Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
39


__ADS_3

Nathan dan Jasmin duduk bersama di sebuah restoran. Beberapa hidangan makanan sudah tersaji di depan mereka. Nathan mengamati wajah Jasmin yang terlihat begitu ceria.


"Makan yang banyak, Jas. Setelah ini aku akan mengajak kamu jalan-jalan sebelum besok menghadiri pesta," kata Nathan. Jasmin mengangguk cepat dan melahap makanan itu. Nathan tersenyum tipis, tapi senyumnya seketika memudar saat teringat akan Nadira.


Nathan menghela napas panjang, lalu menghembuskan secara perlahan saat ingatan istrinya datang menghampiri.


"Kak, aku dengar Tuan Rendra juga datang ke pesta pernikahan anak Pak Herman," kata Jasmin. Nathan tersedak seketika, dia menenggak air putih di sampingnya sampai hampir tandas.


"Iyakah?" tanya Nathan memastikan. "Astaga, aku lupa kalau Rendra aslinya orang sini."


"Ya, apalagi Tuan Bastian, ayah Rendra termasuk pengusaha ternama di sini," jelas Jasmin. Nathan mengangguk mengiyakan. "Dia sudah menghubungiku kalau sudah sampai di Bogor dan mengajak kita berkunjung ke rumahnya," imbuh Jasmin.


"Apakah rumahnya jauh?" tanya Nathan sembari mengunyah makanan.


"Tidak terlalu, sekitar tiga puluh menit," sahut Jasmin.


"Kalau begitu setelah dari pesta Pak Herman saja kita berkunjung ke rumahnya. Em, Jas ... apa Rendra datang sendirian?" tanya Nathan ragu.


"Aku kurang tahu, tapi kemarin sih dia bilang mau datang dengan Nona Nadira." Nathan menghentikan kunyahannya saat mendengar nama istrinya disebut. Mungkinkah Nadira ikut bersama Rendra? Tapi kenapa Nadira tidak meminta izin kepadanya.


Tangan Nathan meremas sendok yang dipegangnya dengan kuat. Hatinya terasa memanas, bahkan ada rasa amarah yang datang menyergapi hatinya sampai ke ubun-ubun. Namun, Nathan tetap berusaha terlihat setenang mungkin karena dia tidak ingin Jasmin curiga kepadanya.


"Setelah ini kita kembali ke hotel saja, Jas. Tubuhku rasanya sudah sangat lelah." Nathan dengan cepat menghabiskan makanannya. Jasmin pun hanya dia mengamati gerak-gerik lelaki di depannya.

__ADS_1


"Kak, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Jasmin. Nathan menoleh ke arah Jasmin yang sedang menatapnya lekat.


"Apa?" Nathan kembali meneruskan mengunyah makanannya.


"Apa Kak Nathan punya hubungan spesial dengan Nona Nadira?" Suara Jasmin terdengar begitu pelan.


"Aku mengenal Nona Muda karena dia adik Al. Bukankah kamu sudah tahu itu," sahut Nathan ketus.


"Ya, aku tahu itu. Hanya saja aku bisa melihat kalau kalian berdua itu memiliki sesuatu yang susah dijelaskan. Kalian terlihat begitu kaku, tapi aku bisa melihat cinta dari sorot mata kalian berdua," ucap Jasmin. Nathan menaruh sendoknya, lalu menghembuskan napas kasar.


"Jas, jangan suka mencampuri urusan pribadiku. Lebih baik kamu habiskan makananmu. Aku sudah ingin segera beristirahat," perintah Nathan. Jasmin pun hanya menurut karena dia takut melihat sorot mata Nathan yang begitu tajam.


***


"Cha, kamu di mana?" tanya Nathan saat panggilan terhubung.


"Aku lagi di Bogor, Kak."


"Bogor?" Kedua alis Nathan saling bertautan.


"Ya, aku sekarang menginap di rumah Mas Rendra sama Nadira juga," jelas Jasmin.


"Kamu yang benar saja! Kenapa kamu mengajak Nadira tinggal di rumah laki-laki!" bentak Nathan. Dia bisa mendengar dengusan kasar dari seberang telepon.

__ADS_1


"Kak, aku ini ke sini justru buat ngawal Nadira. Aku tuh jagain Nadira buat Kakak. Lagian ngapain Kakak pergi ke Bogor sama Jasmin." Suara Cacha terdengar begitu ketus.


"Kamu 'kan tahu kalau Kakak akan menghadiri pesta pernikahan anak Pak Herman. Kata Jasmin, Rendra juga akan datang."


"Ya, aku tahu. Besok kita bertiga akan datang ke sana eh bukan bertiga, tapi berlima," Cacha meralat ucapannya.


"Berlima?" tanya Nathan bingung.


"Iya, sama orang tua Mas Rendra. Mereka itu ramah banget, Kak." Nada bicara Cacha terdengar begitu semringah.


"Terus sekarang Nadira lagi ngapain?" tanya Nathan dengan lirih.


"Ish! Makanya punya gengsi jangan setinggi langit, Kak. Mereka lagi di ruang keluarga. Lagi bahas soal pertunangan."


"Pertunangan?" Nathan mulai merasa sangat gelisah. Cacha dari seberang hanya mengiyakan. "Pertunangan siapa?!" tanya Nathan sedikit membentak.


"Pertunangan ...." Tiba-tiba panggilan itu terputus. Nathan menurunkan ponselnya dan menggeram kesal saat melihat ponselnya telah mati kehabisan daya.


"Argh, sial!" umpat Nathan. Dia segera mengisi daya ponselnya, lalu mendudukkan tubuhnya di kasur secara kasar. Hatinya sangat gelisah saat ini.


"Apakah Rendra akan melamar Nadira? Mana mungkin! Dia 'kan tahu kalau Nadira sudah menikah. Eh tapi bisa jadi ...." Nathan mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Hatinya benar-benar tak karuan saat ini. Nathan beranjak bangun dan nekat hendak pergi mencari rumah Rendra, tapi dia menghentikan langkahnya saat melihat jam hampir menunjuk angka sembilan.


Dia kembali mendekati tempat tidur dan melempar kunci mobil begitu saja. Tidak mungkin dirinya bertamu selarut ini. Hatinya mengumpat kasar berkali-kali. Bayangan Rendra dan Nadira bertunangan tiba-tiba menghantui pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2