Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
241


__ADS_3

"Kalian sudah pulang?" tanya Nathan yang saat itu sedang sarapan dan hendak berangkat ke kantor.


"Sudah, aku ada pertemuan nanti jam sebelas." Alvino mencium puncak kepala Rania beserta kedua buah hatinya. Bibirnya tersenyum saat melihat makanan belepotan terutama di wajah Jinny yang membuat lelaki itu menjadi begitu gemas. Alvino dan Febian pun bergabung sarapan bersama mereka.


Seusai sarapan, Nathan segera berangkat ke kantor karena sudah ditunggu Zack, sedangkan Alvino lebih memilih tidur terlebih dahulu. Di ruang keluarga, Nadira duduk bersama n Baby B juga Febian. Tatapan Nadira begitu menyelidik ke arah Febian saat melihat raut wajah adik bungsunya begitu sendu.


"Bi, kamu baik-baik saja?" tanya Nadira. Febian yang sedang melihat Baby B pun mengalihkan pandangannya ke arah Nadira yang juga sedang menatapnya.


"Apa aku terlihat sedang tidak baik-baik saja, Nad?" Febian justru balik bertanya.


"Ya, aku tahu kamu pasti sedang ada masalah," tebak Nadira. Namun, Febian kembali mengusap-usap wajah Baby B.


"Aku baik-baik saja." Febian menjawab lesu, Nadira tersenyum tipis saat mendengarnya.


"Bi, sekarang kita hanya bertiga. Kak Al, aku, dan kamu, jadi jangan berusaha menyembunyikan apa pun dari kita. Kalau kamu memang masih menganggap kita saudara maka bicaralah sejujurnya." Nadira melihat Febian yang menghela napas panjangnya.


"Hubunganku dengan Jasmin sudah berakhir."


"Kenapa?" sela Nadira cepat.

__ADS_1


Namun, Febian justru kembali terdiam. Wajah lelaki itu terlihat begitu ragu untuk menceritakan semuanya. Di saat Nadira kembali bertanya, Febian masih saja bungkam.


"Baiklah, mungkin bukan sekarang waktunya kamu menceritakan semua yang terjadi. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap bercerita. Lebih baik sekarang kamu istirahatlah. Kamu pasti sangat lelah," suruh Nadira. Febian bangkit berdiri dan mencium pipi Baby B terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali ke kamar. Nadira hanya menatap punggung Febian yang perlahan menjauh.


***


Cacha yang baru saja bangun tidur merasa begitu cemas saat mendengar suaminya sedang muntah-muntah di kamar mandi. Dengan langkah bergegas, dia segera masuk dan melihat Mike yang sedang membersihkan mulutnya di wastafel.


"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Cacha cemas.


Mike menegakkan tubuhnya dan melihat kekhawatiran terlihat jelas memenuhi seluruh wajah istrinya. Mike mengangguk, sedangkan Cacha segera memeluk lelaki itu dengan sangat erat.


"Iya, tapi takapa. Nanti siang juga akan sembuh." Mike menjawab lembut, satu tangannya mengusap perut Cacha yang memberi kenyamanan sendiri untuk wanita itu.


"Kenapa waktu di Indonesia kamu baik-baik saja, Mas?" tanya Cacha dengan kening mengerut.


"Entah, mungkin calon buah hati kita lebih suka tinggal di Indonesia." Mike berseloroh, dengan gemas Cacha memukul dada bidang suaminya.


"Biar aku buatkan air jahe untukmu." Cacha melepas pelukannya dan hendak pergi, tetapi Mike segera menahan wanita itu.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku bisa membuat sendiri. Lebih baik kamu di kamar saja, jaga anak kita dengan baik," ucap Mike pelan.


"Mas, aku bosan kalau terus-terusan di kamar. Aku ingin melayanimu," timpal Cacha, tetapi Mike justru tersenyum lebar.


"Kamu cukup melayaniku di tempat tidur saja. Bukan yang lainnya."


"Mas, aku ingin menjadi istri yang berguna untukmu. Bisa melayani semua kebutuhanmu." Nada bicara Cacha sudah naik satu oktaf.


"Neng, kamu ini aku jadikan istri bukan pembantu. Jadi, kamu cukup melayaniku di kamar, selain itu sudah ada orang lain yang mengerjakan. Bukankah kamu tidak boleh kelelahan?" Mike berbicara dengan selembut mungkin, tetapi Cacha justru berjalan menghentak seperti anak kecil yang sedang merajuk.


Mike yang melihat itu pun tersenyum lebar dan mengejar langkah istrinya yang saat ini sudah sampai di tepi tempat tidur. Cacha menghempaskan tubuhnya dengan kasar di tepi tempat tidur, sedangkan Mike justru berjongkok dan menggenggam tangan Cacha dengan erat.


"Neng, jangan marah." Mike masih berusaha merayu, tetapi Cacha justru memalingkan wajahnya. "Apa pun yang kamu minta, akan aku turuti."


"Kamu serius?" tanya Cacha dengan wajah yang berbinar bahagia. Mike mengangguk cepat dengan bibir tersenyum lebar.


"Ya, apa pun yang kamu minta pasti aku turuti." Mike menjawab dengan yakin.


"Kalau begitu aku ingin kita bercinta saat ini juga, dua ronde." Cacha berbicara dengan antusias yang membuat Mike melongo saat mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2