
Hari sudah hampir siang, tetapi Nathan maupun Nadira masih tertidur lelap di bawah selimut tebal. Mereka masih kelelahan karena begadang juga percintaan semalam. Di saat masih asyik terlelap, tiba-tiba terdengar suara pintu digedor dengan sangat kencang, membuat mata pasangan suami istri itu, seketika terbuka lebar.
"Nat! Bangun! Baby Jin mencarimu!" Teriakan Alvino terdengar begitu menggelegar. Nathan bergegas bangun, sedangkan Nadira masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Mendengar suara tangisan bayi, Nathan semakin melangkah lebar dan membuka pintu dengan gerakan cepat. Begitu pintu sudah terbuka lebar, Nathan melihat Alvino yang sedang berusaha menenangkan Baby Jin. Nathan pun segera meraih bayi mungil itu, dan menimangnya perlahan. Tanpa menunggu waktu lama, tangisan Baby Jin langsung terdiam.
"Bagaimana bisa anakku sangat menyukai Kaleng Rombeng sepertimu," ucap Alvino. Dia bernapas lega karena tangisan putri kecilnya sudah berhenti.
"Pergilah, Al. Aku masih ngantuk, biar Baby Jin tidur denganku. Kamu bawa susu 'kan?" tanya Nathan. Alvino mengangguk dengan cepat, dia menyerahkan botol susu kepada Nathan.
Setelah botol susu berada dalam genggaman, Nathan segera menutup pintu kamar. Kemudian, dia berjalan menuju ke tempat tidur. Nadira yang sedang duduk pun, terlihat tersenyum lebar saat melihat keponakannya yang cantik.
"Hai, Baby Jin, onty sangat merindukanmu." Nadira mendaratkan ciuman di kedua pipi Baby Jin. Bayi itu menggeliat sembari mencari makanannnya, Nathan pun segera memberi botol yang sudah berisi susu hangat.
"Lihatlah, dia lahap sekali." Nadira terlihat begitu antusias.
"Nanti kalau bayi kita sudah lahir, kira-kira Baby Jin bakal cemburu enggak ya?" Tangan Nathan memeluk Nadira dengan Baby Jin di dalamnya. Dia tersenyum lebar saat membayangkan betapa bahagia keluarga kecilnya kelak.
"Semoga saja tidak," sahut Nadira. Dia masih saja menatap Baby Jin dengan penuh cinta.
Setelah selesai menyusu dan bayi mungil itu sudah tertidur lelap, Nadira menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Nathan memejamkan mata hendak kembali terlelap. Namun, tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Dengan malas, Nathan turun dari tempat tidur dan berjalan untuk kembali membuka pintu.
__ADS_1
"Jinny sudah tidur?" tanya Alvino. Nathan hanya mengangguk cepat sebagai tanggapan. "Syukurlah. Dari rumah dia terus aja nangis." Alvino menghela napas lega.
"Mungkin dia kangen sama ketampanan aku, Al." Nathan tergelak keras, tetapi sesaat kemudian, dia menutupi tawanya.
"Kamu enggak tampan, tapi mesum!" cebik Alvino, "aku tunggu di bawah untuk sarapan. Ingat, Nadira harus banyak makan makanan bergizi."
"Siap, Kakak Ipar!" Nathan berdiri tegak dengan posisi tangan seperti hormat pada bendera. Alvino terkekeh lalu menonyor kepala Nathan karena dia begitu gemas dengan adik iparnya tersebut. Alvino pun berpamitan pergi dari kamar.
***
Seusai membersihkan diri, Nathan dan Nadira turun bersama Baby Jin dalam gendongan. Mereka tidak mau meninggalkan bayi yang sudah mulai hendak tengkurap tersebut di kamar. Ketika sampai di ruang keluarga, suasana di sana tampak ramai karena keluarga Johan juga datang berkunjung.
"Bagaimana keadaanmu, Nad? Apa kamu mual-mual?" tanya Mila.
"Syukurlah. Apa kamu ngidam aneh-aneh?" tanya Mila lagi.
"Dia jadi hobi makan tempe, Bun. Semalam aja, jam dua pagi minta cilok isi tempe," adu Nathan. Semua melongo saat mendengar ucapan Nathan.
"Mungkin karena papi tampannya hobi sama tempe." Kali ini, Rayhan yang membuka suara. Namun, sesaat kemudian lelaki itu terdengar merintih saat tangan Queen memukul lengannya dengan kencang. "Sakit, Sayang."
"Hubby, bisakah kamu tidak berbicara semesum itu? Ingat, ada bayi di sini." Queen mencebik kesal. Rayhan pun mencium pipi istrinya dengan mesra.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Aku mencintaimu," ucap Rayhan dengan suara sexy yang membuat wajah Queen merona merah.
"Ehem! Kalian tidak sedang berdua doang," sindir Nathan. Rayhan tidak menjawab, hanya menatap tajam ke arah adiknya yang sangat menyebalkan.
"Nad, jaga kandunganmu, Queen juga. Kandungan kalian masih rawan. Usahakan jangan terlalu lelah dan batasi dulu hubungan intim kalian," nasihat Johan. Dua ibu hamil itu pun hanya mengangguk mengiyakan. Walaupun Queen adalah seorang dokter kandungan, tetapi dia tetap mendengarkan nasihat ayah mertua untuk menghormatinya.
"Ingat-ingat, nih, buat kalian calon ayah dan papi muda. Sebelum kehamilan istri kalian masuk bulan ketiga dan empat maka perbanyaklah stok sabun di rumah," imbuh Mila diiringi gelakan tawa. Mereka memutar bola mata malas, sedangkan Johan menatap kesal ke arah istrinya.
"Bunda tenang aja. Pasti Nathan ikuti saran dari Bunda." Nathan berbicara seolah sangat bangga dengan bundanya.
"Bagus, meski tidak senikmat saat masuk lubang, setidaknya sedikit mengobati hasrat kalian," seloroh Mila.
"Bunda!"
"Mila!"
"Ah!! Sakit, Mas." Mila merintih saat Johan mendaratkan sebuah sentilan di keningnya.
"Jaga bicaramu, Mil. Kamu ini sudah jadi nenek sekarang. Tidak seharusnya—" Ucapan Johan terhenti saat Mila mencium bibirnya secara tiba-tiba.
"Astaga. Ingat, kalian udah mau punya banyak cucu!" cebik Rayhan. Sementara Nathan justru bersorak kegirangan.
__ADS_1
"Bunda benar-benar hebat. Hanya bunda yang bisa menghentikan omelan ayah," ucap Nathan. Johan berusaha melepaskan ciuman Mila, tetapi Oma Muda itu justru semakin gencar melakukannya.