
Mobil yang dikendarai Kenan berhenti di depan salah satu restoran, mata Nadira memicing saat melihat nama restoran yang sangat tidak asing baginya.
"Kak, bukannya ini restoran milik Kak Nathan?" tanya Nadira saat dia sudah membaca nama restoran itu.
"Kamu tahu restoran ini?" Alvino balik bertanya.
"Kak Nathan pernah mengajakku ke sini saat kembali ke Bandung." Nadira membuka pintu mobil dan segera turun diikuti yang lainnya.
"Aku kira Nathan belum mengajakmu ke sini dan restoran ini akan menjadi kejutan untukmu." Alvino merangkul pundak istrinya. "Apa Baby JJ rewel?" tanya Alvino sembari mengusap perut buncit istrinya.
"Enggak, Mas. Mereka kayaknya seneng di ajak main," sahut Rania dengan senyum mengembang yang membuat Alvino menjadi begitu gemas. Dia mendaratkan ciuman di pipi istrinya dengan lembut.
"Jangan pamer kemesraan di depan aku, Kak." Nadira mencebik kesal. "Kata Kak Nathan restoran ini namanya NN artinya No Name."
Alvino dan Kenan menatap Nadira dengan penuh tanya. "Nathan bilang seperti itu?" tanya Alvino. Nadira mengangguk cepat. "Dan kamu percaya?" tanya Alvino lagi dan Nadira kembali mengangguk cepat. Mereka pun tergelak keras.
"Astaga, Nad. Kamu ini mau aja dikibulin si Kaleng Rombeng," ledek Alvino disela tawanya. Nadira tidak menjawab, alisnya hanya saling menaut karena belum paham.
"Nad, restoran NN ini artinya bukan No Name, tapi artinya Nathan Nadira." Ana yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara. Nadira menatap lekat ke arah sahabatnya berusaha mencari jawaban. Ketika Nadira hendak bicara lagi, mobil Febian berhenti tepat di sampingnya, membuat Nadira mengurungkan niat untuk kembali bicara.
Febian turun dari mobil bersama Jasmin dan segera bergabung dengan mereka. Nadira hanya tersenyum tipis ke arah Jasmin. Walaupun mereka tidak bermusuhan, tetapi Nadira maupun Jasmin masih merasa begitu canggung untuk saling menyapa.
__ADS_1
"Kalau begitu kita masuk saja karena kalian sudah berkumpul." Alvino melangkah masuk bersama mereka. Ketika sampai di pintu restoran, mereka langsung di sambut hangat oleh para pegawai di sana. Karena mereka tahu kalau yang datang adalah para sahabat pemilik restoran itu.
"Nad, menu andalan di sini itu ayam pedas manis. Makanan kesukaanmu," ucap Alvino saat mereka sedang melihat-lihat buku menu. Nadira hanya mengangguk paham, meski dalam hati dia bersorak kegirangan.
Satu persatu dari mereka pun mulai memesan makanan, sedangkan Nadira sudah pasti memesan ayam pedas manis dan jus alpukat. Pegawai restoran itu pun segera berpamitan pergi setelah selesai mencatat pesanan mereka.
Nadira mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran yang cukup ramai itu. Dia melihat tulisan NN terpajang dengan besar di atas meja kasir. Nadira mengamati tulisan itu dengan seksama. Mungkinkah memang benar NN itu inisial dirinya dengan Nathan?
Sementara itu, seorang wanita berpakaian rapi yang berada di salah satu ruangan, terlihat menautkan alisnya saat melihat tampilan CCTV dan melihat pemandangan yang tidak asing baginya. Dia mengamati lekat tampilan layar itu untuk memastikan penglihatannya tidaklah salah.
***
Nathan yang hampir terlelap, segera membuka mata lebar saat mendengar ponselnya berdering. Dia sangat berharap kalau Nadira yang menghubunginya saat ini. Dia segera menyambar ponsel yang tergeletak di meja dan melihat siapa yang meneleponnya.
"Hallo, Gab."
"Hallo juga, Tuan. Maaf mengganggu. Saya cuma mau memastikan apakah Tuan berada di sini?" tanya Gaby dengan sopan.
"Sini mana?" tanya Nathan bingung.
"NN Resto, Tuan."
__ADS_1
"Tidak!" balas Nathan cepat.
"Aku kira Anda di sini. Saya lihat dari CCTV, ada Tuan Alvino Alexander beserta yang lain sedang berada di sini termasuk Nona Jasmin dan istri Anda."
Nathan terkejut mendengar ucapan Gaby. "Apa kamu yakin?" tanya Nathan memastikan.
"Iya, Tuan. Maka dari itu, aku kira Anda juga di sini."
"Tidak, aku masih di rumah sakit. Habis kecelakaan," ucap Nathan.
"Anda kecelakaan? Kenapa Anda tidak mengatakannya?" tanya Gaby khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Gab. Oh iya, apa Adit hari ini berangkat?" tanya Nathan dengan tenang.
"Berangkat, Tuan."
"Tolong kamu katakan pada Adit, nanti ikuti ke mana mereka pergi. Kemanapun harus ikuti dan jangan lupa beri informasi padaku," titah Nathan.
"Tapi, Tuan ...."
"Aku akan membayar tiga kali lipat dari gaji biasanya. Ingat, Gab. Aku tidak menerima penolakan." Mendengar perintah Nathan. Gaby pun hanya bisa mengiyakan lalu mematikan panggilan itu.
__ADS_1
"Awas saja kamu, Al! Aku tidak sebodoh yang kamu kira," gerutu Nathan. Dia meremas ponselnya, lalu menghembuskan napas kasar. "Ya Tuhan, aku sangat merindukan Nadira." Nathan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.