PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 7 Usaha Untuk Mendatangkan Qonita


__ADS_3

...Bab 7 Usaha Untuk Mendatangkan Qonita...


Waktu menunjukkan jam istirahat. Iman menghentikan pekerjaannya.


Ia mengetik chat WA.


"Mama ngundang kamu minggu pagi di rumah adekku. Alamatnya Jl. Xxx."


Send


❤️❤️❤️


1 jam kemudian


Iman terlihat uring-uringan.


"Ada apa, Bos? Dari tadi liatin HP terus?" tanya Jamal.


Dari mulai makan siang sampai selesai, bosnya itu bolak-balik melihat HP.


"Huufft. Gimana mau dibalas, dibaca aja belum." Iman berceloteh sendiri.


"Siapa, Bos?" tanya Jamal.


"Dia," jawab Iman


"Dia?" tanya Jamal tak mengerti.


"Qonita. Mama nyuruh Aku undang dia minggu pagi ke rumah Nana. Aku harus pastiin dia datang. Kalau enggak Aku gak boleh jumpai mama lagi. Ck."


"Hahahah... Aku gak diundang, bos?"


"Ck. Lo dan keluarga Lo datangnya Sabtu. Nginap. Putus hubungan kalo Lo berani gak datang," kesal Iman.


"Trus kenapa Qonita malah disuruh datang minggu, Bos?"


"Ya karna dia gak mungkin nginep."


"Ohh iya. Belum SAH ya, Bos," ucap Jamal menekankan kata sah.


Dan pulpen pun melayang ke wajah Jamal.


❤️❤️❤️


2 jam kemudian


Terdengar HP Iman bersuara. Dengan semangat ia membuka HP nya.


"Trima kasih atas undangannya. Tapi maaf, Saya tidak bisa datang. Saya sudah ada janji." Pesan masuk dari Qonita.


S!al


Membaca jawaban Qonita, Iman langsung melakukan panggilan.


"Assalamualaikum," ucap Qonita.


"Wa'alaikum salam. Bisa ketemu hari ini?" tanya Iman.


"Ada keperluan apa? Sampaikan saja sekarang. Saya gak bisa terus-terusan keluar."


"Sebentar aja. Terserah dimana. Yang dekat dari rumah Kamu juga gapapa."


"Maaf, Saya gak bisa. Kasian Vivi, dia sendirian jaga kedua anak Saya."


"Saya minta maaf atas sikap dan perkataan Saya kemaren. Kasih Saya kesempatan. Kita mulai perkenalan dari awal lagi dengan cara yang baik."


"Gapapa... Dan gada yang perlu dimaafkan. Saya bisa mengerti kenapa Anda bersikap demikian."


"Kalau gitu minggu Kamu datang, kan?"


"Maaf, Saya sudah ada janji."


"Jadi gak bersedia memulai lagi dari awal? Atau Kamu masih marah. Ok, Saya harus bagaimana agar Kamu mau datang hari minggu ini?"


"Seperti yang Saya sampaikan kemaren, kalau Saya selalu berusaha untuk menepati janji Saya. Dan Saya sudah berjanji pada seseorang hari minggu ini. Bukan karena Saya marah."


"Huuffft. Ya udah, nanti coba Saya sampaikan pada mama kalau Kamu gak bisa datang."


"Baik. Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam."


❤️❤️❤️


"Halo, Sayang," ucap Oma Herni.


"Halo, Ma. Iman baru aja telponan sama Qonita, Ma." Iman sengaja mengatakan telponan biar Mamanya senang.


"Oh ya. Terus gimana?" tanya oma Herni.


"Qonita udah ada janji minggu ini. Dia minta maaf gak bisa datang. Mama tau kan dia selalu nepati janjinya. Gak mungkin Iman paksa dia untuk ingkar janji, Ma."


"Janji apa? Datang telat juga kan gapapa. Dasar Kamunya aja gak bisa diandalkan. Pokoknya Mama gak mau tau. Qonita harus datang."

__ADS_1


Tuut


S!al


❤️❤️❤️


Sesaat hendak pulang kerja...


"Besok sebelum kesini, Kamu singgahi SMA *, cari tahu jadwal ngajar dan pulang Qonita!" ucap Iman pada Jamal.


"Apa?" Jamal terkejut.


"Gue harus bisa yakinin dia untuk datang. S!al. Mama gak mau tau alasan apapun."


"Trus jadwal ngajar untuk apa?" tanya Jamal tak mengerti.


"Gue mau langsung temuin dia. Bawa bunga kalo perlu sebesar gajah. Sampe dia bilang kalo dia bakal datang."


"Segitunya bos. Gak bisa apa ketemuannya lain waktu? Kasian kan kalo ternyata minggu ini acara yang penting bagi dia?" ucap Jamal.


"Masalahnya mama gak mau tau. Gue gak mungkin berdiam diri dan akhirnya jadi anak terbuang," sungut Iman.


"Sekalian beli bunga yang paling bagus. Atau perhiasan yang paling mahal," sambung Iman.


"Ck. Bukan tipenya kali, Bro," ketus Jamal.


"Terserah. Pokoknya Lo pilihin yang bisa buat dia seneng nerima hadiah itu." Titah bos tak bisa dibantah.


❤️❤️❤️


Keesokan harinya


"Assalamu'alaikum," ucap Qonita.


"Waalaikum salam. Kamu udah selesai ngajar?" Mendengar itu, Qonita mengernyit. Kenapa Iman tau, dia memang baru selesai ngajar.


"Iya. Ada apa?"


"Saya diluar sekolah Kamu. Saya yang masuk atau Kamu yang keluar?" tanya Iman.


"Haa?" Qonita terkejut.


"Pilih yang mana?" tanya Iman tanpa basa basi.


"Mmm.. ada perlu apa?"


"Ok. Saya yang masuk."


"Saya aja yang keluar." Qonita buru-buru menjawab.


"Qonita," panggil Iman setelah keluar dari mobil.


Qonita mendekat. "Ada perlu apa?" tanya Qonita.


"Ini. Untuk Kamu dan anak-anak Kamu." Qonita tak langsung mengambil barang-barang tersebut tatkala Iman menyodorkan beberapa barang padanya.


Buket bunga mawar mix lili yang sangat segar dan cantik. Paduan warnanya sangat indah, merah muda dan putih. Ada di tangan kanan Iman. "MasyaAllah... Cantiknya," guman Qonita dalam hati.


Sementara 2 paper bag ada di tangan kiri Iman yang entah apa isinya.


"Ambil. Atau saya bawa sekalian ke dalam?" tegas Iman.


"Jangan." Qonita langsung mengambil barang-barang tersebut. Bisa heboh kalau sempat Iman yang membawa masuk.


"Ini untuk apa?" tanya Qonita.


"Ya untuk Kamu dan anak-anak." Dijawab Iman sedatar mungkin.


"Kenapa harus memberi semua ini?" tanya Qonita setelah menghela nafas panjang.


"Permintaan maaf."


"Kan Saya sudah bilang kalau Sa-," ucapan Qonita terhenti karena Iman langsung memotongnya


"Kalau Kamu bener-bener udah maafin Saya, Kamu harus datang minggu."


"Saya udah a-." Lagi-lagi Iman memangkas ucapan Qonita.


"Gak bisa pagi, Kamu boleh datang siang. Yang penting datang."


"Tapi Saya gak tau selesainya kapan. Bisa cepat, bisa lama. Tergantung teman Saya," balas Qonita.


"Ok. Kamu pastiin sama temen Kamu kalau selesai jam 12. Setelah itu Kamu ke rumah Nana, adik Saya. Atau Saya yang jemput?"


Qonita terbengong. "Manusia ini," batinnya. Qonita berfikir dan menghela nafas panjang.


"Baik, Saya coba tanyak dulu ke temen Saya."


"Ok. Saya tunggu kabar baiknya. Saya pulang. Mau sekalian Saya antar?"


"Makasih. Saya bawa sepeda motor sendiri. Trima kasih untuk hadiahnya. Lain kali tidak usah seperti ini."


"Hmm. Permisi. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Waalaikum salam," jawab Qonita.


❤️❤️❤️


Keesokan harinya..


Qonita heran melihat layar HP-nya. Pasalnya nama yang tertera adalah nama pria yang semalam juga mendatanginya, di sekolah.


"Assalamu'alaikum," ucap Qonita.


"Waalaikum salam. Aku diluar," jawab Iman.


"Ha?" Qonita kembali terkejut. "Ada apa lagi?" batinnya.


Di luar SMA *


Setelah hanya bejarak 2 langkah dari Qonita, Iman menyerahkan buket bunga dan 2 kantong plastik berwarna putih merk toko buku terkenal.


Qonita menghela nafas berat.


"Maaf, Saya gak bisa terima," ungkap Qonita.


"Oke. Nanti Saya titip di satpam sekolah."


"Kenapa datang lagi? Dan bukankah semalam sudah Saya bilang jangan seperti ini lagi!" ungkap Qonita kesal.


"Besok Saya gak akan kesini kalau Kamu pastikan datang hari minggu." Iman tersenyum.


Qonita terdiam. Dia lupa menghubungi sahabatnya. Semalam ia buru-buru agar tak dilihat teman-temannya membawa buket bunga itu. Namun naas, tetap ada saja yang melihatnya.


Malu, sangat malu saat ditanya dari siapa? Ia hanya menjawab titipan teman. Ia tidak berbohong bukan. Bukankan 2 paper bag itu adalah titipan teman untuk anak-anaknya. Teman, ya teman. Ehem...


"Gimana, bisa datang, kan?" tanya Iman.


"Sebentar, saya hubungi dulu temen Saya," jawab Qonita.


Mengambil HP dikantong bajunya lalu menelpon seseorang.


"Waalaikum salam, Dek. Minggu nanti bisa diganti hari gak?"


Tentu saja balasan dari teman Qonita tak kedengaran karena suaranya tidak diloudspeaker.


" Emm... hari minggu ada acara juga. Kak baru dapat kabarnya."


"Kalau sabtu nginap aja gimana. Soalnya minggu habis dzuhur Kak mau pergi, Dek."


"Oke, Dek. Maaf ya, Dek. Assalamu'alaikum."


Qonita menyimpan HP kembali di kantong bajunya.


"Baik, Saya akan datang siang. Ada acara apa di rumah adek Kamu?" tanya Qonita.


"Kumpul keluarga aja. Gak ramai kog, cuma mama, papa, adek, Jamal dan keluarganya."


Qonita mengernyit. "Syukuran atau gimana? Biar Saya tau harus bawa apa?"


Iman tersenyum kecil. "Gak usah bawa apa-apa. Cukup bawa diri dan anak-anak Kamu. Oh iya, bawa siapapun yang ingin Kamu ajak. Pengasuh anak Kamu. Atau teman Kamu tadi."


"Oh iya, Kamu bilang janji sama temen, kog panggil 'adek'?" tanya Iman.


"Oh, junior Saya waktu kuliah. Akrab sampai sekarang," jawab Qonita.


"Kalau gitu ajak junior Kamu itu," ucap Iman.


"Lho kenapa?" tanya Qonita.


"Mau minta ajari gimana caranya bisa akrab sama Kamu." Iman mengerling kepadanya.


"Assalamula'alaikum." Terpaksa kata itu yang dikeluarkan Qonita untuk memutuskan kalimat aneh Iman.


"Hahah.. Waalaikum salam. Tapi tunggu, bawa ini." Masih tertawa dan menyerahkan hadiah bawaannya.


Qonita diam. Tak menyambut pemberian Iman.


"Oke, Saya kirim ke alamat rumah Kamu."


Qonita mendesah pelan. Lalu mengambil hadian dari Iman.


"Yang terakhir," ujar Qonita pelan namun penuh ketegasan.


Iman mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Hadiah terakhir untuk hari ini." Iman terbahak-bahak.


Qonita berlalu dengan wajah cemberut yang membuat Iman makin tertawa.


❤️❤️❤️


Di rumah Qonita


Di dalam kamar Qonita membuka 2 kantong plastik yang diberikan Iman tadi. Walau dia sudah bisa menebak isi didalamnya.


Kalau semalam berisi berbagai macam mainan, kali ini berbagai macam buku anak. Lengkap dengan crayonnya. Buku itu didominasi oleh buku mewarnai anak dan buku belajar menulis.

__ADS_1


Dan kali ini buket bunganya juga berbeda. Jika semalam hanya berisi bunga segar yang indah, namun kali ini berbeda, ada sebuah jam tangan cantik ditengahnya.


Mungkin jika perempuan lain yang menerimanya akan merasa sangat bahagia. Namun tidak dengan Qonita. Ia merasa sangat berat mendapatkan hadian cantik itu.


__ADS_2