
Mike yang masih tertidur lelap, harus membuka paksa kedua matanya saat mendengar ponselnya berdering tiada henti. Dia meraba sekitar untuk mencari keberadaan benda pipih itu.
Mike kembali mengerjapkan mata yang masih sangat mengantuk. Dia menatap layar ponsel untuk melihat siapa yang meneleponnya malam-malam. Namun, ketika melihat nama anak buah yang dia beri tugas untuk menjaga Cacha, tertera di layar. Mike langsung terbangun dengan segera.
"Hallo," sapa Mike dengan tak sabar.
"Bos! Nona Muda terluka dan sekarang masuk rumah sakit!"
"Apa!" Bagai disambar petir, kabar mengejutkan itu membuat rasa kantuk Mike seketika lenyap. "Bagaimana bisa sampai terluka?" tanya Mike membentak.
Anak buah itu meminta maaf karena terlambat menolong Cacha. Mike menggeram marah, bahkan rahangnya terlihat mengeras.
"Kamu sudah amankan pria itu?" tanya Mike penuh penekanan.
"Sudah, Bos!"
"Baiklah, aku akan ke Bandung sekarang. Kalian bersiaplah menerima hukuman karena sudah lalai menjaga Nona Muda!" Mike mematikan panggilan itu secara sepihak. Sementara anak buah Mike di seberang sana, menelan saliva susah payah. Mereka harus bersiap menerima amarah dari bosnya.
Mike beranjak bangun lalu mencuci muka untuk menyegarkan wajahnya. Dia begitu ragu, haruskah mengatakan semua pada Johan? Kalau Johan tahu, sudah pasti lelaki paruh baya itu akan murka, tapi kalau tidak tahu, yang ada dirinya akan menjadi luapan amarah lelaki itu.
__ADS_1
Mike menghirup napas dalam sebelum melangkah ke kamar Johan untuk menyampaikan kabar itu. Ketika sudah berdiri di depan pintu kamar, Mike terlihat ragu. Dia takut akan mengganggu istirahat tuannya.
Mike berusaha mengumpulkan keberaniannya. Dia pun mengangkat kepalan tangan hendak mengetuk pintu itu. Namun, belum juga mengetuk, pintu itu sudah terbuka dan telihat Johan keluar dari kamar. Johan terkejut melihat Mike yang sudah berdiri menunduk di depannya.
"Ada apa, Mike?" tanya Johan heran.
"Tu-tuan." Mike begitu gugup.
"Katakan ada apa, Mike?" Suara Johan meninggi. Apalagi melihat Mike yang begitu gugup membuat perasaan lelaki itu menjadi tidak tenang.
"Nona muda, Tuan." Mike kembali terdiam. Tatapan Johan ke arah Mike begitu menajam seolah menuntut jawaban.
"Nona muda masuk rumah sakit karena terluka setelah menolong Tuan Rendra," jelas Mike lirih.
"Apa! Bagaimana bisa! Apa anak buahmu itu bodoh!" murka Johan. Dia kembali masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Mila yang hendak terlelap pun, kembali membuka mata lebar dan terduduk padahal dirinya hanya memakai dalaman.
Johan menatap ke arah pintu dan melihat Mike masih berdiri menunduk. "Pergilah, Mike! Tunggu aku di bawah! Tolong, tutup pintunya," titah Johan dengan tegas.
Mike menunduk hormat lalu berpamitan pergi, tak lupa menutup pintu kamar itu. Setelah pintu tertutup rapat, Johan kembali melanjutkan berganti pakaian.
__ADS_1
"Aku ikut, Mas." Mila turun dari tempat tidur dan bersiap untuk pergi bersama suaminya.
"Jangan gila, Mil! Kamu mau pergi hanya menggunakan bra dan celan* dal*m saja?" Johan bicara dengan sangat ketus.
Mila melihat tubuhnya lalu menepuk keningnya. "Astaga! Maaf, Mas. Aku kelupaan. Pantas saja rasanya semriwing." Wanita mesum itu bergegas mencari pakaian dan memakai dengan terburu. Johan yang melihatnya hanya menghela napas panjang.
Setelah siap, Johan dan Mila segera turun dan berjalan keluar rumah. Melihat kedatangan majikannya, Mike membuka pintu mobil untuk mereka. Johan dan Mila masuk, dan duduk di kursi belakang. Mike pun bergegas masuk mobil dan duduk di balik setir kemudi. Dia melajukan mobil itu dengan kencang tanpa mengurangi konsentrasi menyetir.
Karena hari sudah malam, keadaan jalan yang sepi membuat mobil hitam itu melaju kencang membelah jalanan.
"Orang yang memukul Cacha apa sudah tertangkap, Mike?" tanya Johan memecah keheningan.
"Sudah, Tuan. Mereka sudah ditahan anak buah saya, kebetulan nona muda berhasil menembak paha salah satu di antara mereka." Mike menjawab dan melirik sebentar dari kaca depan mobil.
"Bagus! Beri mereka pelajaran karena sudah berani melukai Cacha." Johan bersandar, tangannya merangkul Mila masuk dalam dekapannya.
"Baik, Tuan." Mike mengangguk pelan. Tangannya meremas setir kemudi dengan kuat.
Aku tidak akan membiarkan mereka bernapas bebas karena sudah berani melukai nona muda!
__ADS_1