
"Jangan diangkat," ucap Mayang melihat layar HP Qonita menyala, dia yakin itu telfon dari Iman.
Qonita tersenyum mendengarnya. Namun dia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum, Bang," ucap Qonita menerima panggilan dari suaminya.
Mayang mencelos karena Qonita tidak mengindahkan ucapannya.
"Wa'alaikum salam, Sayang. Kamu dimana?" Sebuah jawaban dari Iman yang hanya dapat didengar oleh Qonita.
"Di Rainbow Cafe, Bang. Kan tadi Qonita udah izin sama Abang."
"Iya, Sayang. Kamu lagi sama siapa?"
"Lagi sama Mba Mayang."
Deg
Walau Iman sudah mendapat kabar dari om Adi bahwa Qonita sedang bersama Mayang saat ini, namun dia tetap merasa terkejut mendengar kedua istrinya sedang bersama.
"Aku kesana Sayang." Iman memutuskan akan menyusul kedua istrinya.
"Gak usah, Bang. Gak, apa," seru Qonita.
"Tapi, Sayang..."
"Beneran gak apa, Bang."
"Tapi Aku gak tenang, Sayang..."
Qonita tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Santai aja kayak biasanya, Bang."
Deg
Iman kaget mendengar ucapan Qonita. Apa istrinya ini sedang menyindirnya?
"Sayang, Aku..." Iman tidak tahu harus berkata apa.
"Udah dulu ya, Bang. Nanti Qonita kabari kalau udah pulang. Assalamu'alaikum Imam Qonita."
"Wa'alaikum salam, bidadariku."
Qonita pun menekan tanda mengakhiri panggilan.
"Kan udah Saya bilang jangan diangkat," ujar Mayang kesal.
"Kalau Mba gak mau angkat telfon dari suami Mba, itu urusan Mba. Tapi Mba gak bisa mengatur Saya, katena ini adalah urusan pribadi Saya," sahut Qonita sambik tersenyum.
"Kamu sengaja ngasih tahu Iman kalau kita kesini?" tanya Mayang kesal pada Qonita.
"Saya memang harus izin dulu sama suami saya, Mba. Tapi saya gak ada bilang kalau Saya kesini sama Mba." Qonita bersikap tenang menjawab pertanyaan Mayang.
"Kalau Kamu gak bilang, mana mungkin Iman juga menghubungi Saya di waktu yang bersamaan," ungkap Mayang.
__ADS_1
Qonita terkekeh kecil mendengarnya. "Gak semua apa yang Mba fikirkan itu sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Saya gak minta Mba percaya sama Saya. Mau Mba percaya, Alhamdulillah. Gak percaya juga gak apa."
"Saya bingung sama Iman kenapa bisa suka sama perempuan munafik macam Kamu."
Qonita tersenyum. "Mba mau ketemu Saya bukan cuma mau bilang ini, kan?"
"Oke. Saya langsung aja. Saya mau Kamu yang mundur." Mayang menatap tajam pada Qonita.
"Mundur kemana, Mba?" Qonita mengernyit.
"Ck. Kamu gak usah berpura-pura bodoh. Kamu bukan anak kecil yang gak bisa memahami maksud ucapan Saya."
"Maaf, kalau dimata Mba, Saya seperti anak kecil. Tapi Saya beneran gak ngerti."
"Kamu yang pisah sama Iman. Diantara kami udah ada Yuna, anak Kami. Iman udah bilang gak akan menceraikan Saya."
"Lalu? Apa Abang ada bilang akan menceraikan Saya?"
Deg
Mayang terdiam.
"Kamu harusnya sadar diri. Iman itu terpaksa menikahi Kamu karna mamanya. Juga demi anaknya. Kamu hanya akan menjadi pengasuh bagi anaknya."
"Mba mengkhawatirkan Saya?"
"Saya cuma gak mau berlama-lama aja. Semua udah tahu tentang pernikahan kami. Gak akan ada lagi yang ditutupi. Iman dari awal mencintai Saya. Dan dia juga gak akan menceraikan Saya. Jadi lebih bagus Kamu yang minta pisah darinya."
"Mba sedang memohon?" tanya Qonita santai.
"Kamu jangan khawatir masalah materi. Kami akan memberi sejumlah uang ganti rugi untuk Kamu."
Qonita tertawa mendengarnya.
"Ck. Kenapa Kamu malah tertawa?" tanya Mayang mengernyit.
"Saya merasa lucu melihat Mba. Kalau dibilang Mba sedang mengkhawatirkan Saya, tapi sepertinya Mba yang merasa takut akan posisi Mba. Kalau dibilang Mba sedang memohon pada Saya, Mba malah seperti sedang mendikte Saya," imbuh Qonita.
"Kalau Mba mengira Saya menikah dengan Abang karena materi, apa Mba fikir Saya mau meninggakkan Abang demi sejumlah uang yang akan Mba berikan? Hem, Saya jadi penasaran berapa jumlah yang Mba tawarkan." Qonita tersenyum tipis.
"Berapa yang Kamu minta?" tanya Mayang.
"Maaf Mba, Saya bukan dalam posisi sedang meminta," ujar Qonita santai.
"Berapa M yang Kamu mau?"
"Hahaha..." Qonita tergelak mendengar pertanyaan Mayang.
"Saya pikir Mba akan menawarkan T pada Saya. Soalnya Mba kelihatan yakin sekali. Ternyata, gak seberapa dengan yang udah Abang kasih ke Saya." Qonita menaikkan sebelah bibirnya.
Deg
Mayang terkejut mendengarnya. Hatinya bertanya-tanya, benarkah Iman seroyal itu pada istrinya ini. Hatinya bergemuruh. Selama ini dia tidak menuntut apapun pada Iman, suaminya. Sekarang, perempuan dihadapannya ini mengaku mendapat lebih dari suaminya.
__ADS_1
"Kamu jangan keterlaluan. Cih. Gimana kalau Iman tahu ternyata Kamu sematre ini." Mayang mengejek sinis Qonita.
"Kalau begitu biar Saya kirim aja rekaman percakapan kita ini Mba." Qonita memenunjukkan HP nya.
Deg
Mayang terkejut mendengarnya.
"Kamu merekamnya?" tanya Mayang marah.
"Hapus!" Mayang merebut HP Qonita. Dia melihat HP Qonita. Tidak ada tanda-tanda bahwa Qonita telah merekam percakapan mereka.
"Kamu membohongi Saya?" Mayang menatap Qonita dengan mata melotot. Lalu mencampakkan HP Qonita ke meja.
Qonita hanya tersenyum. "Pelan-pelan aja, Mba. Gak enak dari tadi dilihat Mba yang disana." Qonita mengarahkan pandangannya ke arah pegawai cafe yang memang sedang melihat ke arah mereka.
"Apa yang Kamu mau?" tanya Mayang menahan emosinya.
"Saya gak ada kemauan apa pun Mba. Kan Mba yang menjumpai Saya." Qonita masih terlihat santai.
"Saya mau kita mendapat jatah hari yang sama, materi yang sama serta posisi yang sama. Iman harus mensahkan pernikahan kami secara hukum," ucap Mayang lantang.
"Ada lagi, Mba?" tanya Qonita memastikan.
"Untuk sementara itu dulu," ujar Mayang angkuh.
Qonita terlihat mengambil dompetnya di dalam tas. Lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. Dia berikan kartu itu kehadapan Mayang.
"Mba bisa langsung menjumpai orang yang paling tepat untuk memberi semua permintaan Mba itu. Mba salah alamat kalau menemui Saya."
Mayang yang melihat kartu nama itu adalah kartu nama milik suaminya merasa semakin kesal pada Qonita.
"Gada gunanya bicara sama Kamu." Mayang meletakkan dua lembar uang berwarna merah. Lalu pergi meninggalkan Qonita begitu aja.
"Mba Mayang." Qonita memanggil nama Mayang.
Mayang berbalik menghadap Qonita.
"Mungkin diluar nanti Mba mengenali seseorang, bisa jadi beliau yang memberitahukan pada Abang kalau kita bertemu disini," seru Qonita.
Mayang tampak berfikir. Dia hendak berbalik tetapi lagi-lagi Qonita memanggilnya.
"Mba. Makasih untuk traktirannya. Tapi sepertinya ini ada kembaliannya," ujar Qonita.
"Ambil aja untuk Kamu." Mayang melanjutkan langkahnya.
"Makasih Mba. Mudah-mudahan murah rezki," imbuh Qonita agak kuat agar Mayang dapat mendengarnya.
Mayang tidak membalas ucapan Qonita. Setelah sampai di depan, Mayang melihat seorang laki-laki paruh baya yang sepertinya pernah dia lihat.
Deg
Mayang teringat ucapan Qonita tadi. Apa laki-laki ini yang dimaksud Qonita. Jadi benar bukan Qonita yang memberitahu Iman bahwa Mayang menjumpainya. Mayang menelan ludahnya.
__ADS_1
❤️❤️❤️