Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
208


__ADS_3

Sementara itu, di rumah Cacha, Mila sedang beberes karena besok pagi dia akan kembali ke Jakarta. Sebenarnya, dia masih ingin di sini, apalagi ada Fey di rumah ini, dia takut akan terjadi apa-apa dengan Cacha nantinya. Namun, Johan memaksa pulang dan meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Dia yakin kalau Cacha bisa menjaga diri dengan baik. Dia pun sudah mengerahkan anak buah di seluruh penjuru rumah itu untuk berjaga-jaga.


"Mas, kenapa aku selalu saja merasa gelisah?" tanya Mila. Dia memeluk erat tubuh suaminya yang langsung membalas pelukan itu.


"Percayalah semua akan baik-baik saja. Kita sebagai orang tua, lebih baik mendoakan dan jangan berpikir macam-macam." Johan mencium kening Mila dengan sayang, wanita itu pun semakin mengeratkan pelukannya.


"Lagian kenapa sih, Mike bawa Fey tinggal di sini?" tanya Mila kesal.


"Mike pasti ada alasan tersendiri kenapa membawa wanita berbahaya itu ke sini. Kamu tenanglah, aku terus memantau mereka." Mila tidak lagi menyahuti, hanya menanggapi dengan anggukan.


Mila pun melepas pelukan, bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar karena Johan meminta secangkir kopi hitam. Ketika sedang berjalan menuju ke dapur, dia melihat Fey yang sedang berjalan mengendap-endap hendak menuju ke kamar Cacha. Dengan langkah lebar, dia mendekati wanita itu.


"Ta-Tante," panggil Fey tergagap. Wajahnya terlihat sangat gugup seperti maling ketahuan.


"Kamu sedang apa?" tanya Mila menahan amarah.


"A-aku sedang lihat-lihat rumah ini, Tante. Untuk melihat desainnya," sahut Fey asal.

__ADS_1


"Oh, begitu. Aku tahu kamu saudara jauh Mike, tapi kamu harus ingat kalau di sini tamu, jadi bersikaplah sebagaimana tamu yang memiliki sopan santun," sarkas Mila.


Fey hanya mengangguk, meminta maaf lalu berpamitan pergi. Tangannya terkepal erat saat ucapan Mila tadi seperti sebuah sindiran untuknya. Fey masuk ke kamar dan menutup pintu cukup kencang. Setelahnya, dia menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kasur.


"Kurang ajar sekali wanita itu!" geram Fey.


Ponsel Fey terdengar berdering, dengan segera dia mengangkat panggilan tersebut. "Hallo, Pa."


"Fey, bagaimana kabarmu? Apa kamu menikmati liburanmu?" tanya Yosie.


"Tidak! Aku hanya di rumah terus. Seperti burung dalam sangkar." Fey menjawab malas.


"Tidak juga. Di sini ada mertua Mike, dan sepertinya mereka sangat garang dan bisa tahu maksud aku."


"Tidak apa. Lakukan saja dengan perlahan, aku yakin pasti ada celah untuk mencari kelemahannya."


"Ya, semoga saja."

__ADS_1


Setelah puas berbincang-bincang, Fey segera mematikan panggilan itu. Dia mendesah kasar, untuk meluapkan emosi yang begitu menggebu.


***


Singapura


Yosie duduk tenang di kursi kebesaran. Dia menghisap dalam rokok yang tersemat di sela jarinya. Berbagai ide licik untuk menjatuhkan Mike sudah dia susun dengan rapi. Dia sangat yakin kalau bisa menaklukan Mike dengan mudah, apalagi Fey bilang kalau istri Mike hanyalah gadis manja.


"Louis ... Louis, pintar sekali kamu menyembunyikan putramu, tapi sayang semua percuma. Sebentar lagi putramu akan berada dalam kuasaku. Kalau dia berani melawanku maka jangan salahkan aku kalau dia akhirnya akan menyusulmu. Hahaha." Tawa Yosie menggelegar di ruangan itu. Dia sangat yakin kalau bisa menjatuhkan Mike dan kekayaan keluarga Anderson akan menjadi miliknya kelak.


Sementara itu di sebuah apartemen, Clara duduk lemas di samping wastafel. Sejak tadi dirinya terus saja mual bahkan muntah. Dia memijat pelipis untuk mengurangi rasa sakit di kepala yang begitu mendera.


"Kenapa aku mual seperti ini? Padahal aku tidak makan yang aneh-aneh." Clara terus saja memijat, tetapi beberapa detik kemudian pijatannya terhenti saat dirinya mengingat sesuatu.


"Mungkinkah aku benar-benar hamil?" Clara bangun dengan mengerahkan tenaga yang tersisa. Dia berjalan mendekati nakas untuk mengambil testpack yang selalu disimpan. Setelahnya, dia kembali ke kamar mandi dan melakukan petunjuk yang berada di pembungkus alat tersebut.


Clara merasa tidak tenang saat menunggu hasilnya. Satu menit berlalu, Clara mengangkat testpack itu dengan sangat gugup. Dia menutup mulut tak percaya saat melihat dua garis merah terlihat di sana.

__ADS_1


"I-ini tidak mungkin! A-aku hamil." Air mata Clara mengalir tanpa sadar.


__ADS_2