
Satu bulan telah berlalu, Alvino sudah kembali tinggal di kediamannya, begitu juga dengan keluarga Johan yang tidak lagi tinggal di Mansion Alexander, hanya menyisakan Nathan dan Nadira di mansion itu. Sementara Cacha, kembali hidup di Bandung bersama Mike.
Jam baru menunjukkan pukul satu, dini hari, tetapi Nadira sudah terbangun. Perut wanita itu rasanya sangat lapar sekali. Dia hendak membangunkan suaminya, tetapi melihat wajah lelah sang suami, membuat Nadira mengurungkan niatnya.
Dengan perlahan wanita itu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke dapur. Dia akan mencari makanan yang sekiranya bisa mengurangi rasa lapar yang begitu menyiksa.
Sesampainya di dapur, Nadira membuka lemari pendingin besar di sana, dan tatapannya menyapu isi kulkas itu. Mencari bahan makanan yang praktis saat mengolahnya.
"Aku laper, tapi kalau aku makan nanti gemuk, dan Kak Nathan bakalan nyari cewek yang lebih seksi lagi." Nadira bermonolog. Dia menutup pintu kulkas itu lagi, tetapi beberapa detik kemudian, pintu lemari pendingin tersebut kembali terbuka.
"Nasi goreng tanpa kecap sepertinya enak." Wajah Nadira terlihat semringah, air liurnya seakan menetes saat membayangkan nasi goreng tanpa kecap dengan taburan daun seledri di atasnya.
Nadira pun mengambil bumbu untuk membuat nasi goreng, beruntung sekali masih ada sepiring nasi. Cukuplah untuk makan dirinya. Suasana mansion yang begitu sepi, tidak membuat Nadira takut. Wanita itu hanya fokus pada bahan-bahan untuk nasi goreng. Rasanya, dia sudah tidak sabar ingin segera mencicipinya.
Setelah hampir setengah jam berkutat dengan dapur, kini Nadira sudah duduk di meja makan yang terletak di dapur dengan sepiring nasi goreng dan satu gelas teh hangat tersaji di depannya.
__ADS_1
"Beb! Aku mencarimu!" Suara dari pintu dapur berhasil membuat tangan Nadira yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulut, menggantung begitu saja di udara. Dia menoleh, dan mendengkus kasar saat melihat suaminya berjalan mendekat dengan tergesa.
"Kenapa kamu tidak membangunkanku, Beb?" tanya Nathan khawatir.
"Aku enggak tega bangunin kamu." Nadira menjawab malas. Dia memasukkan sesuap nasi goreng putih itu ke dalam mulut.
"Tumben sekali kamu makan jam segini. Enggak takut gemuk?" tanya Nathan. Dia terkejut saat melihat sepiring nasi goreng tanpa kecap yang berada di depan istrinya. Bahkan wanita itu terlihat sangat menikmati kunyahannya. Padahal setahu Nathan, istrinya akan mual bahkan muntah jika makan nasi goreng tanpa kecap, berbanding terbalik dengan dirinya.
"Kenapa kamu makan nasi goreng tanpa kecap!" seru Nathan. Dia merebut nasi goreng itu dari hadapan istrinya.
Dengan masih membawa piring di tangan, Nathan berjalan mendekati lemari penyimpan dan melihat stok kecap di sana. Lelaki itu mengembuskan napas kasar saat manik matanya menangkap sebotol kecap yang masih penuh di sana.
"Ini apa?" tanya Nathan dengan suara tinggi.
"Aku tidak tahu kalau botol kecap ada di situ," jawab Nadira kesal.
__ADS_1
"Kamu bukan hanya sehari tinggal di sini. Jadi, mana mungkin kamu tidak tahu di mana tempat penyimpanan kecap!" Sembari mengomel, Nathan memasukkan kembali nasi itu ke dalam wajah, menghidupkan kompor dan menuangkan lima sendok kecap di sana.
Nadira yang melihat itu, hanya berdecak kesal. Dia segera beranjak bangun karena napsu makannya mendadak hilang saat melihat kecap yang menyentuh nasi itu.
"Aku mau ke kamar!" Nadira menghentakkan kaki, dan berjalan cepat menuju ke kamar. Nathan yang melihat itu pun segera menyusul dengan membawa nasi goreng yang sudah berwarna cokelat.
Begitu sampai kamar, Nathan melihat istrinya sudah bersembunyi di dalam selimut, membuat wanita itu seperti kepompong. Nathan berjalan mendekat, dan duduk di tepi tempat tidur masih dengan piring di tangan.
"Makan dulu, Beb. Katanya kamu laper," rayu Nathan, menggoyangkan tubuh wanita itu yang masih saja betah di dalam selimut.
"Beb ...." Nathan masih mencoba merayu sang istri.
"Makan saja sendiri!" sahut Nadira dari dalam selimut.
"Yang laper 'kan kamu, bukan aku. Lagian tumben banget sih, kamu makan jam segini. Biasanya kamu takut gendut."
__ADS_1
Mendengar ucapan suaminya, Nadira membuka selimut dengan cepat dan menatap tajam ke arah suaminya. Melihat tatapan marah sang istri, Nathan menelan ludahnya kasar, dan berusaha mengingat apa kesalahannya.