PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 140 Permohonan Maaf


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


"Aku belum benar-benar mengikhlaskan semua yang terjadi padaku. Awalnya Aku fikir setelah Jihan meninggal, Iman akan memperjuangkan Aku. Aku berusaha memberi perhatian pada Ichy dengan mengirimkan hadiah melalui Iman. Aku juga kerap menanyakan perkembangannya," imbuh Mayang pada Qonita.


"Aku fikir dengan cara seperti itu Iman akan berfikir untuk menjadikan Aku sebagai pengganti maminya. Ternyata tidak, dia malah menikahi Kamu. Kamu yang memiliki 2 anak, untuk apa dia mengurus anak orang lain? Seharusnya dia cukup mengurus Ichy dan Yuna, anak kandungnya."


Qonita terus mendengarkan ungkapan hati Mayang.


"Kamu tahu, panggilan papi dan mami sengaja kami samakan, agar Iman tidak salah memanggil saat sedang bersama Jihan dan Ichy atau saat besamaku dan Yuna. Semua berjalan lancar saat dia menikah dengan Jihan. Tapi tidak saat menikah denganmu." Mayang menatap sedih pada Qonita.


"Aku fikir cintanya padaku gak akan pernah berpaling. Aku terlalu percaya diri. Ternyata saat dia menikah denganmu semuanya berubah. Termasuk cintanya. Aku tahu dia jatuh cinta padamu bahkan sebelum kalian menikah," sambung Mayang.


Qonita masih terus mendengarkan, membiarkan Mayang mengeluarkan apa yang dia rasakan selama ini.


"Yang paling membuatku sakit adalah saat dia menyebut namamu setelah kami selesai berhubungan suami istri. Ku fikir dia yang akan menyebut namaku saat bersamamu. Tetapi ternyata sebaliknya. Itu membuat hatiku terasa amat sakit." Air mata Mayang jatuh setetes.


Qonita terhenyak mendengarnya. Dia tidak menyangka Mayang merasakan hal yang demikian. Bagaimana mungkin suaminya memanggil namanya saat bersama Mayang. Dia harus bersyukur, karena Iman tidak pernah salah menyebut nama perempuan lain saat bersama dengannya.


"Hatiku marah saat dia terlalu memperdulikanmu tetapi mengabaikan perasaanku. Aku sengaja menempelkan lipstik dan minyak wangiku di bajunya saat dia menginap di rumahku. Tetapi sepertinya Kamu gak mengetahuinya."


"Setelah itu Aku sengaja meletakkan sebelah antingku di celana Iman berharap Kamu yang menemukannya. Entah itu berhasil atau tidak. Yang pasti Iman mengembalikan anting itu padaku, tapi sayang Iman malah marah kepadaku. Aku melakukan itu semua karena Aku ingin Kamu juga merasakan sakit yang Aku rasakan."


"Yang di Puncak juga Aku sengaja melakukannya. Aku melihat Kamu, makanya Aku melakukan itu. Aku ingin Kamu merasakan bagaimana rasanya milikmu dinikmati oleh orang lain," lanjut Mayang.


"Tetapi semua yang Aku lakukan bukan malah membuatku bahagia. Aku mengharapkan Kamu menderita tetapi malah Aku yang menderita, malah Aku yang menerima resikonya," imbuh Mayang.


"Maaf, maaf atas semua kesalahanku. Aku udah kehilangan Iman. Allah udah kasih Aku pengganti yang baik seperti Agil, tapi Aku menyia-nyiakan hanya karena rasa sakit hati dan dendamku padamu. Aku menyesal. Kini Aku pun kehilangan dia juga. Maafkan Aku." Mayang berucap lirih. Air matanya menetes.


"Saya sudah memaafkan Mba Mayang. Sedari awal saya gak tahu kalau abang sudah memiliki istri. Yang Saya tahu abang itu seorang duda. Tapi Mba perlu tahu, Saya pun merasa sakit yang sama saat melihat Abang bersama Mba dan Yuna saat di Binjai beberapa bulan yang lalu. Hati Saya hancur," ungkap Qonita.


"Akhirnya Saya mengikhlaskan semua yang sudah terjadi, demi kebahagiaan anak-anak dan juga keluarga besar kami. Saya berusaha menutup mata akan kebohongan Abang selama ini," lanjut Qonita.

__ADS_1


"Saya bukannya gak tahu ada lipstik dan parfum di baju Abang. Tapi saat itu Saya sudah mengetahui kalau Mba adalah istri sirinya Abang. Oleh karena itu Saya memang tidak memberi tahu kannya pada Abang."


Deg


Mayang terkejut. Dia fikir Qonita tidak mengetahuinya.


"Andai anting itu Saya yang menemukannya, maka Saya juga akan diam saja. Tapi Sayang, Nabil yang pertama kali melihatnya. Wajah abang sudah sangat pias saat itu." Qonita tersenyum mengingatnya.


"Saya juga menemukan rambut panjang di badan abang. Mba juga sengaja meletakkannya, kan?" tanya Qonita tersenyum.


Deg


Mayang tidak menyangka, Qonita mengetahuinya. Dia mengangguk.


"Pantas Iman begitu sangat mencintaimu. Kamu memang sangat pantas untuk dicintai. Tidak seperti Aku," ujar Mayang menunduk.


"Abang bukannya gak sedih berpisah sama Mba Mayang dan Yuna. Tapi Abang berfikir jika Mba terus bersama Abang, Mba pun akan terus bersedih dan menderita. Oleh karena itu Abang melepaskan Mba, berharap Mba dan Yuna akan mendapatkan kebahagiaan meski nggak bersamanya," seru Qonita.


"Jangan berfikir karena Saya menikah dengan Abang, cintanya pada Mba menghilang. Nggak seperti itu, Mba. Sebenarnya Abang pun mencintai Mba Jihan, tetapi abang terlambat menyadarinya," sambung Qonita.


Deg


Mayang terkejut.


"Benar, Mba. Wajar kan, abang mencintai istrinya. Seperti mungkin abang mencintai saya karena Saya adalah istrinya," jawab Qonita.


"Sayang..." Iman lari tergopoh-gopoh menuju istrinya.


Qonita kaget melihat Iman berlari seperti itu. Qonita menyalam suaminya.


Jika biasanya Iman akan menc1 um dahinya, tapi kali ini tidak, mungkin dia segan karna ada Mayang disitu.

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa kan, Sayang?" tanya Iman lembut pada istrinya.


Qonita tersenyum manis. "Qonita baik-baik aja kog, Bang."


"Kamu takut Aku berbuat jahat padanya, Im?" sindir Mayang.


"Iya benar, Aku memang mengkhawatirkan itu." Iman berkata jujur tentang ketakutannya.


Deg


Mayang dan Qonita sama-sama terkejut mendengar keceplosan Iman.


"Kamu udah berubah, Yang. Wajar Aku mengkhawatirkan istri dan calon anakku," ungkap Iman.


"Bang." Qonita menyentuh lengan suaminya, dia menggeleng saat suaminya menatap ke arahnya, memberi tanda agar jangan berbicara seperti itu.


"Kamu yang berubah Im. Kalau ternyata Qonita udah mengikhlaskan hubungan kita, kenapa Kamu masih aja menceraikan Aku?" ujar Mayang kesal pada Iman.


Qonita mengernyit bingung. Baru saja perempuan cantik di hadapannya ini meminta maaf padanya, menyesali segala perbuatannya, tapi sekarang masih saja membahas dan mempermasalahkan cerita di masa lalu.


"Oh ayolah, Yang. Kita sama-sama tahu jika dipertahankan pun gak akan baik untuk kita semua," imbuh Iman.


"Biar Kamu bisa hidup bebas dan tenang bersama Qonita, kan?" ungkap Mayang sinis.


"Kedua keluarga besar kita gak ada yang memberi restu, Yang," sahut Iman.


"Bukannya dulu juga begitu? Tapi Kamu tetap nikahin Aku. Sekarang kenapa Kamu malah menceraikan Aku, Im?" tanya Mayang.


Qonita menatap suami dan mantan istri suaminya itu bergantian, dengan siku tangan di meja, dan telapak tangannya memangku dagunya. Dia biarkan saja kedua orang yang layaknya Tom and Jerry itu saling mendebat.


"Kenapa Kamu masih membahas itu, Yang? Sebenarnya apa tujuanmu menemui Qonita?" tanya Iman menyelidik.

__ADS_1


"Aku..." Mayang tersadar. Mayang yang tadinya ingin meminta maaf, merasa panas karena melihat Iman begitu sangat mengkhawatirkan Qonita serta menuduhnya akan mencelakai Qonita. Terlalu sulit untuk tidak merasa cemburu karena dia masih sangat mencintai mantan suaminya itu.


❤️❤️❤️


__ADS_2