Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
100


__ADS_3

Nathan baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah. Sebelum menuju ke Mansion Alexander, dia sengaja pulang untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Namun, ketika sudah berada di dalam rumah dan menyusuri hampir semua ruangan, dia tidak melihat keberadaan orang tuanya sama sekali.


"Tuan Muda, Anda sudah pulang?" sapa seorang pelayan di rumahnya.


"Sudah. Kenapa rumah sepi sekali? Ayah bunda ke mana?" Nathan balik bertanya.


"Mereka sedang keluar bersama Tuan Rayhan dan Nyonya Queen." Pelayan itu berbicara dengan sopan.


"Baiklah. Aku hanya pulang untuk mengambil ponsel." Nathan bergegas pergi meninggalkan pelayan itu. Dalam hati, berbagai pertanyaan seolah mengusiknya. Sebenarnya, ke mana mereka pergi? Bahkan Nathan mulai curiga kepada ayahnya yang sama sekali tidak heboh karena Nadira diculik. Lelaki paruh baya itu hanya memarahinya tanpa segera meminta Mike mencari Nadira. Namun, Nathan mencoba menepis kecurigaannya.


Sesampainya di kamar, Nathan menghidupkan ponselnya dan menunggu dengan tak sabar. Setelah ponsel itu menyala, dia segera mencari kontak nomor dan menekan icon panggil setelah menemukan nama Zack.


"Zack! Bagaimana?" tanya Nathan tanpa basa basi.


"Maafkan saya, Tuan. Saya kehilangan jejak dan ponsel Nona Muda tidak bisa dilacak."


"Bodoh!" umpat Nathan penuh amarah. "Lihat saja, Zack! Kalau sampai besok pagi istriku tidak ketemu, maka aku tidak akan segan-segan memenggal kepalamu!"

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan. Saya akan berusaha mencari di mana Nona Muda."


"Kamu harus bisa menemukannya, Zack!"


"Baik, Tuan."


Panggilan itu pun terputus. Nathan menjambak rambut dengan kencang. Sungguh, dirinya benar-benar frustasi saat ini. Kehilangan Nadira, membuat lelaki tersebut seolah kehilangan separuh hidupnya.


Nathan sudah merasakan tubuhnya sangat lelah karena seharian ini belum beristirahat. Dia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sebentar. Dengan menjadikan kedua lengan sebagai bantal, lelaki itu menatap langit-langit kamar berusaha menerka-nerka. Nadira diculik, tapi mereka hanya memarahi dirinya tanpa langsung bertindak. Sungguh membuat Nathan menjadi sangat curiga.


Ia segera bergegas bangun saat melihat jam di dinding hampir menunjukkan angka tujuh. Dia harus bergegas menuju ke mansion Alexander karena mengingat ancaman Alvino yang tidak pernah main-main.


***


Nathan mengerutkan kening saat sudah berada di pelataran Mansion Alexander, ada beberapa mobil yang dia kenali terparkir di sana, termasuk mobil ayahnya juga. Dia pun segera turun dan berjalan cepat masuk ke dalam mansion. Namun, suasana di ruang tamu mansion itu tampak sepi, bahkan tidak ada seorang pun yang berada di sana. Kemudian, dia berjalan menuju ke ruang keluarga yang gelap gulita.


"Tumben banget lampunya belum dinyalain," gumamnya dengan tangan menekan saklar lampu.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun."


Nathan terkejut saat lampu ruangan itu menyala bersamaan lagu ulang tahun menggema di sana diiringi tepuk tangan yang begitu meriah. Dia segera berbalik dan melihat seluruh anggota keluarganya sudah berdiri dengan binar bahagia menyanyikan lagu itu. Nathan sendiri justru lupa kalau hari ini dirinya sudah genap berusia duapuluh delapan tahun.


Namun, yang lebih membuat Nathan membisu adalah saat pandangan matanya menatap sosok wanita muda yang kini sedang memegang roti ulang tahun dengan lilin menyala. Dengan langkah setengah berlari, Nathan mendekat lalu menarik wanita itu masuk dalam dekapannya. Bahkan kue ulang tahun itu, hampir saja terjatuh kalau saja Mila tidak segera mengambil alih.


"Kamu membuatku khawatir, Sayang." Nathan menciumi puncak kepala Nadira dengan penuh kasih sayang. Hati Nathan merasa begitu lega, karena istrinya baik-baik saja. Mereka yang berada di sana pun hanya menatap pengantin gagal malam pertama itu dengan binar bahagia.


Ternyata Daddy tidak salah memilih Nathan sebagai pendamping hidup Nadira. Batin Alvino mengusap airmata di sudut mata. Melihat Nathan yang langsung memeluk Nadira bahkan tanpa peduli yang lain, membuat Alvino benar-benar yakin kalau sahabatnya itu, sangat mencintai dan menyayangi adiknya.


"Maafkan aku, Kak. Aku juga enggak tahu ini rencana mereka." Nathan melepas pelukan tersebut lalu menatap Nadira penuh cinta. Bibir Nathan tersenyum simpul saat melihat wajah Nadira yang tampak kesal.


"Kamu pasti sangat ketakutan waktu itu." Nathan kembali memeluk Nadira, memberi kenyamanan untuk wanita itu.


"Ehem! Ehem!" Beberapa dari mereka terlihat berdeham.


"Bisa-bisa kita makan kue rasa lilin, Nat," kata Mila menatap lilin yang mulai meleleh.

__ADS_1


"Biarin aja! Salah sendiri kalian keterlaluan." Nathan bicara dengan santai tanpa melepas pelukannya sedangkan mereka hanya melongo saat mendengarnya.


__ADS_2