
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa mengambil keputusan saat ini karena saya harus bertanya dengan putri saya terlebih dahulu." Johan menjawab dengan sopan karena dia tidak mau membuat Bastian tersinggung.
"Tidak apa. Saya juga memberi waktu pada mereka selama satu bulan dan saya yakin mereka sangat cocok. Sebenarnya ...." Bastian terlihat begitu ragu saat akan melanjutkan ucapannya.
"Sebenarnya apa, Tuan?" tanya Johan tidak sabar.
"Saya sudah menjodohkan Rendra dengan sahabat kecil yang dulu tidak dia sukai. Sebelum mereka bertemu, Rendra justru lebih dulu mengatakan kalau sudah memiliki pacar yaitu Nak Cacha, tapi saya tidak yakin kalau mereka benar-benar pacaran," jelas Bastian. Mata Johan menatap Bastian dengan sangat lekat.
"Maksud Anda, mereka berpura-pura pacaran hanya untuk menghindari perjodohan putra Anda?" tanya Johan penuh penekanan.
"Bisa iya, bisa tidak. Semua hanya mereka yang tahu, saya hanya menangkap dari gerak gerik mereka saja," sahut Bastian dengan tenang meski dia melihat Johan mulai tersulut amarah.
"Lantas kenapa Anda ingin melamar putri saya?" tanya Johan lagi.
__ADS_1
"Tuan ... anak kita sudah sama-sama dewasa. Saya tidak ingin mereka terjerumus ke hal yang tidak diinginkan dengan status mereka yang sebatas pacaran atau pura-pura pacaran." Bastian menghentikan ucapannya untuk mengambil napas dalam.
"Saya tidak mendoakan hal buruk, tapi saya hanya khawatir. Apalagi, Nak Cacha adalah seorang perempuan. Saya memang tidak memiliki seorang putri, tapi sebagai seorang lelaki yang sudah berstatus ayah, pasti tidak ingin hal buruk menimpa putrinya," tutur Bastian.
"Tentu saja. Apalagi Cacha adalah putri saya satu-satunya." Johan menghela napas panjang, masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Maka dari itu, Tuan. Saya tidak akan memaksa mereka untuk bertunangan apalagi menikah. Yang saya inginkan hanyalah, kalau mereka memang pura-pura, maka biar mereka menyudahi semuanya sebelum terlambat." Johan memijat pangkal hidungnya. Otaknya masih mencerna kalimat demi kalimat yang terucap dari lelaki di depannya.
"Biar saya tanyakan kepada Cacha nanti, biasanya dia tidak akan berani berbohong," kata Johan diiringi helaan napas panjang. "Seandainya mereka hanya berpura-pura dan Cacha tidak mau menikah dengan Rendra, apa Anda kecewa, Tuan?" tukas Johan.
Raut wajah Johan terlihat begitu lega. Bukannya dia tidak setuju jika Cacha dengan Rendra, hanya saja dia ingin Cacha benar-benar jatuh cinta pada lelaki yang tepat.
Kedua lelaki itu pun menyudahi obrolan mereka. Johan berpamitan pulang dan Bastian hanya mengiyakan. Ketika sudah duduk di balik setir kemudi, Johan mengeluarkan ponsel lalu mencari nama anak buah kesayangannya.
__ADS_1
"Hallo, Mike. Aku tunggu kamu, pulang ke Jakarta sekarang juga! Suruh anak buahmu untuk menjaga Cacha!" perintah Johan tanpa basa-basi. Setelah panggilan itu terputus, Johan menaruh ponsel itu di jok sebelah dengan kasar. Lelaki itu menggeram marah dengan tangan meremas setir kemudi.
"Berani sekali kamu, Cha!" gerutu Johan. Dia melajukan mobil itu pulang ke rumah untuk menunggu Mike.
***
Setelah lebih dari dua jam menunggu Mike. Akhirnya, lelaki itu muncul dengan langkah lebar mendekati Johan yang sedang duduk di ruang keluarga bersama. Mila.
Melihat kedatangan anak buahnya, Johan segera mengajak Mike untuk menuju ke ruang kerja miliknya di rumah. Untuk saat ini, dia tidak ingin Mila tahu semuanya.
Johan duduk di kursi, sedangkan Mike berdiri di depannya. Kepala Mike terlihat menunduk. Perasaan lelaki itu mulai tidak nyaman. Dia yakin ada hal yang sangat penting yang akan tuannya katakan, karena dia dipanggil dengan sangat darurat.
Tatapan Johan ke arah Mike terlihat menajam meski lelaki itu masih saja menunduk. "Aku yakin kamu sudah tahu hubungan Cacha dengan Rendra. Jadi, jangan berbohong dan katakan semuanya, Mike!"
__ADS_1
Tubuh Mike menegang, raut kebingungan terlihat jelas di seluruh wajah lelaki itu. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya.