
Ara menatap wajah suaminya yang terlihat penuh dengan amarah dengan seksama. Bahkan, Febian mematikan panggilan itu secara sepihak dan menaruh ponselnya cukup kasar di atas nakas hingga menciptakan bunyi yang keras. Namun, Ara hanya berani membatin berharap ponselnya baik-baik saja.
"Ada apa, Mas?" tanya Ara saat Febian menghempaskan tubuhnya secara kasar di sampingnya.
"Leona bilang dia bertemu mantan kekasihmu." Tubuh Ara menegang ketika mendengar jawaban suaminya, bahkan seluruh darah di tubuhnya terasa berdesir.
"Mas Hendra?" tanya Ara dengan polosnya. Embusan napas kasar terdengar keluar dari bibir Febian.
"Ya. Tidurlah. Mulai besok aku benar-benar akan meletakkan beberapa pengawal di sekitarmu." Febian menarik tubuh Ara masuk dalam dekap eratnya.
Febian memejamkan mata, sedangkan Ara merasa begitu gelisah. Dia merasa tidak tenang setelah mendengar kalau Hendra berada di sekitarnya saat ini. Ara hendak berusaha menyingkirkan tangan Febian, tetapi lelaki itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku tahu kamu belum tidur, Mas." Ara berkata dengan malas.
"Tidurlah. Besok pagi aku ada rapat penting," ucap Febian tanpa membuka mata. Ara pun terdiam dan memejamkan mata berusaha untuk bisa tertidur lelap.
***
Mobil yang dikendarai sopir pribadi Ara menuju ke perusahaan Alexander untuk mengantar Febian terlebih dahulu sebelum mengantar Ara pulang ke rumah. Namun, Ara meminta sopir tersebut berhenti di pasar tradisional karena dia ingin berbelanja perlengkapan dapur yang mulai habis.
"Mari, Nona." Sopir tersebut membuka pintu mobil untuk Ara. Setelah majikannya keluar, dia pun berjalan mengekor untuk mengikuti Ara.
"Tunggu di mobil saja, Pak. Saya lama karena banyak yang harus saya beli," suruh Ara. Namun, sopir tersebut menolak dan tetap bersikukuh ingin membantu.
__ADS_1
Ara pun membiarkan. Dia berjalan menuju ke tempat penjual sayuran terlebih dahulu. Banyak yang dibeli Ara termasuk bumbu dapur. Setelah sayuran lengkap, Ara beralih ke penjual daging ayam lalu ke tempat ikan segar.
"Ehem!"
Raya berbalik saat mendengar suara dehaman dari arah belakang. Tubuhnya menegang saat melihat seseorang yang sangat dia kenali saat ini sedang berdiri dengan bibir tersenyum penuh. Ara menelan salivanya susah payah dan ingin segera pergi, tetapi lelaki itu justru menahan lengan Ara.
"Lepaskan aku!" Ara meronta sekuat tenaga.
"Jangan pergi, Ra! Aku sudah payah mencarimu." Hendra menatap Ara dengan sangat lekat.
"Aku bilang lepaskan!" Ara masih saja meronta, tetapi Hendra tangan Hendra masih mencekal. Namun, tiba-tiba tubuh Hendra jatuh tersungkur ke belakang saat sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Hendra hingga membuat darah segar mengalir dari sudut bibir. Suasana di pasar tersebut pun seketika ricuh.
"Kalian siapa?" Hendra bangkit berdiri dan bergantian menatap dua orang pria yang memukulnya tadi.
"Nona muda siapa?" tanya Hendra belum paham.
Lelaki itu tidak menjawab, dan justru membungkuk hormat di depan Ara. "Anda baik-baik saja, Nona?" tanya pengawal itu sopan. Hendra membuka mata lebar karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"A-aku tidak apa-apa." Ara menjawab gugup. Jujur, dia takut dengan dua lelaki bertubuh kekar itu.
"Ra, apa mereka pegawalmu?" tanya Hendra penasaran.
"Jangan pernah menjawab pertanyaan dari orang yang tidak penting, Nona! Suara Anda terlalu berharga," timpal pengawal yang lainnya. Ara pun hanya berani bungkam.
__ADS_1
"Bawa nona muda kembali. Pastikan tidak ada orang yang menyentuhnya selain Tuan Muda Febian," suruh pengawal tersebut. Sopir pribadi Ara pun mengangguk mengiyakan lalu mengajak majikannya segera pergi dari sana karena tidak mau terjadi apa-apa kepada Ara.
Namun, ketika Ara berbalik, Hendra kembali memanggil dengan keras hingga Ara mengurungkan langkahnya. Dua pengawal kembali berjaga di belakang Ara yang saat ini membelakangi Hendra.
"Ra, aku susah payah mencarimu. Izinkan aku berbicara sedikit denganmu." Suara Hendra terdengar memelas.
Ara menghela napas panjangnya, "Katakan, Mas. Aku hanya memberi waktu tiga menit."
π¦π¦
Thor, kenapa ceritanya makin bertele-tele?
Sabar ye, mereka hanya pemanis saja
sesuai janji Othor, kisah ini bakal tamat di bab 300
Kalau lebih dikit maklumi Yee
asal jangan lebih banyak kek berat badan Othor.
Gimana gaes?? Masih mau lanjut?
π π π
__ADS_1