Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
148


__ADS_3

Dua orang berjalan mendekati Nathan dengan tangan bergandengan. Nathan yang melihat hanya mendengkus kasar. Bahkan ekor matanya terlihat memutar malas.


"Kak Nathan, kenapa?" tanya Jasmin saat melihat wajah malas Nathan.


"Gara-gara kamu Ayang Bebeb-ku marah!" sahut Nathan ketus. Kening Jasmin terlihat mengerut, sedangkan Febian menatap bingung ke arah kakak iparnya.


"Memangnya aku kenapa? Aku baru aja sampai loh, Kak," protes Jasmin tak terima.


"Karena lihat ada foto kamu di galeri ponselku, istriku marah!" Nathan melipat tangan di dada.


"Salah kamu sendiri, Kak. Ngapain nyimpen foto Jasmin." Kali ini, giliran Febian yang berdecak kesal. Dia pun merasa marah saat Nathan mengatakan kalau lelaki itu masih menyimpan foto kekasihnya.


"Jangan macem-macem sama kakak ipar!" Nathan mengarahkan jari telunjuk di depan wajah Febian, tetapi sesaat kemudian lelaki itu tergelak keras.


"Kaleng Rombeng! Diamlah! Kamu mengganggu tidurku!" omel Alvino.


Febian dan Jasmin terkejut saat mendengar suara Alvino karena sofa yang ditiduri lelaki itu, posisinya membelakangi mereka.


"Jangan ngomel kaya emak-emak, Al! Kamu mau keriput sebelum tua? Aku tahu kamu capek, tapi enggak ada obatnya—"


"Diamlah, Nat! Kamu berisik sekali! Kamu tidak nyusul Nadira?" sindir Alvino.


"Astaga, aku lupa! Bisa-bisa aku enggak dijatah anu-anuan kalau sampai dia marah terus." Nathan menepuk jidatnya, tetapi sepersekian detik kemudian, lelaki itu berlari kencang ke kamar untuk membujuk istrinya.


"Sumpah! Kak Nathan ngeselin banget!" seru Febian, dia mendudukkan tubuhnya di sofa bersama Jasmin di sampingnya.

__ADS_1


"Begadang kamu, Kak?" tanya Febian saat melihat Alvino masih saja memejamkan mata.


"Hmmm." Alvino tidak menjawab, karena rasa kantuk yang hebat masih menyerangnya.


Febian pun membiarkan sang kakak untuk kembali istriahat. Dia beranjak bangun dan mengajak Jasmin untuk ke kamar kakaknya untuk melihat Baby JJ.


***


Di rumah sakit, Cacha baru saja selesai memeriksakan bekas jahitan di bahu dengan ditemani Johan dan Mila. Mereka bersyukur karena keadaan Cacha perlahan membaik meski masih butuh waktu sebulan lebih untuk benar-benar pulih seperti sedia kala.


"Kita makan dulu?" tanya Johan saat sedang mengendarai mobilnya keluar area rumah sakit.


"Boleh deh, Yah. Cacha laper banget," sahut Cacha mengusap perutnya yang rata.


"Baiklah." Johan pun melajukan mobilnya membelah jalanan yang tidak terlalu macet, mencari restoran yang sekiranya menyediakan makanan yang cocok di lidah mereka.


"Yah," panggil Cacha. Johan menatap ke arah putrinya yang terlihat ragu-ragu.


"Ada apa, Cha?" tanya Mila penasaran.


"Em, Bun—" Cacha kembali terdiam sesaat. "Bunda dan ayah sudah tahu kah kalau Mas Rendra mau menikah minggu depan?"


"Apa!" Suara Mila terdengar memekik, sedangkan Johan tetap terlihat begitu tenang. "Kata siapa?" tanya Mila penasaran.


"Mas Rendra yang kirim pesan ke aku. Katanya, dia akan menikah dengan Anisa minggu depan karena desakan orang tuanya," jelas Cacha.

__ADS_1


"Syukurlah. Apa kamu sakit hati, Cha?" tanya Johan, menatap putrinya penuh selidik.


"Tidak terlalu sih, Yah. Entahlah, Cacha bingung sama perasaan Cacha sendiri." Cacha menghela napas panjangnya.


"Kalau kamu masih ragu dengan perasaanmu, memang seharusnya pernikahanmu dengan Rendra tidak pernah terjadi, Cha. Apalagi Rendra masih menyimpan perasaan dengan Nadira." Johan berbicara dengan sangat tenang.


Johan mengambil ponselnya yang terasa bergetar di saku celana. Bibir Johan tersenyum saat melihat nama Mike tertera di layar.


"Hallo, Mike?"


Mendengar nama Mike disebut, pandangan Cacha terarah kepada sang ayah dengan sangat lekat. Bahkan, jantung Cacha terasa berdebar sangat kencang.


"Bagaimana persiapan pernikahanmu, Mike?" tanya Johan, ekor mata lelaki paruh baya itu melirik ke arah Cacha yang mendadak terlihat muram.


"Syukurlah, semoga pernikahanmu berjalan lancar, dan aku usahakan akan datang, Mike. Kalau begitu aku matikan dulu, aku sedang makan siang dengan istriku."


Johan mematikan panggilan itu, lalu meletakkan benda pipih itu di atas meja. Seorang pelayan masuk dan menaruh pesanan makanan mereka, setelah semua sudah tersaji, pelayan itu pamit untuk keluar ruangan. Setelahnya, Johan memimpin doa sebelum memulai makan.


Cacha menguyah makanan yang mendadak terasa begitu hambar di lidahnya. Ingin sekali gadis itu bertanya tentang maksud pernikahan Mike, tetapi Cacha terlalu malu karena dirinya pernah menilak dan menghina lelaki itu.


"Kenapa kamu hanya mengaduk makananmu, Cha?" tanya Mila, setelah cukup lama memperhatikan putrinya yang baru memasukkan sesuap makanan ke dalam mulut.


"Cacha tiba-tiba kenyang, Bun." Cacha menjawab lesu.


"Kenapa?" tanya Johan di sela kunyahannya.

__ADS_1


"Entahlah, Yah." Cacha mengendikkan kedua bahunya secara bersamaan. "Cacha tadi dengar Mike mau menikah, benarkah?"


Cacha menatap Johan penuh tanya, dan lelaki paruh baya itu pun mengangguk dengan sangat yakin. Dengan lemas, Cacha menaruh sendok yang dipegang. Raut wajah gadis itu semakin terlihat begitu muram.


__ADS_2