PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 168 Kembar Sepasang


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Adzan subuh sudah terdengar. Qonita terbangun dari tidurnya. Lebih tepatnya dia tidak bisa tidur lelap, perutnya terasa nyeri, mungkin anaknya lagi aktif-aktifnya.


Dia melihat ke arah suaminya, suaminya masih tertidur pulas. Tadi malam suaminya masih harus melanjutkan pekerjaannya di rumah. Iman sudah tidak pernah ikut lembur di kantor sejak Qonita hamil. Ingin jadi suami siaga, seperti itu kata suaminya.


Setelah selesai melaksanakan sholat Subuh, Qonita membangunkan suaminya. Iman terbangun meski dengan wajah yang masih menahan kantuk.


Iman beranjak ke kamar mandi. Qonita mengelus perutnya. Perutnya yang sudah sangat membucit memang sering merasakan sakit. Sakit karena tendangan anaknya.


Dalam keadaan yang merasa sedikit kesakitan, Qonita tersenyum sambil berbicara pada kedua bayi di dalam perutnya.


"Sehat-sehat Sayang Bunda." Qonita mengelus perutnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Iman pada istrinya.


"Anaknya lasak, Bang," Qonita meringis kesakitan.


"Sakit?" tanya Iman mendekati istrinya. Namun tak sampai menyentuh Qonita karena dia dalam keadaan sudah berwudhu.


"Sedikit," sahut Qonita.


"Ya udah Aku sholat dulu ya, Sayang."


"Iya, Bang."


❤️❤️❤️


Setelah selesai sarapan, Qonita mengantarkan Ichy dan Fuad ke depan karena mereka akan segera berangkat sekolah.


Ichy masuk 30 menit lebih cepat dari pada Fuad. Namun mereka berangkat bersama, karena SD dan TK nya berada dalam satu lingkungan, samping-sampingan.


Iman masih memperhatikan Qonita yang sedari tadi masih saja meringis menahan sakit.


"Masih sakit, Sayang?" tanya Iman khawatir.


"Iya, Bang. Mulesnya hilang timbul," ujar Qonita.


"Sejak kapan Kamu merasa mules, Sayang?"


"Setelah sholat Tahajud, Bang," imbuh Qonita.


"Ha? Dari tadi malam? Kenapa gak bilang Sayang?" Iman sudah merasa cemas.


"Soalnya mulesnya cuma sesekali aja, Bang."


"Kita ke rumah sakit. Vivi, Kamu jaga Nabil. Tolong panggil Susan, bilang dia ikut ke rumah sakit sekarang," perintah Iman.

__ADS_1


"Tunggu ya Sayang, Aku ambil tas dan perlengkapan Kamu," ucap Iman pada Qonita.


Segala keperluan Qonita untuk melahirkan memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Susan adalah babysitter yang akan membantu Qonita merawat bayi kembarnya nanti. Sudah 2 minggu ini dia bekerja di rumah Iman.


Mereka pun menuju rumah sakit. Iman sudah menghubungi dokter yang selama ini memeriksa kehamilan Qonita.


Sesampainya di rumah sakit, Qonita langsung diperiksa dalam. Qonita dan Iman sama-sama terkejut kala dokter menyatakan bahwa Qonita sudah bukaan 2.


Secara otomatis saat ini juga Qonita akan segera dioperasi. Qonita memejamkan matanya saat rasa sakit itu semakin menjadi.


"Pantesan sakit banget, Bang. Rupanya udah bukaan 2," ungkap Qonita.


Meski usia kehamilannya baru memasuki 34 minggu, namun karena ini adalah kehamilan kembar, adalah hal yang wajar jika bayi kembar lahir lebih cepat.


"Sabar ya, Sayang. Dokter lagi siap-siap. Kenapa Kamu gak bilang kalau mulesnya mau melahirkan, Sayang?"


"Qonita juga gak tahu, Bang. Qonita fikir, anak kita lagi nendang aja, bukan mau lahiran."


"Aku hubungi mama dulu ya, Sayang."


Qonita mengangguk.


Iman menghuhungi mamanya. Setelah itu dia mengabari mama mertua serta abang iparnya. Tidak lupa dia menghubungi asisten pribadinya itu. Bersyukur tugas kantor yang dia kerjakan semalam sudah dia kirim pada Jamal.


❤️❤️❤️


Selang beberapa menit, bayi kedua pun lahir dengan jenis kelamin perempuan.


"Alhamdulillah, sepasang Sayang," bisik Iman pada istrinya.


Selama ini, setiap sebulan sekali memeriksakan kehamilannya, jenis kelamin anaknya tidak terlihat. Tidak jadi masalah bagi Iman dan Qonita, yang terpenting anak mereka dalam kondisi sehat.


Iman memang meminta kepada dokter agar dia diizinkan menemani istrinya saat proses caesar berlangsung, dan dokter mengizinkan.


"Alhamdulillah." Air mata Qonita menetes. Iman mengusap sisa air mata di wajah istrinya.


Iman dipanggil untuk mengumandangkan adzan dan iqomah pada putra dan putrinya. Air matanya menetes menahan haru atas bertambahnya anaknya, anak kembar sepasangnya.


Setelah selesai dari ruang pemulihan, Qonita pun dipindahkan ke ruangan. Sudah ada kedua mertuanya, mama serta abang dan kakak iparnya di ruangannya.


Mereka mengucapkan selamat pada Iman dan Qonita. Akhirnya Iman memiliki anak kandung laki-laki, sedangkan Qonita akhirnya memiliki anak kandung perempuan.


Jangan tanya bagaimana bahagianya Opa Pras. Pada Fuad dan Nabil saja yang notabene bukan cucu kandungnya, opa Pras sangat Sayang pada mereka. Anak ke 4 Iman dan Qonita ini pasti sangat disayang oleh opanya.


"Gimana kabar Kamu, Nak?" tanya oma Herni.


"Alhamdulillah udah mendingan, Ma," jawab Qonita.

__ADS_1


"Papa udah gak sabar lihat kedua cucu Papa," ungkap opa Pras.


"Papa bisa lihat di ruang Nicu, mereka masuk inkubator, Pa," sahut Iman.


"Berapa berat ponaan Abang, Dek?" tanya Fiqri.


Qonita menatap pada suaminya, karena dia pun belum mengetahuinya.


"Yang laki-laki 2,4 kg, yang perempuan 2,1 kg," ungkap Iman.


Tanpa sadar setetes air mata Qonita keluar.


"Kenapa, Sayang?" tanya Iman yang melihat air mata istrinya jatuh.


Qonita terkejut, ternyata suaminya memperhatikannya.


"Gak apa, Bang. Qonita cuma sedih aja, karna dulu Fuad lahir dengan berat 4,1 kg dan Nabil 3,7 kg," ujar Qonita bersedih.


"Karna mereka kan dulu tunggal, Sayang. Kalau sekarang kan anak kalian lahir kembar. Ya wajar beratnya lebih kecil." Oma Herni berusaha menenangkan Qonita.


"2 minggu lagi Kamu bakal lihat cucu Papa montok, Papa yakin mereka minum nya pasti banyak. Kayak Iman dan Nana dulu, ya kan Ma?" Opa Pras melihat ke arah istrinya.


"Iya, Sayang. Lagian Kamu kan mau kasih asi eksklusif ke mereka, InsyaAllah mereka akan tumbuh dengan sehat," seru oma Herni.


"Iya, Dek. Asi Kamu kan banyak. Pas Fuad dan Nabil dulu, kan Kamu rajin pompa asi, sampai penuh di kulkas. Gak apa-apa lahirnya kecil, asal setelah itu banyak minum asinya." Zuraidah, kakak iparnya turut menyemangati Qonita.


"Iya, Kak," sahut Qonita.


"Papa mau lihat cucu papa dulu ah. Mama mau ikut, gak?" tanya opa Pras pada istrinya.


"Ya mau donk, memangnya Papa aja yang mau lihat cucu mama." Oma Herni mencebikkan bibirnya.


"Eh, nama cucu Papa siapa, Man?" tanya opa Pras.


Qonita dan Iman saling melirik.


"Kamu udah ada nyiapain nama untuk anak kita, Sayang?" tanya Iman pada istrinya.


"Abang aja yang buat, ya," pinta Qonita.


"Kalau Yamin dan Yumna gimana, Sayang?" tanya Iman memberi usul untuk nama anaknya.


"Namanya bagus. Qonita setuju, Bang." Qonita tersenyum pada suaminya.


"Mama suka nama Yumna," ujar oma Herni. "Gimana besan, setuju nama cucu kita Yamin dan Yumna?" tanya oma Herni pada mama Tari yang hanya diam sedari tadi.


"Saya setuju saja. Nama dan artinya sama-sama bagus," sahut mamanya Qonita itu.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2