PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 11. Penjajakan Pada Keluarga Qonita


__ADS_3

"Pagi, Bos," ucap Jamal.


"Hem." Satu kata yang menjadi balasan Iman.


"Semalam ada -" Kalimat Jamal langsung dipotong iman.


"KER-JA. Bekerja sama dan sama-sama bekerja!" Iman berucap pasti. Mengerti apa yang ingin dibahas oleh asisten pribadinya itu.


"Siap, Boss." Jamal menelan ludah.


❤️❤️❤️


"Jam istirahat, Bos. Boleh ngobrol donk." Jamal menyeringai.


"Semalam ngomongin apa aja, Bos? Kayaknya dah lengket banget. Gimana Bos, dapat chemistry-nya?" tanya Jamal.


"Aku ngajak dia nikah semalam," ucap Iman datar.


"What?" Jamal terkejut.


Iman mendesis. "Kendaliin emosi Lo!" Cibirnya.


"Maaf, Bro. Kayak ada bom yang meletus. Duaarr. Bukan buat kaget, cuma buat jantungan aja," kilah Jamal.


"Ck." Iman berdecak.


"Diterima?" tanya Jamal.


"Aku kasih waktu," ujar Iman.


"Jadi ditolak? Udah Aku duga." Ejek Jamal.


"Gue revisi kalimat Lo! Gue kasih dia waktu untuk nerima Gue." Iman merasa jengkel.


"Hahahah. Waktu buat nerima? Hahah..." Jamal tak henti-hentinya tertawa.


"Diam. Lo tunggu tanggal mainnya. Lo udah bisa siapin kado dari sekarang." Iman menyeringai.


"Weiis... Nana juga neh yang bener, cooming soon." Ejek Jamal kembali. "Kadonya mau apa, Bos? Tak siapin."


Iman hanya melirik.


"Semalam pas liat dia berdua sama Ichy, rasanya tu kayak apa ya, mmm... susah untuk dijelasin. Oh iya, kayak iklan Bos, ada manis-manisnya. Apa karna itu?" Jamal menaikkan alisnya.


Iman menghela nafas. "Udah waktunya Ichy ada yang nemanin. Dia butuh pelukan yang Aku gak bisa gantiin. Aku yakin Qonita akan sayang sama Ichy kayak ke anak nya sendiri," ucap Iman sendu.


"Dari pihak sini semua setuju tanpa terkecuali, tinggal tunggu pihak sana aja. Kira-kira peluang gimana, Bos?" tanya Jamal.


"Ya itu yang harus Lo cari tau!" ucap Iman.


"What?" Jamal terkejut. "Tadi aja gak mau cerita, eh gak tau nya sekarang udah maen perintah aja." Jamal mendengus.


"Cari tau keluarganya. Susah dapetin dia kalo gak ada dukungan keluarganya. Minta bantuan istri kamu, pake cara aman, intinya kita harus pegang sodaranya yang omongannya didengar. Aku bakal jumpai abangnya dulu." Iman terlihat berpikir.


"Bonus jelas kan, Bos? Dirapel sama kado kemaren, kan?" Seringai Jamal.


"Sejak kapan Gue punya proyek thank you ke Elo. Kayak anak baru aja, ck," sungut Iman.


"Hahah... sori Bos, soalnya ini ngelibatin orang rumah. Belum kerja aja udah ditodong bonus, Bos." Jamal tertawa.


❤️❤️❤️


Setelah mendapat alamat rumah abangnya Qonita, sepulang kerja Iman langsung kesana.


"Assalamu'alaikum," ucap Iman pada seorang perempuan berhijab yang sedang berada diluar menyapu halaman.


"Wa'alaikum salam. Cari siapa?" tanya perempuan tersebut.


"Saya Sulaiman, mau berjumpa dengan Fiqri Mahatir Siregar," jawab Iman.


"Maaf Anda ini darimana dan ada keperluan apa?" tanya perempuan itu lagi.


"Saya temannya Qonita dan ada sesuatu yang ingin Saya sampaikan pada abangnya," jawab Iman datar.

__ADS_1


"Silahkan masuk. Sebentar Saya panggilkan suami Saya." Perempuan tersebut masuk kedalam.


Tak lama keluar seorang pria dengan baju rumahan namun tetap terlihat sopan.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Fiqri.


"Perkenalkan, Saya Sulaiman. Biasanya dipanggil Iman. Saya seorang duda, istri Saya meninggal 2 tahun yang lalu, saya punya seorang putri berusia 6 tahun." Iman memperkenalkan dirinya


"Maksud kedatangan Saya adalah ingin meminta izin untuk menikahi adik Abang yang bernama Qonita Yasmin Siregar," sambung Iman.


"Sudah berapa lama kenal Qonita?" tanya Fiqri.


"1 minggu lebih," jawab Iman.


"Bahkan kurang dari 2 minggu?" Fiqri terkejut.


Iman mengangguk.


"Qonita terluka sangat dalam atas pernikahannya. Bukan saja karna sakit hati dari mantan suaminya tetapi juga karna ini adalah kasus perceraian pertama bagi keluarga besar kami." Fikri berusaha menjelaskan.


"Tak mudah baginya untuk memutuskan semua ini. Ditambah status barunya yang menjadi janda bukanlah hal mudah yang harus ditanggungnya. Perceraian dibolehkan tetapi tidak disukai oleh Allah," sambung Fikri.


Fiqri menghela nafas. Lalu melanjutkan ucapannya.


"Belum sampai 1 tahun dia bercerai. Dan Kamu yang baru mengenalnya sebentar, gampang mengatakan ingin menikahinya."


"Berbeda dengan Qonita, Kamu duda karena istri kamu meninggal. Menikah kembali tak akan membebani fikiran Kamu." Fiqri memohon pengertian.


"Saya yakin adik Saya sedang menikmati masa-masa sekarangnya. Saya tidak menolak keinginan Kamu. Saya hanya ingin Kamu memikirkannya kembali."


"Siapapun orang yang datang yang menginginkannya, Saya akan menyampaikan hal yang sama." Kali ini dengan sorot mata yang tegas.


"Lupakan Qonita jika Kamu tak yakin tak akan melukai hatinya. Dia sudah tak sanggup menerima luka baru."


"Jika Kamu yakin dapat membahagiakan, tanpa ada luka, sakit hati dan sejenisnya, maka lanjutkan lah keinginan Kamu dengan usaha kamu sendiri. Saya yakin ini gak akan mudah bagi Kamu. Saya sangat mengenalnya."


"Dan Kamu juga perlu tau, Qonita terbiasa hidup dengan sederhana. Dulu, dia pernah menolak seseorang hanya karena materi yang dimiliki lelaki tersebut." Fiqri melirik ke arah mobil mewah Iman yang ada di halaman rumahnya.


❤️❤️❤️


Iman POV


Kedatanganku ke rumah abangnya membuatku semakin pusing. Semua kalimat yang keluar dari mulut abangnya tak ada 1 pun yang mengisyaratkan ku untuk melangkah maju.




Qonita terluka atas pernikahan pertamanya. Artinya, apa mungkin Qonita menginginkan pernikahan kedua mengingat pahit pernikahannya dulu?




Ini kasus perceraian pertama di keluarganya. Mana mungkin ia perbaiki dengan menikah lagi dalam kurun waktu tak kurang dari 1 tahun setelah perceraiannya.




Status janda yang kini melekat padanya tentu akan membuatnya berpikir berkali-kali untuk mengambil keputusan. Terbukti saat aku mengatakan akan mengantarnya pulang saat di rumah mama kemaren. Tak pantas katanya. Arrgh.




Lanjutkan jika hanya akan memberinya kebahagiaan tanpa ada luka. Ah, mana ada yang sanggup begitu. Manusia jelas tempatnya salah. Mana berani Aku berjanji hanya akan membahagiakannya.




Qonita tak sanggup menerima luka baru. Ah S!al, bagaimana jika dia tau kalau -, Arrrgh...

__ADS_1




Menolak seseorang karena kemewahannya. Ah, bukannya semua perempuan pasti realistis. Materi itu perlu. Yang ada orang ditolak karena tidak mapannya. Oh tidak! Gak mungkin Aku membuang sebagian hartaku, bukan?




Qonita sedang menikmati masa sekarangnya. Apa mungkin dia akan menggadaikan kebahagiannya yang sekarang dengan menikah denganku?




Abangnya yakin ini gak akan mudah bagiku. Jelas aja. Dari awal dia bahkan berkata menolak ku. Bahkan sebelum aku mengatakan ingin menikahinya. S!al.




Dan... apa mungkin dia menjadikan papi dari anak lain menjadi ayah bagi anak-anaknya, sementara ayah kandung saja ditinggalkan.




Oh.. mungkin jika aku masih berlama-lama di rumah abangnya, angka 9 ini bisa berubah menjadi 99 sangking banyaknya alasan menolak ku.


Aku harus cari cara lain. Tapi apa?


❤️❤️❤️


Sudah 3 hari belakangam ini Iman lah yang memulai pembicaraan dengan Jamal saat jam istirahat.


"Gimana, ada info apa?" tanya Iman.


"Kata Ria, ada bujingnya yang bekerja di Dinas Pendidikan, pendapatnya di dengar. Coba dekatin bujingnya. Anak bujingnya juga tergolong hebat, masih muda dan belum menikah, tapi bisa diandalkan," terang Jamal.


"Dinas pendidikan." Guman Jamal.


❤️❤️❤️


Setelah dua hari yang lalu Iman menelpon mamanya, hari ini Oma Herni serta Bu Yana, saudara dari Gagah berkunjung ke rumah Bu Jelia, bujing Qonita.


Bu Jelia terkejut dengan kedatangan perempuan yang termasuk atasannya itu.


Setelah sedikit berbasa basi, akhirnya Bu Yana memberitahukan maksud kedatangan mereka tentang niat Iman yang ingin menikahi Qonita, ponaan Bu Jelia.


"Saya tidak bisa membantu banyak Bu, semua terserah pada Qonita. Saya sebagai keluarganya hanya ingin yang terbaik baginya," ucap Bu Jelia.


"Tentu saja Bu, Saya juga demikian. Anak saya mungkin bukan lelaki terbaik, tapi kali ini saya yakin Iman akan menjadi suami yang baik untuk Qonita dan menjadi Papi yang baik bagi anak-anak Qonita," ucap Oma Herni.


"Karena selama ini kami banyak mengenalkan perempuan pada Iman, namun Iman bersikeras menolak. Hanya pada Qonita lah Iman mau, bahkan dia sendiri yang meminta bantuan Saya." Oma Herni senang mengingat Iman yang bersungguh-sungguh mendekati Qonita.


❤️❤️❤️


Keesokan harinya Iman mendatangi rumah Bu Jelia. Bu Jelia meminta pada Oma Herni agar mengenal Iman terlebih dahulu.


Banyak pertanyaan yang diajukan Bu Jelia pada Iman, sebagian besar berkaitan dengan Agama. Alasannya adalah rumah tangga yang dilandasi Agama InsyaAllah akan diRidhoi Allah.


Tak lama Yahya, anak pertama Bu Jelia datang dan ikut berbincang bersama. Pembicaraan terlihat santai tatkala mereka membahas tentang usaha yang digeluti Iman.


❤️❤️❤️


"Gimana menurut Kamu tentang Iman, Nak?" tanya Bu Jelia sepulang Iman dari rumah mereka.


"Mapan dan bertanggung jawab. Sepertinya pantas untuk Kak Qonita," jawab Yahya.


"Dari jawaban-jawabannya juga sangat percaya diri, tegas namun tetap sopan dan santai. Mamak juga suka." Bu Jelia terlihat menyukai Iman.


"Laki-laki mapan sudah sendiri selama 2 tahun, malah kecantol sama kakak sepupu Kamu. Sepertinya Qonita belum menerimanya, makanya dia mencari jalan lain lewat kita. Mamak akan hubungi Bang Fiqri."

__ADS_1


__ADS_2