Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
104


__ADS_3

Seorang pemimpin perusahaan duduk dengan sangat gelisah menanti istri tercinta yang sedang dalam perjalanan. Hampir setengah jam menunggu, nyatanya belum ada tanda-tanda kedatangan sang istri. Padahal seharusnya, sudah tiba sejak sepuluh menit yang lalu.


Dengan menatap layar ponsel, akhirnya dia berusaha menghubungi nomor istrinya, tapi gagal. Panggilan itu tidak terhubung sama sekali. Tiga kali mencoba, tapi tetap saja hasilnya nihil.


"Hallo, Zack!" Setelah panggilan tersebut tidak terhubung, jalan satu-satunya untuk mendapat kabar istrinya adalah menghubungi Zack, anak buahnya yang dia beri tugas untuk mengawasi istrinya.


"Saya, Tuan."


"Apa kamu tahu di mana istriku? Dia bilang sedang perjalanan ke sini, tapi kenapa sampai sekarang belum juga datang? Bahkan nomornya tidak bisa dihubungi sama sekali."


"Pesawat yang ditumpangi istri Anda baru saja lepas landas, Tuan."


"Apa!" pekik Nathan. Zack sampai menjauhkan ponsel dari telinganya. "Kamu gila!"


"Saya masih waras, Tuan."


"Zack! Kenapa kamu tidak bilang padaku sejak tadi?" Nada bicara Nathan benar-benar tinggi.


"Karena ini kejutan untuk Anda, Tuan."


"Astaga. Apa ini ulah Bunda dan Al?" tanya Nathan menuntut jawaban.


"Bukan, ini rencana Nona Queen dan Tuan Rayhan."


"Mereka benar-benar keterlaluan! Istriku diasingkan ke mana?" tanya Nathan. Zack yang berada di seberang telepon, berusaha menahan tawa.


"Ke Lombok, Tuan."


"Apa!"


Zack kembali menjauhkan ponselnya. Kali ini, dia tidak hanya mendengar lengkingan suara Nathan, tapi juga suara meja yang digebrak dengan keras.


"Ah sial!" Nathan meniup telapak tangannya yang memanas karena menggebrak meja tadi.


"Bisakah Anda berteriak sedikit lebih pelan, Tuan? Telinga saja bisa saja tuli."

__ADS_1


"Diamlah, Zack!" bentak Nathan. Masih terus meniup telapak tangannya.


"Apa Anda butuh bantuan, Tuan?" tanya Zack setengah meledek. Nathan hanya menggeram kesal.


"Carikan aku pesawat ke Lom ...." Tut tut. Panggilan itu terputus begitu saja. "Dasar anak buah sialan!" umpat Nathan murka. Dia hampir saja membanting ponselnya kalau saja tidak mendengar pintu diketuk.


"Masuk!" perintah Nathan. Dia memijat pangkal hidung untuk mengurangi amarah yang menguasai saat ini.


"Kamu kenapa, Kak?" tanya Jasmin.


"Jas, carikan aku tiket pesawat ke Lombok sekarang juga." Nathan tidak menoleh sama sekali.


"Sepuluh menit lagi ada rapat, Kak." Jasmin menolak.


"Istriku lebih penting daripada rapat itu, Jas. Kalaupun perusahaanku sedikit rugi tak apa, asal aku tidak kehilangan istriku," ucap Nathan tegas.


"Cintamu untuk Nadira memang tidak diragukan lagi, Nat!" Rayhan masuk ke ruangan bersama Queen.


Melihat kedatangan sang kakak yang tampak tenang, Nathan pun segera bangkit berdiri dan menatap kakaknya dengan sangat tajam.


"Memang siapa yang sedang melawak?" Rayhan mendudukkan tubuhnya di sofa bersama Queen di sampingnya. Tak lupa, Rayhan mencium pipi Queen dengan mesra. Nathan yang melihatnya hanya berdecih kesal.


"Kak!" panggil Nathan membentak.


"Pergilah ke Bandara sekarang juga, Nat. Kakak sudah memesankan tiket ke Lombok dan waktumu tinggal setengah jam," kata Rayhan dengan santai.


"Kak, aku ini mau bulan madu ke Bali. Kenapa Kakak nyulik Nadira dan bawa dia ke Lombok sih!" gerutu Nathan.


"Aku hanya menolong kalian. Aku yakin kalau kamu bulan madu ke Lombok, yang ada kamu gagal malam pertama lagi." Kali ini Queen yang angkat bicara, sedangkan Jasmin yang mendengarnya sedikit terkejut. Namun, beberapa detik kemudian dia terkekeh.


"Kenapa begitu?" tanya Nathan penuh selidik.


"Karena Al sudah berencana mengganggumu. Dia sudah menyuruh anak buahnya untuk mengikutimu ke Bali."


Brak!

__ADS_1


Mereka terkejut saat tiba-tiba Nathan menggebrak meja dengan cukup kencang. "Dasar Tuan Muda kurang kerjaan! Ada dendam kesumat apa dia padaku, sih!" seru Nathan. Mereka bertiga pun tertawa lirih.


"Sudahlah, Nat. Jangan marah-marah dan pergilah. Kalau kamu sampai ketinggalan pesawat, yang ada nanti istrimu kecantol bule di sana." Nathan bergegas bangun setelah mendengar ucapan Rayhan.


"Tapi aku belum bawa baju ganti," kata Nathan ketika dirinya hendak melangkah pergi.


"Kamu tenang saja. Bunda sudah menyiapkan semua pakaian ganti kamu dan Nadira," kata Rayhan, dan Nathan tersenyum senang.


Raut wajah Nathan pun terlihat berbinar bahagia. "Kalian memang benar-benar terbaik!" Nathan mengacungkan kedua jempolnya.


Langkah Nathan melebar hendak keluar ruangan. Namun, belum juga sampai ke pintu, lelaki tampan itu menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Biar perusahaan ini, aku yang handel," kata Rayhan sebelum Nathan membuka suara.


"Ish! Kalau itu mah, aku udah yakin, Kak," kata Nathan. Suaranya terdengar begitu lesu.


"Terus kenapa kamu lemes gitu?" tanya Rayhan dengan kening yang terlihat mengerut.


"Nadira 'kan masih kedatangan si bulan, Kak. Percuma juga, nanti yang ada aku tetep main sama Tante Citra." Nathan menghela napas panjangnya.


"Kamu tenang saja, Nadira sudah selesai kok. Kemarin dia bilang tinggal setetes," timpal Queen. Nathan menatap Queen dengan sangat lekat.


"Maksudnya setetes?" tanya Nathan bingung.


"Darah kotornya. Dia hanya haid empat hari saja. Jadi, kamu bisa membobol milik Nadira," kata Queen dengan santai. Tentu saja senyum Nathan mengembang dengan sangat sempurna.


"Kak Queen yakin?" tanya Nathan memastikan. Queen hanya mengangguk mengiyakan. "Syukurlah." Nathan mengusap wajahnya lega.


"Pergilah, Nat," suruh Rayhan.


"Tentu saja aku akan pergi sekarang juga." Nathan berbalik dan berjalan mendekati pintu. "Ayang Bebeb! Tunggu Abang datang dan kita akan sama-sama mendes*h 'Ah' penuh cinta!" pekik Nathan sebelum keluar dari ruangan itu.


Sementara mereka bertiga yang berada di dalam ruangan, tergelak dengan keras. "Hubby, adikmu benar-benar, ya." Queen menepuk lengan Rayhan yang sedang menggaruk tengkuknya.


"Benar-benar titisan bunda!" sahut Rayhan masih dengan tergelak.

__ADS_1


__ADS_2