PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 125 Jangan Ambil Qonita Dariku


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Urusan Iman sudah selesai di Jakarta. Tidak ingin berlama-lama di Jakarta, Iman langsung pulang.


Pukul 10 malam Iman sampai di rumahnya. Dia memang tidak memberi kabar pada istrinya bahwa dia akan pulang.


Malam sudah larut, anak-anak pasti sudah tidur. Iman langsung menuju kamarnya.


Deg


Tidak ada istrinya di kamar mereka. Kemana istrinya? Bukankah di jam segini seharusnya istrinya sedang beristirahat?


Dia lihat ke kamar mandi siapa tahu istrinya sedang berada disana. Ternyata tidak. Qonita tidak dia temukan disana.


Iman keluar dari kamarnya. Kamar anak-anak menjadi tujuannya. Dia masuk ke kamar Ichy, tidak ada siapa-siapa disana, termasuk Ichy.


Apa mungkin mereka semua berkumpul di kamar Fuad dan Nabil? Tapi malam-malam begini, apa mereka muat tidur bersama dalam 1 tempat tidur?


Iman menuju kamar Fuad dan Nabil. Dia buka pintu kamar itu.


Deg


Kosong. Sama seperti kamarnya dan Ichy, tidak ada siapa-siapa.


"Bik, Om..." teriak Iman memanggil pekerja di rumahnya.


Om Adi dan Bibik berdatangan menemui majikannya yang sedang berteriak itu.


"Qonita dan anak-anak dimana?" tanya Iman begitu melihat wajah ART di rumahnya.


"Itu, Pak. Em, Ibu dan anak-anak dibawa sama Pak Pras."


Deg

__ADS_1


Iman terkejut mendengarnya.


"Kemana? Sejak kapan?" tanya Iman marah.


Para ART nya saling melirik takut. "Tadi sore, Pak."


"Argh." Iman berteriak kencang. Dia langsung mengambil kunci mobil lalu bergegas pergi. Rumah orang tuanya menjadi tujuannya.


Iman mengemudi dengan kencang. Kondisi yang sudah larut malam membuat jalanan sepi.


Kenapa Qonita tidak mengabarinya jika akan pergi. Biasanya Qonita akan meminta izinnya terlebih dahulu.


Iman mengambil HP nya. Pantas saja Qonita tidak bisa menghubunginya karena HP nya sedang non aktif. Dia lupa menghidupkan HP nya setiba di Medan tadi.


Iman mengidupkan HP nya. Ada pesan dari istrinya. Dia coba menghubungi istrinya, tetapi kali ini gantian, nomor istrinya tidak aktif.


"S! al," umpat Iman kesal.


Deg


Fikirannya semakin kacau.


'Biar Papa yang mengurus perceraian Kamu dan Qonita. Kamu gak pantas untuk mantuku.'


Ucapan papanya berputar-putar di kepalanya, menambah rasa pusing yang dia rasakan.


Iman menambah kecepatan laju mobilnya. Tidak berapa lama akhirnya dia sampai di rumah orang tuanya.


"Pa... Papa..." Iman berteriak memanggil papanya.


Opa Pras keluar dari ruang kerjanya.


"Dimana Qonita, Pa?" Iman langsung bertanya pada papanya.

__ADS_1


"Ucap salam dulu, baru bertanya. Dimana sopan santunmu, Man?" ucap opa Pras.


Iman menghela nafas. "Assalamu'alaikum, Pa." Dia ambil lalu dia cium tangan papanya.


"Wa'alaikum salam."


"Dimana Qonita dan anak-anak, Pa?" Iman sudah tidak sabar.


"Maksudmu mantu dan cucu-cucuku?" tanya opa Pras.


"Qonita itu istri Iman, Pa," ucap Iman kesal.


"Dimana salahnya ucapan Papa?" tanya opa Pras santai.


Iman menghela nafas. Dia tidak akan pernah menang melawan papanya.


"Dimana Qonita istriku, mantu Papa?" tanya Iman berusaha meredakan emosinya.


"Untuk apa Kamu mencarinya?"


"Pa... Iman udah menceraikan Mayang. Iman langsung pulang agar bertemu dengan istri dan anak-anak Iman. Tapi Papa malah membawa mereka pergi. Papa gak bisa memisahkan kami. Qonita itu istri Iman. Iman sangat mencintainya, Pa," teriak Iman frustasi.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya oma Herni yang baru saja muncul.


"Entah, ini anak kebanggaan Mama. Datang-datang malah marah-marah," ujar opa Pras.


"Iman udah mrnceraikan Mayang, Ma. Kenapa masih ingin memisahkan Iman dan Qonita juga?"


"Abang..." seru Qonita. Di dalam kamar tadi dia seperti mendengar suara suaminya. Qonita keluar kamar untuk memastikan. Qonita terkejut mendengar ucapan suaminya. Memisahkan dia dan suaminya?


"Sayang..." Iman langsung menghampiri istrinya, lalu memeluk erat istrinya yang tengah hamil muda itu.


❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2