Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
256


__ADS_3

Pertemuan dengan Jasmin benar-benar membuat pikiran Febian terusik. Lelaki itu seolah kehilangan semangat hidupnya apalagi saat teringat Jasmin yang bersikap begitu hormat padanya. Mungkinkah ada sesuatu yang disembunyikan dari wanita itu?


"Bi!" Febian terkejut saat Alvino menepuk pundaknya. Kemudian, dia hanya menatap sang kakak yang saat ini sudah duduk di tepat di sebelahnya. "Kenapa kamu melamun?"


"Aku tidak melamun, Kak." Febian mengelak.


"Bi, jangan pernah menyimpan masalah apa pun dari kakak. Ceritakan saja semuanya." Alvino menyandarkan kepalanya lalu menghela napas dengan dalam-dalam.


"Kak, aku tadi ketemu Jasmin." Alvino langsung terbangun begitu saja. Dia menoleh dan menatap Febian dengan tatapan tak percaya.


"Jasmin?" tanya Alvino memastikan. Febian hanya menanggapi dengan anggukan kepala. "Di mana?"


Febian pun akhirnya menceritakan kronologi pertemuannya dengan Jasmin juga gadis kecil yang bernama Aruna. Termasuk sikap Jasmin yang begitu formal dan langsung pergi begitu saja.


"Bi, kamu masih mencintai Jasmin?" Alvino menatap adiknya penuh selidik. Febian segera memalingkan wajah karena tidak mau sang kakak akan curiga kepadanya.


"Kenapa kamu tidak menjawab?" tanya Alvino sekali lagi dan penuh penekanan.


"Aku masih berusaha keras menghapus perasaanku pada dia, Kak." Suara Febian terdengar lirih bahkan nyaris tidak terdengar.


"Cobalah membuka hati kamu untuk orang lain, Bi." Alvino menatap adiknya dengan lekat.

__ADS_1


"Aku takut jatuh cinta lagi, Kak. Sudah cukup aku jatuh cinta dua kali dan semuanya melukaiku," ucap Febian. Alvino terdiam, dirinya merasa tidak enak hati karena pernah mengambil orang yang adiknya cintai.


"Maafkan kakak sudah merebut Rania darimu, Bi." Suara Alvino terdengar penuh sesal.


"Sudahlah, Kak. Jangan minta maaf seperti itu. Semua bukan salah Kak Al, tapi karena aku dan Rania memang tidak berjodoh seperti aku dan Jasmin." Febian menunjukkan senyum yang seolah dirinya baik-baik saja. Alvino menghela napas panjang sebelum akhirnya mengajak Febian berbincang tentang perusahaan. Dia tidak mau membuat adiknya terus terlarut dalam luka hatinya.


***


Setelah berlibur selama empat hari, kini Febian dan Leona sudah kembali ke Bandung. Lelaki itu menyibukkan diri dengan pekerjaan untuk menepis bayangan Jasmin yang terus saja menghampiri. Ingin sekali dia menyuruh anak buahnya untuk mencari informasi tentang Jasmin, tetapi dia takut kenyataannya akan semakin membuat hatinya terluka. Apalagi saat dia tahu kalau wanita itu sudah memiliki seorang putri.


"Kak Bi, aku mau pergi dulu." Leona merapikan berkas-berkas yang masih tercecer di atas meja karena dia akan makan siang di luar bersama seseorang.


"Makan siang di luar. Nanti aku kembali sebelum jam satu." Leona bangkit berdiri lalu bersiap hendak pergi.


"Aku ikut." Febian pun ikut bangkit berdiri, tetapi Leona mendesah malas.


"Aku mau pergi dengan Bara. Kak Bi mau menjadi obat nyamuk?" tanya Leona dengan memasang raut wajah kesal.


"Tidak sudi! Sudah sana pergi! Ingat, kamu harus kembali sebelum jam makan siang berakhir, jam setengah dua kita ada rapat." Febian memberi tahu, Leona hanya mengangguk lalu bergegas pergi dari ruangan itu.


Selepas kepergian sepupunya, Febian melangkah mendekati jendela untuk menatap pemandangan gedung dari ruangannya. Hal itu sudah seperti sebuah kebiasaan untuknya sejak beberapa waktu terakhir.

__ADS_1


Setelah puas berdiri di sana, Febian memilih keluar ruangan untuk makan siang sendirian. Namun, baru saja sampai di lobby kantor, kening Febian mengerut saat melihat Bara baru saja turun dari mobil dan berjalan mendekatinya.


"Kak, kenapa sendirian? Di mana Leona?" tanya Bara yang membuat kening Febian semakin mengerut.


"Kenapa kamu bertanya padaku? Tadi dia bilang akan makan siang denganmu." Febian tampak begitu heran.


"Tidak, dia justru bilang tidak bisa makan siang bersama. Apa artinya dia berbohong padaku?" Bara begitu kesal. Dia mengambil ponsel di saku celana lalu menghubungi nomor Leona, tetapi tidak ada satu pun panggilannya yang diangkat. Bara pun menjadi curiga kepada calon istrinya.


"Tidak diangkat, Kak." Bara menurunkan kembali ponselnya. Lelaki itu terlihat geram, tetapi Febian berusaha untuk menenangkan. Selang beberapa detik, terdengar dering ponsel milik Bara dan lelaki itu segera mengangkat panggilan dari kekasihnya.


"Kamu di mana, Sayang?" tanya Bara penuh penekanan.


"Sayang, aku di rumah sakit."


"Di rumah sakit? Bagaimana bisa?" Suara Bara terdengar menggelegar. Febian pun memasang pendengarannya dengan seksama.


"Anak temanku demam tinggi bahkan sampai kejang-kejang."


"Temanmu siapa?" tanya Bara penasaran, tetapi Leona sama sekali tidak menjawab. "Baiklah. Aku akan ke rumah sakit sekarang. Di ruangan berapa?"


Setelah Leona mengatakan mereka berada di ruangan berapa, Bara dan Febian segera ke sana. Febian pun merasa khawatir saat mendengar kata rumah sakit sekaligus dia begitu penasaran siapa teman Leona tersebut.

__ADS_1


__ADS_2