PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 49 Sesuatu di Kantor Iman


__ADS_3

Qonita terlihat mencari-cari berkas yang diminta suaminya. Tetapi ia tidak menemukan apapun disana.


"Berkasnya gak kelihatan, Bang," ucap Qonita dengan lugunya.


Iman tersenyum. "Ga ada?" Ia berpura-pura bertanya.


"Gak nampak, Bang. Abang letak dimana?" Qonita terlihat panik, khawatir berkas itu adalah berkas penting.


"Ya udah kalo gada."


"Ha? Kalau hilang, gimana?" tanya Qonita khawatir.


"Gapapa."


Qonita terkejut. Bisa-bisanya suami nya itu berucap dengan santainya.


"Gak penting?"


"Hahaha..." Akhirnya Iman tak bisa menahan tawanya. Sedari tadi ia ingin menertawakan keluguan istrinya itu. Hanya saja Iman memang senang manjahili perempuan berhijab yang sekarang berdiri tepat dihadapannya.


Qonita mengernyit. Ia yang sungguh-sungguh mengkhawatirkan pekerjaan suaminya, malah mendapatkan tawaan. Ada apa?


"Berkasnya gak penting, Sayang. Yang terpenting, Kamu udah ada disini." Iman menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"Berkasnya?" tanya Qonita lagi.


"Hahaha..." Tawa Iman meledak di ruangan yang kecil itu.

__ADS_1


Qonita merengut. Lagi-lagi suaminya menertawakannya jika menanyakan berkas yang hilang itu.


Hatinya bertanya-tanya jika memang berkas itu tidak penting, lantas kenapa suaminya menyusul kemari.


Dan lalu tadi apa, suaminya mengatakan yang terpenting adalah dia ada disini. Qonita mulai mencerna kalimat suaminya.


Dan pandangannya teralihkan pada grendel pintu yang terkunci. Kenapa suaminya harus mengunci pintu kamar ini?


Belum sempat ia memikirkan jawabannya, suaminya sudah mendekat. Kedua tangan suaminya sudah berada dipinggangnya. Menariknya kedepan hingga tubuhnya menubruk sisi depan tubuh suaminya.


Tentu saja Qonita terkekut dan terkesiap. Kedua telapak tangan Qonita kini berada di dada sang suami. Ia mendongakkan kepalanya. Menatap mata suaminya.


Iman memindahkan tangan kanannya pada pipi Qonita. Mengulas senyum menawannya. Tentu saja hal itu mampu memporak porandakan kesadaran Qonita.


Wajah suaminya menunduk, mendekat ke arahnya. Satu arah yang dituju suaminya, yaitu bibirnya, yang selama ini suaminya katakan dengan 'apel fuji'.


Cvp


Sebuah kecvpan singkat mendarat sempurna di bibir Qonita.


Iman menjauhkan wajahnya menatap dalam wajah istrinya dengan seulas senyum simpul.


Iman kembali mendekatkan wajahnya, tidak lagi secara perlahan. Secara singkat bibir suaminya kembali menyentuh bibirnya.


Bukan sebuah kecvpan, melainkan c!uman yang sangat mengga!rahkan. Jemari tangan suaminya yang berada di pinggangnya terasa meremas pinggang Qonita. Sedangkan tangan kanan suaminya sudah berada di bagian belakang kepala Qonita, menahan kepala istrinya.


Qonita sesekali membalas c!uman suaminya itu. Sedangkan Iman beberapa kali menyudahi untuk sekedar menarik nafas, lalu kembali mengulanginya.

__ADS_1


Tangan Iman mulai bergerilya di bagian belakang tubuh istrinya. Qonita yang khawatir suaminya keterusan menahan dada suaminya.


"Hem, kenapa?" ucap Iman parau.


"Ichy," jawab Qonita singkat. Karena dia masih terlena akan c!uman maut suaminya tercinta.


"Ichy?" tanya suaminya tak mengerti.


Qonita mengangguk. "Kita harus jemput Ichy, kan?"


"Oh, iya. Aku hampir lupa." Iman melihat jam tangannya.


Iman kembali mendekati Qonita. Menyatukan keningnya dan kening istrinya.


"Kali ini, Kamu beruntung Sayang, bisa lolos. Besok-besok, jangan harap." Iman mengerlingkan mata kirinya.


"Jadi berkasnya cuma alasan aja?" ujar Qonita cemberut.


"Hahaha..." Iman tergelak tak percaya. Istrinya itu masih saja membahas masalah berkas.


"Iya, Sayang. Maaf, ya." Iman mengelus wajah Qonita.


Qonita mengangguk sambil tersenyum.


"Jangan bilang kamar ini juga baru dibuat?" Qonita menatap curiga.


"Hahaha... Emang iya, Sayang."

__ADS_1


Qonita pun menarik nafas dalam. Suami, ini punya seribu satu cara untuk nembuat hatinya mendadak dangdut seperti ini.


__ADS_2