PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 50 Sisa Cuti


__ADS_3

Sudah 2 minggu Qonita menikmati masa cutinya. Begitu pula dengan Iman. Dia juga melanjutkan masa cutinya hingga 2 minggu. Jamal sesekali datang kerumahnya jika ada keperluan pekerjaan.


Anak-anak sangat cepat beradaptasi. Mereka bertiga terlihat seperti saudara kandung, sangat akrab, dan saling menyayangi.


Vivi sudah kembali. Qonita memberikannya libur hampir 2 minggu. Menjelang Qonita mau masuk kerja, baru ia meminta Vivi untuk pulang.


Sementara selama libur, suaminya itu kerap memberikan rasa yang begitu menakjubkan. Senantiasa memberinya kejutan demi kejutan. Kejahilan serta fikiran mesum suaminya senantiasa mewarnai hari-hari mereka.


Jangan tanya bagaimana hubungan Iman pada anak-anaknya. Kini Qonita lebih dekat dengan Ichy, sementara Fuad dan Nabil lebih dekat dengan Iman.


"Besok Bunda udah kerja?" tanya Ichy pada Qonita. Hari minggu ini, mereka menghabiskan waktu di rumah saja.


"Iya, Sayang. Cuti bunda udah habis."


"Yah, Kakak gak diantar rame-rame lagi donk." Ichy terlihat sedih.


"Maaf ya, Sayang. Bunda gak bisa antar, soalnya jadwal Bunda masuk kerja, lebih cepat dari jadwal Kakak masuk."


"Yang antar Kakak kan tetap rame, Sayang. Adek Fuad, Adek Nabil, Kak Vivi kan ikut antar. Nanti sesekali papi yang antar," imbuh Iman.


"Adek Fuad dan Nabil boleh antar dan jemput Kakak, Bun?" tanya Ichy.


"Boleh donk, Sayang. Mereka malah senang bisa naik mobil."


"Hahaha..." Iman tertawa mendengar perkataan istrinya. Ia teringat perkataan Nabil, yang membuatnya senang tinggal disini adalah karena ada mobilnya.

__ADS_1


Iman melihat pada Qonita. "Besok, Kamu kerja naik apa, Sayang?"


"Seperti biasa, naik sepeda motor, Bang."


"Diantar aja gimana?"


"Gak usah lah, Bang. Lebih repot. Kalau diantar nanti harus dijemput juga pulangnya."


"Perginya bareng Aku aja. Pulangnya nanti minta jemput Om Adi. Gimana, Sayang." Iman menyebut nama supir untuk dirumahnya, yang biasa mengantar Ichy TK.


"Ribet, Bang. Bawa sepeda motor sendiri aja, ya," bujuk Qonita.


Iman menghela nafas. "Kamu udah hapal jalannya?"


"InsyaAllah, Bang. Qonita udah perhatiin jalan selama kita lagi keluar," ucap Qonita cengengesan.


"Ha? Kalau dibeli lagi berarti ada tiga mobil, Bang. Gak kebanyakan?"


"Ya gak lah, Sayang. Kan sesuai kebutuhan. 1 untuk Aku. 1 untuk anak-anak. 1 lagi untuk Kamu."


"Qonita kan udah ada sepeda motor, Bang."


"Gak aman, Sayang. Nanti Aku kepikiran Kamu terus. Kalau hujan, Kamu bakalan kena. Kalau naik mobil kan lebih aman, Sayang."


"Kan ada mantel, Bang."

__ADS_1


"Iya, tapi Aku tetap khawatir, Sayang. Nanti Aku daftarin belajar mengemudi, ya?"


Qonita mengangguk. Ia masih terlihat berfikir. Sebenarnya ia tak ingin belajar naik mobil dan dibelikan mobil. Hanya saja kondisinya sekarang, menuntutnya untuk bisa menaiki mobil.


Anaknya sekarang sudah 3 orang, tidak mungkin ia membawa ketiga anaknya dengan menaiki sepeda motor.


❤️❤️❤️


Cahaya matahari kini berganti dengan bulan. Setelah melihat anak-anaknya tidur di kamar masing-masing, Qonita dan Iman kini berada di kamar mereka.


"Hem, gak terasa besok udah kerja aja ya, Sayang," ujar Iman pada Istrinya. Posisi mereka sedang berbaring berpelukan di tempat tidur.


"Iya, Bang. Alhamdulillah anak-anak udah betah disini. Sama mereka bertiga juga udah akrab banget," terang Qonita


"Hu um. Kayak kita juga ya, Sayang. Langsung mesra gini."


Qonita mencebik.


"Kamu mancing Aku, Sayang."


"Emangnya Abang ikan?"


"Sayang, Kamu udah mulai nakal, ya."


"Emang, Qonita ngapain, Abang?"

__ADS_1


"Tuh, bibir Kamu mancing-mancing Aku minta dilum4t."


Qonita menggeleng tak percaya. Sementara suaminya malah tergelak.


__ADS_2