Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
223


__ADS_3

Yosie semakin frustasi setelah kepergian Fey padahal dirinya belum bisa menemukan keberadaan Clara sama sekali. Dia sangat yakin kalau Alan ikut andil membantu kepergian Fey. Banyak anak buah yang dia kerahkan untuk mencari keberadaan Fey dan Alan juga Clara, tetapi tidak ada satu pun yang bisa menemukannya.


"Kalian ke mana!" teriak Yosie. Dia melempar botol alkohol yang masih berisi setengah sehingga botol itu hancur berserakan di atas keramik.


"Tuan," panggil salah seorang anak buah yang baru saja masuk. Tubuhnya terlihat gemetar saat melihat kemarahan majikannya karena baru kali ini Yosie terlihat semarah ini.


"Ada apa? Kalau kamu hanya ingin bilang tidak bisa menemukan mereka, lebih baik pergilah! Sebelum aku memenggal kepalamu!" bentak Yosie.


"Saya memang belum bisa menemukan mereka, tapi saya membawa pesan kalau Tuan Johan dan Tuan Mike mengajak Anda bertemu di restoran," ucapnya memberanikan diri.


"Restoran mana?" Yosie menatap anak buah itu dengan menyelidik.


"Restoran XX, Tuan."


"Baiklah, aku akan temui mereka dan aku punya ide bagus. Aku sudah terlalu lama membiarkan mereka bernapas lega dan sekarang mereka harus membayar semuanya! Karena mereka aku kehilangan orang-orang yang aku cintai!"


Tangan Yosie terkepal erat dengan rahang mengeras. Dia sudah bertekad untuk menghancurkan mereka semua kalau bisa termasuk Richard maka seluruh kekayaan Anderson akan menjadi miliknya.


"Siapkan semuanya!" Yosie segera beranjak bangun dan menuju ke restoran yang telah ditentukan setelah memberi perintah pada anak buahnya. Bibir lelaki itu menyeringai karena dia sangat yakin setelah ini bisa menaklukan mereka.


***


Johan duduk dengan tenang bersama Mike ditemani dua cangkir kopi. Sesekali Mike menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap panas sembari menunggu kedatangan Yosie yang katanya sedang dalam perjalanan. Benar saja, selang beberapa menit, Yosie masuk dengan langkah tegas.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama." Yosie berbasa-basi mengulurkan tangannya. Johan dan Mike pun bergantian menyambut uluran tangan tersebut. Setelahnya, Yosie duduk berhadapan dengan Mike dan juga Johan.


"Ada perlu apa kalian mengajakku bertemu?" tanya Yosie penasaran.


"Kalau aku bilang ingin menyerahkan ahli waris kekayaan Anderson padamu, apa kamu akan percaya, Kek?" tanya Mike dengan tenang.

__ADS_1


"Tentu saja tidak! Aku bukan orang bodoh yang mudah kamu jebak!" Yosie tersenyum meremehkan.


"Aku tahu kalau kamu orang yang sangat cerdas, Kek," puji Mike diiringi tepuk tangan.


"Jangan kebanyakan bicara! Katakan di mana kamu sembunyikan Fey!" seru Yosie.


"Kita tidak menyembunyikan putri Anda, tetapi Nona Fey yang memang memilih pergi dari kehidupan Anda, Tuan." Kali ini, Johan yang membuka suara. Dia kembali menyeruput kopi bahkan tanpa menawari Yosie yang membuat lelaki itu semakin menggeram kesal karena merasa dipermainkan.


"Kalian bohong! Fey tidak mungkin berani pergi dariku!" bentak Yosie. Namun, Mike dan Johan tetap terlihat tenang.


"Terserah mau percaya atau tidak. Asal kamu tahu, Nona Fey bahkan sampai bersimpuh untuk meminta maaf." Johan berbicara untuk semakin menyulut emosi lelaki itu.


"Aku tidak percaya! Mana mungkin putriku bertingkah serendahan itu!" tukas Yosie masih belum percaya.


"Kalau kamu tidak percaya ya sudah. Aku yakin sekarang putrimu sudah belajar jadi manusia yang baik." Johan masih saja bersikap tenang padahal wajah Yosie sudah merah padam.


"Untuk apa kamu mencari wanita yang sudah kamu sakiti? Bahkan kamu memintanya untuk menggugurkan kandungan yang jelas-jelas janin itu tidak bersalah," ucap Mike. Kedua tangannya terlipat di depan dada.


"Apa Clara sudah menceritakan semuanya?" tukas Yosie. Gigi lelaki itu saling bergemerutuk.


"Tentu saja tidak. Aku yakin kamu akan terkejut saat melihat ini." Mike tersenyum miring. Dia memutar sebuah video yang memperlihatkan Yosie dan Clara berada di kamar hotel.


Di dalam rekaman video itu, terdengar jelas saat Yosie meminta Clara untuk menggugurkan kandungannya juga percakapan dirinya dengan Clara saat membahas akan membunuh Louis. Amarah Yosie semakin naik ke ubun-ubun. Jadi, selama ini ada orang yang membututinya?


"Jadi selama ini kalian memata-mataiku!" Yosie menggebrak meja. Namun, Mike dan Johan tetap terlihat begitu tenang.


"Tenanglah, Kek. Jangan marah-marah karena emosi yang berlebihan tidak baik untuk kesehatan jantung lansia seperti Kakek." Mike tersenyum mengejek, membuat amarah semakin menguasai Yosie.


"Jaga mulutmu! Lihat saja, aku akan menghancurkanmu setelah ini!" ancam Yosie. Telunjuknya kembali berada di depan wajah Mike.

__ADS_1


"Tuan Yosie, maafkan saya. Sebenarnya saya tidak akan mencari masalah dengan Anda, tapi karena putri Anda sudah mencelakai Cacha bahkan sampai saya kehilangan calon cucu saya maka bersiaplah menerima akibatnya," tutur Johan. Bibir lelaki itu menyeringai.


"Aku tidak takut!" Suara Yosie masih terdengar tinggi. "Aku bodoh! Seharusnya aku dulu benar-benar membunuh Louis jadi sekarang tidak ada lagi ancaman untukku!"


"Kenapa kamu baru menyadari sekarang kalau kamu bodoh, Kek?" tanya Mike dengan raut wajah seolah menyesal.


Yosie yang melihat itu justru semakin menggeram kesal. "Lihat saja! Kalian akan mendapatkan akibatnya setelah ini!"


Yosie melangkah lebar keluar restoran. Dia harus banyak menyusun rencana untuk membalas dendam kepada mereka. Selain itu, dirinya juga harus mencari keberadaan Fey dan Clara. Namun, baru saja keluar restoran, tubuh Yosie menegang saat melihat Clara sudah berdiri di depannya. Dia sampai mengucek mata berkali-kali untuk memastikan penglihatannya tidaklah salah.


"Cla! Ini kamu?" Yosie melangkah cepat mendekati Clara, tetapi wanita itu justru memundurkan langkahnya.


"Apa kabar, Yos?" tanya Clara dengan raut wajah yang begitu datar.


"Aku mencarimu ke mana-mana, Cla. Ayo kita menikah dan aku akan bertanggung jawab kepada anak kita," ajak Yosie dengan lembut, tetapi Clara justru tergelak keras membuat alis Yosie saling bertautan.


"Kamu pikir aku sudi menerimamu setelah penolakanmu kemarin? Jangan bermimpi, Yos!" ucap Clara tegas.


"Cla, tapi anak itu butuh figur seorang ayah." Yosie masih berusaha merayu.


"Aku akan mencarikan ayah yang baru untuk anak ini, kalau tidak ada yang mau maka aku akan membesarkan sendiri!" seru Clara, tetapi kedua mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.


"Kamu jangan gila, Cla!" hardik Yosie dengan muka merah padam menahan amarah.


"Aku memang gila karenamu, Yos! Kalau aku tahu kamu hanyalah kakek-kakek yang tidak bertanggung jawab, maka aku tidak sudi disentuh kamu!" bentak Clara. Ucapan tadi berhasil menyulut api amarah dalam diri Yosie semakin naik ke ubun-ubun.


"Lancang sekali mulutmu!" sergah Yosie tak kuasa lagi menahan amarahnya.


Plak!

__ADS_1


__ADS_2