PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 157 Mantan Berulah Lagi


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Qonita sudah selesai mengajar. Seperti biasa, dia menuju luar gerbang, karenw supirnya, Om Adi menunggu di luar.


"Qonita." Suara laki-laki memanggil Qonita. Qonita menghela nafas, ada apa mantan suaminya itu menemuinya di depan sekolah.


Qonita melihat ke arah suara. Dia menunggu mantan suaminya itu mendekat.


"Assalamu'alaikum. Ada apa Bang?" tanya Qonita.


"Wa'alaikum salam. Ada yang perlu Aku bicarakan sama Kamu," ungkap mantan suaminya.


"Tentang?" tanya Qonita singkat.


"Rumah kita. Aku mau itu dijual. Uangnya kita bagi dua."


Deg


Qonita terkejut mendengarnya.


"Rumah itu milik Qonita, bukan milik bersama. Abang gak ada hak atas rumah itu," ungkap Qonita marah.


"Rumah itu dibeli saat kita masih bersama. Lagian harusnya Kamu bisa berbelas kasih menyerahkan rumah itu untuk ku. Suami Kamu kan sangat kaya, Dek. Rumah sekecil itu gak ada artinya baginya," seru mantan suami Qonita.


"Rumah itu dibeli 100% pakai uang Qonita. Qonita jual tanah yang Qonita punya sebelum menikah dengan Abang. Kekurangannya dan segala isinya juga pakai uang tabungan Qonita. Abang gak ada hak sama sekali atas rumah itu." Qonita pergi meninggalkan mantan suaminya.


"Dek," mantan suami Qonita menarik lengan baju Qonita.


"Lepas, Bang." Qonita menghentakkan tangannya agar tangan mantan suaminya terlepas.


"Ada apa, Bu?" Om Adi sudah keluar dari dalam mobil.


"Gak apa, Om. Kita pulang aja." Qonita memasuki mobil, Om Adi menutup pintunya.


Om Adi masih berdiri di depan pintu mobil karena mantan suami Qonita masih memanggil-manggil Qonita dengan mengetuk-ngetuk kaca mobil.


"Dek, kita bagi dua Dek. Abang perlu uang," imbuh mantan suami Qonita.


"Kalau Abang perlu uang, Abang kerja." Qonita membuka sedikit kaca jendela mobil.


"Abang perlu banyak, Dek." Mantan suami Qonita terlihat memohon.


"Jatah warisan Abang kan ada. Abang bisa jual itu, kan?" sahut Qonita.


"Gak, Dek. Itu untuk tempat tinggal Abang nanti. Abang gak bisa jual rumah itu."


"Sama, Bang. Qonita juga gak bisa memberi rumah itu untuk Abang. Itu rumah Qonita," ujar Qonita. "Ayo Om, kita pulang." Qonita menatap pada Om Adi.


Om Adi pun masuk kedalam mobil lalu menjalankan mobil.


"Dek... Dek. Abang akan tuntut ke pengadilan Dek." Mantan suami Qonita berteriak.


Qonita menghela nafas panjang. Dia mengusap perutnya.


"Astagfirullah." Qonita beristigfar.

__ADS_1


"Apa kita cari minum dulu, Bu?" tanya om Adi.


"Gak usah Om, minum Saya masih ada." Qonita membuka tasnya. Dia ambil botol minum yang berisi air setengah dari botolnya itu. Lalu dia minum tiga kali teguk.


❤️❤️❤️


Kantor Iman


Iman sedang membahas sebuah proyek dengan Jamal. Tiba-tiba HP nya berdering. Dia buru-buru mengangkat telfon dari Om Adi tersebut karena takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Ada apa, Om?" tanya Iman tanpa mengucap salam.


Jamal dapat melihat dahi bosnya itu berkerut. Dia tidak dapat mendengar suara orang yang menelfon sahabatnya itu.


"Br3ng s3k! Qonita gimana?" Iman terdengar mengumpat.


"Oke, kalau ada apa-apa, kabari Aku." Iman memutus panggilan itu.


"Ada apa, Bro?" tanya Jamal.


"Mantan suami Qonita datang ke sekolah. Dia minta rumah yang Qonita tempati kemaren dijual, trus uangnya dibagi dua."


"Rumah itu atas nama siapa?" tanya Jamal.


"Entahlah, Aku gak tahu. Tapi kata om Adi tadi dia dengar Qonita bilang kalau mantan suaminya gak ada hak atas rumah itu karena Qonita membelinya pakai uangnya sendiri.


"Trus apa rencana Kamu?" tanya Jamal.


"Sikat aja. Laki-laki kayak gitu gak bisa dikasih hati."


"Tapi Kamu harus hati-hati. Qonita lagi hamil." Jamal memperingatkan bosnya.


"Hem."


❤️❤️❤️


"Poppy boleh kerja disini gak, Mas Agil?" tanya Poppy pada Agil.


Agil, Mayang, Poppy duduk bertiga di sofa. Tentu saja Agil duduk bersebelahan dengan Mayang. Tangannya merangkul pinggang Mayang.


"Kenapa Kamu pengen kerja di sini? Bukannya lebih baik Kamu kerja di Bali aja. Kamu anak perempuan satu-satunya, lebih baik tinggal di dekat orang tua Kamu," ungkap Agil.


"Tapi perusahaan Mas Agil keren banget. Tempatnya nyaman begini. Poppy pengen kerja disini," seru Poppy.


"Bener apa yang dikatakan Poppy, Mas. Aku juga jadi pengen kerja disini. Seru juga kayaknya kalau Aku ikut nemani Kamu kerja setiap hari ya, Mas." Mayang tersenyum pada Agil.


"Sesuai keinginan Kamu, Baby. Kapan pun Kamu mau. Tapi Aku gak kasih meja dan kursi untuk Kamu, ya," ungkap Agil.


"Lho, kenapa gitu, Mas?" tanya Mayang merengut.


"Biar Kamu duduk dipangkuanku aja. Hahaha..." Agil tertawa puas.


"Mas..." Mayang merasa malu mendengarnya.


Sementara Poppy terlihat kesal melihat kemesraan Agil dan Mayang.

__ADS_1


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


"Ada yang mau Kamu ceritakan, Sayang?" tanya Iman pada istrinya ketika mereka sedang berdua di kamar.


Iman sedang mengelus perut istrinya, sesekali dia ciumi perut buncit istrinya itu. Sedari tadi Iman sudah menunggu istrinya menceritakan kejadian di sekolah tadi siang, tetapi Qonita tidak membahasnya sama sekali.


"Tentang ayahnya anak-anak ya, Bang?" tanya Qonita.


"Hem." Iman mengangguk.


"Bukannya Qonita gak mau cerita ke Abang, tapi Qonita males kalau udah berhubungan dengannya. Bukannya kasih nafkah ke anak-anaknya, malah minta rumah dijual."


"Rumah itu atas nama siapa, Sayang?" tanya Iman pada istrinya.


"Sertifikatnya atas nama Qonita, Bang. Kan belinya pakai uang Qonita. Qonita sampai jual tanah Qonita untuk membelinya."


"Jadi kenapa dia sampai meminta Kamu untuk menjualnya?" tanya Iman heran.


"Mungkin dia dikompori sama temen-temennya, Bang. Soalnya kemaren ada tetangga kami yang bercerai, rumah dijual dan dibagi dua."


"Dia gak bekerja ya, Sayang?"


"Kayaknya sampai sekarang nggak, Bang."


"Trus, biaya hidupnya dari mana?" tanya Iman bingung.


"Dari orang tuanya. Kan masih tinggal sama orang tuanya, Bang."


"Waktu masih nikah sama Kamu, dia kasih uang ke Kamu uang yang dari orang tuanya, gitu?"


"Ya nggak, Bang. Dulu, awal nikah, dia masih kerja. Setahun pernikahan kami, dia dipecat. Target nggak tercapai. Habis itu dia dirumah aja, jaga anak-anak. Trus malam kumpul-kumpul sama temen-temennya, ngopi, ya minta uang sama Qonita. Dari situ dia mulai ikut-ikutan selingkuh. Ketahuan sama Qonita. Kami ribut."


"Jadi mulai dari situ dia gak pernah kasih Kamu nafkah?" tanya Iman.


Qonita menggeleng. "Malah Qonita ngeluarin uang untuk jajannya, Bang."


"Kenapa Kamu kasih? Kalau tahu dia udah selingkuh."


"Nggak. Setelah Qonita tahu dia selingkuh, Qonita gak kasih uang lagi. Makanya sering ribut."


"Keluarganya gak ada yang nyuruh dia cari kerja, Sayang?"


"Kan alasannya jaga anak, Bang. Vivi kan ikut Qonita setelah kami berpisah," ungkap Qonita.


Iman mengangguk-angguk mengerti. "Jadi apa rencana Kamu, Sayang? Aku dengar dari om Adi dia ngancam nuntut Kamu."


Iman ingin mendengar pendapat istrinya, agar dia tahu harus bertindak seperti apa nanti.


"Biarin aja lah, Bang. Kalau mau lapor ya silahkan aja. Dari bukti-bukti gak ada yang memberatkan Qonita kog. Lagian dia gak akan berani lapor. Palingan cuma ngancam aja. Bukannya memperbaiki diri, malah semakin gak punya malu," keluh Qonita.


"Ya udah Sayang, kita istirahat aja, ya. Kalau ada apa-apa cerita ke Aku, jangan diam aja."


"Iya, Abang sayang. Qonita tahu, gak pun Qonita ceritakan, pasti infonya sampe ke Abang," cibir Qonita.

__ADS_1


"Hahaha... Kamu tuh bisa aja seh, Sayang." Iman memeluk dan menc1 um dahi istrinya.


❤️❤️❤️


__ADS_2