
...“Seperti air sungai yang mengalir ke hulu, maka aliran darahku pun menjadi pilu ketika ku tahu engkau mulai melupakanku.” - anonim....
Medan, Sumatera Utara
Setelah Jamal pulang, Iman melihat HP nya. Sebenarnya dari tadi dia mengetahui ada beberapa kali panggilan dari Mayang serta ada beberapa pesan yang masuk dari nomor istri sirinya itu. Namun karena sedang mengurus Qonita, Iman mengabaikan getaran HP nya.
Ini adalah kali pertama Mayang menghubunginya ke nomor pribadinya. Biasanya jika ada keperluan, maka Mayang akan menghubungi ke nomor yang dipegang Jamal.
Mayang pasti sudah bertemu dengan mamanya. Dan dia pasti sudah tahu kalau keluarga Iman sudah mengetahui tentang pernikahan siri mereka.
Iman belum sempat membaca satu per satu pesan dari Mayang. Dia tadi hanya sempat melihat pemberitahuan dari layar depan saja, bahwa Mayang memintanya agar segera menghubunginya karena ada hal yang sangat penting.
Iman akhirnya menghubungi Mayang.
"Halo." Terdengar suara Mayang.
"Assalamu'alaikum, Yang."
"Wa'alaikum salam, Im. Kamu udah dimana? Kamu kesini, kan?" cecar Mayang.
"Ha? Maksudnya?" tanya Iman bingung.
"Aku kan udah kirim pesan ke Kamu. Mama mau bawa Aku dan Yuna. Sampai jam 9 malam ini Kamu gak datang, Mama maksa Aku dan Yuna ikut mama. Kamu cepat kesini."
"Aku gak bisa, Yang. Qonita sakit. Dia di opname."
__ADS_1
"Kali ini aja, Im. Tolong Kamu prioritaskan kami. Kamu nyuruh Aku bertahan tapi Kamu sendiri nggak berusaha untuk mempertahankan Aku."
Iman menghela nafas. "Qonita sakit, Yang. Dia di rawat disini."
"Qonita, Qonita, selalu aja Qonita. Istri Kamu itu bukan cuma dia, Im. Yang harus Kamu urus itu bukan cuma dia."
"Yang... Maaf, Aku gak bisa datang," ucap Iman lemah.
"Aku tunggu 1 jam dari sekarang. Kalau Kamu gak datang juga, Aku dan Yuna ikut sama mama."
"Aku izinkan Kamu pergi, Yang. Kamu pasti udah sangat rindu sama keluarga Kamu. Nanti Aku datang kalau situasinya udah memungkinkan. Maafkan Aku."
"Im..." Terdengar sangat lirih panggilan Mayang pada suaminya. Mungkin bukan jawaban seperti itu yang Mayang harapkan.
"Assalamu'alaikum, Yang."
❤️❤️❤️
Binjai, Sumatera Utara
Mayang menangis setelah menekan tombol mengakhiri panggilan. Tadi mamanya memang mengajaknya pergi ikut bersama mamanya. Tetapi dia meminta waktu pada mamanya. Akhirnya mamanya yang menginap dirumahnya. Sementara Wiwied sudah pulang.
Mayang fikir, dengan mengatakan kepada suaminya bahwa mamanya akan membawa dia dan Yuna pergi, maka Iman akan segera datang. Tetapi tidak. Malah suaminya mengatakan mengizinkannya pergi.
"Im... Apa masih ada kami dihatimu? Kenapa sepertinya hanya Kami yang menunggumu, hanya kami yang merindukanmu." Batin Mayang sedih.
__ADS_1
Pintu kamar Mayang terbuka, mamanya masuk.
"Yuna udah tidur. Suami Kamu jadi datang?" tanya Bu Irma pada anaknya.
"Nggak, Ma. Dia gak bisa datang."
"Udahlah, Yang. Mau sampai kapan Kamu seperti ini? Kembali pada kami Yang, keluargamu. Cari kebahagiaanmu sendiri. Bertahan dengannya hanya akan terus menyakiti dirimu sendiri."
"Mayang cinta dia. Dan gimana dengan Yuna, Ma?"
Bu Irma tersenyum sinis. "Cinta yang seperti apa yang Kamu pertahankan? Cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan? Cinta yang hanya terus meminta pengorbanan? Atau cinta yang hanya karena kasihan?"
"Ma," sanggah Mayang karena tidak terima mamanya berkata seperti itu.
"Dimana perkataan Mama yang salah, Yang? Mama suruh dia datang kesini biar kita bicarakan hubungan kalian, dia gak mau datang. Lalu untuk apa dipertahankan?" ujar Bu Irma.
"Kamu itu keturunan Erlangga. Kamu ada bukan untuk disia-siakan. Atau jangan-jangan dia sengaja menikahimu untuk menyakitimu karena keluarga kita bermusuhan," sambung Bu Irma.
"Nggak, Ma." Mayang menutup telinganya. "Iman gak mungkin seperti itu."
"Oke, kita tunggu dia. Jika dalam dua hari kedepan dia gak datang juga, Kamu dan Yuna ikut Mama ke Jakarta." Jakarta adalah rumah keluarga Erlangga setelah mereka pindah dari Medan.
❤️❤️❤️
..."Aku berharap dapat memberikan rasa sakitku hanya untuk sesaat, sehingga kamu bisa memahami betapa kamu menyakitiku." - Mohsen El-guindy....
__ADS_1