
Perusahaan Alexander Group.
Alvino memijat pelipisnya saat merasakan sakit kepala saat mendengar kabar kalau adiknya diculik. Dia merasa begitu khawatir dan cemas. Takut terjadi apa-apa dengan Nadira. Namun, ada kecurigaan yang dia rasakan, karena ponsel Nadira masih tetap aktif hanya saja puluhan panggilannya tidak ada yang diangkat sama sekali.
"Ken, kamu sudah bisa melacak di mana keberadaan Nadira?" tanya Alvino lemah. Dia merasa begitu pasrah.
"Lombok," sahut Kenan singkat. Raut wajah Alvino terlihat begitu terkejut.
"Kalau Kaleng Rombeng?" tanya Alvino lagi.
"Sama aja, mereka di Lombok semua. Sepertinya mereka saat ini sedang berbulan madu," tebak Kenan. Helaan napas berat terdengar keluar dari mulut Alvino. "Sudahlah, Al. Sudah cukup kamu ngerjain adik ipar kesayanganmu itu." Kenan menutup mulut berusaha menahan tawa, sedangkan Alvino sudah menatap sangat tajam ke arahnya.
"Aku tidak memungkiri kalau aku sekarang sudah tenang, Ken. Karena Nadira sudah menjadi milik Nathan. Aku tahu Kaleng Rombeng bisa menjaga Nadira dengan sangat baik." Alvino menghela napas panjang, lalu menghembuskan secara perlahan.
"Ya, sekarang kamu bisa fokus pada kelahiran Baby JJ." Suara Kenan terdengar begitu berat, dengan wajah yang tampak sendu.
"Bersabarlah, Ken. Aku yakin sebentar lagi kamu akan diberi keturunan." Alvino berusaha memberi ketenangan untuk sahabatnya.
"Aku pasti bersabar, Al. Tapi kedua orang tuaku selalu menuntut untuk segera punya momongan. Kamu tahu 'kan kalau aku ini anak tunggal," kata Kenan. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku khawatir Ana akan mendapat beban pikiran."
__ADS_1
"Aku doakan semoga istrimu cepat hamil. Kalaupun masih lama dan orang tuamu terus menuntut. Biar aku yang bicara dengan mereka," tegas Alvino.
"Terima kasih banyak, Al. Kamu memang sahabat terbaikku." Alvino hanya mengiyakan.
"Lebih kita pulang sekarang, Ken. Istriku pasti sudah menunggu." Dua pria tampan itu, beranjak bangun lalu keluar ruangan untuk kembali pulang ke mansion.
***
Setelah satu jam lebih berendam 'mandi' di bathup berdua, kini pengantin baru itu keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang melekat di tubuh mereka. Nathan masih dengan setia membopong Nadira, lalu mendudukkan di tepi tempat tidur.
"Tunggu sebentar, Beb. Aku ambilkan baju gantimu." Nathan berjalan mendekati koper.
"Ganti baju apaan, Mas? Bahkan enggak ada satu pun pakaian yang layak ku pakai!" Nadira mencebik kesal dengan tangan terlipat di depan dada.
"Bunda benar-benar hebat dan tahu bagaimana selera putranya yang paling tampan ini," ucap Nathan dengan bangga.
"Cih!" decih Nadira, dia benar-benar merasa begitu kesal. "Aku pakai kaos kamu saja, Mas. Aku enggak mau pakai baju telanjang itu."
"Pakai ini saja, Beb. Aku yakin kalau kamu akan terlihat begitu sexy." Nathan bicara dengan nada yang begitu sensual.
__ADS_1
"Ogah!" Nadira melipat tangan di depan dada. Nathan duduk di samping Nadira, lalu mendaratkan ciuman di pipi wanita tersebut.
"Terus kamu mau telanjang terus menerus? Baiklah, jangan salahkan aku kalau kita akan bermain sepuluh ronde dan aku akan pastikan kamu tidak bisa ke mana-mana," bisik Nathan tepat di telinga Nadira. Dengan gemas, Nadira memukuli Nathan sampai tidak sadar jubah mandinya terbuka dan pemandangan yang begitu menggairahkan terpampang jelas di depan mata Nathan.
"Kenapa kamu begitu menggodaku, Sayang?" Nathan menyeringai, dan perasaan Nadira mendadak tidak nyaman.
"Mas, aku lelah." Nadira merengek, tapi Nathan tidak peduli dan semakin memajukan wajahnya. Dia mendaratkan ciuman di leher Nadira, membuat kissmark yang semakin memenuhi leher wanita itu.
Nathan kembali memberi sentuhan-sentuhan hingga membuat Nadira begitu terbuai. Bahkan rasa sakit dan lelah, menghilang dalam sekejap.
"Mas," desa* Nadira saat Nathan meremas salah satu bukit kembarnya. Sungguh, dia kembali terlena. Namun, tiba-tiba Nathan beranjak bangun, duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan.
"Sudah! Kita istirahat dulu, Sayang. Kasihan si Othong udah muntah dua kali. Tahan sebentar ya."
"Kak Nathan! Kamu sangat menyebalkan!" pekik Nadira, tapi Nathan tetap terlihat tenang. Jari nya menggulir layar ponsel untuk mencari kontak sang bunda.
Aku harus berterima kasih dengan bunda, dia memang ibu yang bisa diandalkan. Sekaligus, aku mau tanya gaya apa yang bisa membuat Nadira lekas hamil.
Jangan lupa dukungannya.
__ADS_1
Jempol jangan lupa dikondisikan, masih aman kan?
Belum bosen part uwu-uwu nya kan?