
Beranjak dari kamar Ichy, Iman dan Qonita bergerak menuju kamar Fuad dan Nabil. Ternyata mereka masih tidur.
Hanya Vivi yang tampak sedang memilih-milih baju, menyiapkan pakaian untuk digunakan Fuad dan Nabil nanti.
Karena Fuad dan Nabil masih tidur, Qonita mengajak Iman keluar, membiarkan anak-anak mereka melanjutkan tidurnya.
"Ayo kita duduk di ayunan, Sayang. Sambil hirup udara pagi. Pacaran dulu, kita." Iman mengedipkan matanya sambil tersenyum menggoda. Iman memegang tangan istrinya, membawa ke arah halaman rumah. Ada ayunan di sana.
Qonita membalas genggaman tangan suaminya. Setelah sampai, Qonita duduk di samping Iman sambil menyandarkan badannya pada Iman.
"Mesra banget kita ya, Sayang. Kalah anak ABG yang lagi pacaran," ucap Iman. Mereka masih berpegangan tangan.
Qonita mencebikkan bibirnya. "Ya memang harus kalah mereka, Bang. Kan belum halal, gak boleh bersentuhan," ucap Qonita menatap tajam suaminya.
"Hahaha, iya Aku hampir lupa ngomong sama siapa." Iman tertawa sambil mengacak-acak kepala Qonita. Andai Qonita tak mengenakan jilbabnya, mungkin rambut Qonita akan terlihat berserakan karenanya.
"Ih, emang Abang pikir lagi sama siapa? Mikirin yang lain?" Qonita cemberut. Ia menatap tajam pada Iman sambil merengut.
"Hahaha." Bukannya membujuk merayu, Iman malah tertawa. Wajah marah dan cemburu sang istri begitu menggemaskan baginya.
"Apa harus Aku buktikan siapa yang ada disini dan disini." Iman menunjuk kepala dan dadanya menandakan siapa yang ada di hati dan fikirannya. "Kamu, Sayang." Iman menatap pada Qonita, memperlihatkan kesungguhannya.
Qonita malah menjatuhkan badannya kembali, memeluk suaminya manja.
"Kamu tuh ya, gemesin banget tau, Sayang. Untung udah Ku nikahi. Hahaha..." Iman mencolek pipi Qonita lalu tertawa lagi.
"Aduh," ucap Iman kala Qonita mencubit perutnya. "Sakit, Sayang." Iman berpura-pura meringis.
"Biarin. Siapa suruh suka jahil." Qonita menjulurkan lidah nya ke kanan, mengejek suaminya itu.
"Sayang, Kamu tahu yang barusan Kamu lakukan tadi, apa?" Iman bertanya dengan tampang serius.
Qonita terkejut. Ia mengernyit. Bingung, apa ia melakukan kesalahan. Kenapa suaminya mendadak serius seperti ini.
"Maaf Bang, Abang marah?" tanya Qonita dengan wajah menyesal. "Sakit, ya?" Wajah Qonita berubah murung.
"Marah?" tanya Iman heran.
"Jadi, kenapa wajah Abang mendadak serius gini?" tanya Qonita. Masih heran dengan perubahan ekspresi suaminya.
"Soalnya cara ngejek Kamu tadi, buat Aku pengen baca doa mau makan, Sayang." Iman berbisik pada Qonita.
"Abang lapar?" tanya Qonita serius.
"Hahaha..." Iman tak kuasa menahan tawanya. Ia tertawa keras.
"Ya Allah, Istriku ini." Iman masih terkekeh. Lalu mencubit gemas pipi Qonita. "Pe-ngen ma-kan Ka-mu, Sa-yang," ucap Iman perlahan-lahan, sambil menunjukkan wajah mesumnya.
"Abaaang, ih. Kirain," ujarnya cemberut.
__ADS_1
Sulaiman, suami Qonita itu senantiasa merayu, menggoda, serta menjahili istrinya. Sementara istrinya itu, semakin lama semakin terlihat menggemaskan.
Menggemaskan.
Menggiurkan.
Mempesona.
Melezatkan.
serta... Mengga!rahkan.
Bagaimana tidak, lihat saja sikapnya ini. Qonita masih setia menggenggam jemari Imam. Posisi badan sebelah kanan Qonita masih menempel di tubuh kiri Iman.
Qonita menyatukan jari-jarinya dan suaminya. Ia memainkan jemari-jemari mereka, menepuk-nepuk lalu digenggam erat. Terkadang ia mengetuk-ngetuk telunjuknya ke telapak tangan Iman. Wajahnya tersenyum cerah.
"Sayang," ucap Iman manja.
"Ya, Bang," sahut Qonita.
"Aku suka Kamu manja gini. Aku gemas liatnya. Tapi sisi lain dari diriku sudah berkelana liar, Sayang," ucap Iman lembut.
Qonita mengernyit. "Maksudnya, Bang?"
"Hahahaha." Iman tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Iman memegang bahu Qonita dengan kedua tangannya, ia miringkan badan istrinya, lalu ia jatuhkan kepalanya di leher sang istri.
Hanya saja Qonita khawatir ada yang melihat. Mereka bukan berada di kamar, malah berada di halaman rumah. Oh tidak, bagaimana jika ada yang melihat?
"Abang," seru Qonita.
"Ya, Sayang?" ucap Iman memposisikan dirinya berhadapan dengan Qonita.
"Aku ma-" ucapan Iman terpotong karena terdengar suara berisik dari dalam menuju ke arah mereka.
"Bunda," teriak Ichy, Fuad dan Nabil bersamaan sambil berlari ke arah mereka.
Ketiga anak itu menaiki ayunan, bergabung bersama papi dan bundanya. Ketiganya sudah terlihat cantik dan ganteng-ganteng.
"Wah, putra dan putri mahkota udah pada keren dan wangi," ucap Iman tersenyum.
"Putra apa, Pi?" tanya Nabil bingung.
"Putra mahkota, Sayang. Fuad dan Nabil putra mahkota." Iman menarik Nabil lalu memangkunya.
"Kalau Kak Ichy jadi apa, Pi?" tanya Fuad.
"Kak Ichy jadi putri salju aja deh," ucap Iman menjahili putrinya.
__ADS_1
"Nggak mau. Kakak mau jadi putri raja aja, yang memakai mahkota, Pi," ucap Ichy menaikkan tangannya ke atas kepala, tempat dimana mahkota diletakkan.
Qonita tersenyum.
"Jadi barby, mau gak?" tanya Iman menggoda anaknya. "Kan Kakak suka boneka barby."
"Nggak mau, Pi." Ichy merengut.
"Udah-udah, Kak Ichy jadi Hafidzah. Fuad dan Adek Nabil jadi Hafidz. Biar disayang Allah. Mau disayang Allah, kan?" tanya Qonita pada ketiga anaknya.
"Mau, Bunda," seru ketiganya.
"Aamiin." Iman menyapu kedua telapak tangannya ke wajah, mengamini kal sang istri.
Bukankah setiap perkataan adalah doa. Dan doa seorang Ibu termasuk doa yang mustajab.
Inilah istrinya yang terlihat sederhana dibanding perempuan lain di luar sana. Tetapi kesederhanaannya ini begitu menenangkan, mengesankan serta membuat nyaman.
"Maaf Bu, sarapan udah siap," ucap Vivi yang baru saja datang dari dalam rumah.
"Makasi Vi." Qonita mengangguk pada Vivi.
"Anak-anak, ayok kita sarapan."
Qonita mempersilahkan anak-anak turun dari ayunan, terlebih dahulu.
"Iya, Bunda." Anak-anak turun, mereka berjalan bersama Vivi.
Sementara Qonita masih belum bergerak. Tangannya ditahan oleh Iman.
"Ayok sarapan, Bang." Qonita menatap Iman, heran kenapa Iman masih menahannya di ayunan.
"Sarapan apa, Sayang?" tanya Iman menyeringai.
Qonita terkejut. Pasalnya ia tak tahu sarapan apa yang telah dihidangkan di meja makan. Karena tadi ketika ia hendak membantu di dapur, Iman melarangnya. Sudah ada Bibi yang memasak. Serta lebih baik waktunya dihabiskan berdua. Quality time, seperti itu yang Iman katakan, tadi.
"Maaf Bang, Qonita gak tau sarapannya ada apa aja." Wajah Qonita terlihat datar.
"Hahaha...." Lagi dan lagi Iman tertawa keras menanggapi sikap polos istrinya.
"Sayang, Sayang, untung Aku cinta banget sama Kamu. Kalau nggak, udah Ku makan beneran Kamu, Sayang." Iman menepuk-nepuk kepala Qonita.
Qonita memejamkan matanya malu. Wajahnya sudah merah merona. Akhirnya ia menyadari maksud perkataan suaminya.
Suaminya ini memang sangat nakal. Selalu saja menggodanya. Ekspresinya yang berubah-ubah membuat Qonita sulit membedakan mana saat suaminya bercanda atau benar-benar serius.
"Ternyata anak-anak itu gak sepolos yang orang ceritakan ya, Bun," ucap Iman datar.
"Memangnya kenapa, Bang?" tanya Qonita tak mengerti.
__ADS_1
"Buktinya jadi pengganggu saat Aku lagi mau mesra-mesranya sama Kamu. Hahaha..." Iman tertawa sambil berlalu pergi setelah mentoel hidung istrinya.
Qonita menggelengkan kepalanya. Suami nakalnya ini benar-benar nakal. Eh...