Jamal memperlihatkan layar HP nya pada Iman.


Iman membaca pesan yang asisten pribadinya ketik tadi.


Dia bilang : Katakan padanya kami merindukannya.


Iman memicing tajam. Sementara Jamal menghapus kalimat yang ia ketik tadi.


Iman terlihat berfikir. Lalu ia menghela nafas berat. Bersandar pada kursi, lalu memejamkan matanya sejenak.


"Sama Qonita, aman Bos?" tanya Jamal.


Iman mengangguk dengan mata tetap terpejam.


Tiba-tiba Iman tertawa kecil, lalu menegakkan badannya. "Hanya dalam hitungan hari, Aku kalah saing sama Qonita. Hahaha..."


"Tentang?" tanya jamal tak mengerti.


"Ichy." Jawaban Iman itu, membuat Jamal mengangguk. Ia langsung mengerti apa maksud bosnya itu.


"Bahkan Papa Zul aja bisa melihat itu. Dia bilang Aku bersyukur bisa menikahi Qonita," ujar Iman.


"Papanya Jihan?" tanya Jamal. Iman mengangguk.


"Kog bisa? Jumpa dimana?" tanya Jamal lagi.

__ADS_1


"Kami kesana. Sebelumnya ziarah juga," jawab Iman datar.


"Siapa yang ngajak?" Jamal terlihat bingung.


"Siapa lagi?" jawab Iman lantang.


"Ichy?"


"Ck. Ya, Qonita lah," ketus Iman.


"Ha? Kog bisa? Qonita bukannya mikirin honeymoon, malah kepikiran ke kuburan?" ledek Jamal.


Iman menatap kesal. "Ck! Istriku memang kelewat istimewa," ujar Iman bangga.


"Kalau itu Aku sepakat." Jamal menyeringai.


"Maksud Lo apa?" sentak Iman.


"Maksud apa? Sensitif amat. Gada ngomong apa-apa juga."


"Secara gak langsung Lo ngehina Gue."


"Jangan baper."


"Cih!"


"Apaan, Yank."


"Najis."


"Peduli amat."


"Bodo."


"Gak urus!"


Perdebatan antara dua sejoli berjenis kelamin sama itu terhenti karena mendengar suara istri dan anaknya.


"Udah kelilingnya, Sayang?" tanya Iman pada istrinya


"Udah, Bang. Abang masih banyak kerjannya?" tanya Qonita.


"Nggak, Sayang. Kenapa?" tanya Iman lembut.


"Sebentar lagi kita udah bisa gerak jemput Ichy, Bang."


Qonita berdiri di samping kursi suaminya, sementara anak-anak sudah duduk di sofa.


Iman melihat ke arah jam tangannya. "Masih ada waktu 15 menit lagi, Sayang. Tolong Kamu ambil berkas di kamar, Sayang." Iman menunjuk ruangan kecil tersebut.


Qonita berjalan ke arah kamar tersebut. Sementara Iman menyeringai pada Jamal.


"Titip bentar kedua pangeran Gue," ucap Iman pada Jamal.


"Ck. Qonita terlalu polos untuk Lo mainin," sahut Jamal.


"Dia istri Gue," balas Iman.


Jamal malas membalas kata-kata bosnya itu. Bagaimana tidak, bosnya itu sudah masuk ke kamar dan menutup pintunya.

__ADS_1


Qonita terlihat mencari-cari berkas yang diminta suaminya. Tetapi ia tidak menemukan apapun disana.


"Berkasnya gak kelihatan, Bang," ucap Qonita dengan lugunya.


__ADS_2