Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
232


__ADS_3

Berawal dari boxer Hello Kitty, semua hal indah yang berada dalam angan-angan Nathan, gagal total. Tidak ada percintaan panas, tidak ada desah*n dan erangan. Yang ada justru wajah Nadira yang terus saja cemberut. Bahkan wanita itu tidak mau disentuh sama sekali.


"Ayolah, Beb. Maafin aku, ya." Nathan kembali merayu, tetapi Nadira justru tidur membelakangi suaminya. "Beb." Nathan menggoyangkan lengan Nadira perlahan.


"Aku tidak mau tidur sama kamu, Mas. Kamu seharian ini benar-benar buat aku ilfil!" Nadira setengah membentak saking kesalnya.


"Beb, aku 'kan terpaksa. Tadi di toko itu tinggal satu doang gambar Hello Kitty, enggak ada yang lain. Aku kasihan sama Othong daripada kedinginan, tergesek resleting juga, makanya aku beli aja." Nathan menjawab panjang lebar, sedangkan Nadira mendengkus kasar.


"Mendingan kamu tidur di luar deh, Mas. Aku enggak mau tidur sama kamu." Nadira mengusir, tetapi Nathan justru memeluk erat dari belakang.


"Kalau aku tidur di luar, aku takut kamu nyariin. Emang kamu enggak kasihan sama Baby B kalau tengah malam minta dijenguk?" tanya Nathan santai.


"Enggak bakalan! Udah sana sih! Aku enggak mau deket sama kamu sampai besok pagi!" Nadira menyingkirkan tangan Nathan dengan kasar.


"Beb ...."


"Mas! Jangan bikin mood aku tambah buruk, aku lagi enggak mau sama kamu! Kalau kamu enggak mau keluar biar aku aja yang keluar!" Suara Nadira meninggi. Nathan pun akhirnya pasrah dan melepaskan rangkulannya. Dia beranjak bangun dengan raut wajah yang begitu masam.


"Yakin, Beb, aku harus keluar?" tanya Nathan kembali memastikan.


"Ya!" ketus Nadira.


"Ya udah kalau gitu aku keluar." Nathan berjalan keluar kamar dengan bibir menggerutu. "Padahal 'kan enak keluar sama-sama. Aduhh, Tong! Kasihan banget nasib elu harus nyut-nyutan karena gagal muntah lahar kental."


"Kak Nathan!" Teriakan Nadira berhasil menghentikan gerakan Nathan yang hendak membuka pintu. Lelaki itu berbalik lalu tersenyum semringah ke arah istrinya.


"Apa, Beb?" tanya Nathan hendak kembali mendekat, tetapi Nadira segera menahannya.

__ADS_1


"Tidurlah di sofa, dan ini selimutnya." Nadira menyerahkan selimut kepada suaminya setelah itu dia membalik tubuh suaminya supaya segera keluar kamar. Nathan tidak berani berdebat atau merengek karena dia takut istrinya akan semakin marah padanya.


Setelah Nathan benar-benar keluar, Nadira segera menutup pintu rapat dan tak lupa menguncinya. Kali ini dia sungguh ingin menenangkan diri karena kesal dengan tingkah suaminya.


Nathan menuruni tangga dengan langkah lesu. Alvino yang baru saja akan kembali ke kamar pun tak kuasa menahan gelakan tawanya. Apalagi saat Nathan membawa selimut dalam dekapannya.


"Diamlah, Al!" seru Nathan kesal karena tawa Alvino tidak juga berhenti.


"Yang sabar ya, Thong!"


"Alvino!" bentak Nathan sembari memegang adik kecil yang barusan ditepuk oleh Alvino. Dengan segala kekuatan, Nathan melempar sandal yang saat ini dia kenakan, tetapi melenceng jauh dan membuat Alvino semakin tergelak keras.


"Dasar Kakak Ipar lakn*t!" umpat Nathan. Namun, Alvino tidak lagi mendengar karena lelaki itu sudah tidak terlihat lagi. Nathan berjalan ke sofa dengan bersungut-sungut. Kemudian, dia menghempaskan tubuhnya di sofa secara kasar.


"Hadehh, hari ini aku sial banget, sih," gerutu Nathan sebelum akhirnya mencoba untuk terlelap.


Singapura, Mansion Anderson.


Cacha berlari kencang menuruni tangga saat melihat kepulangan suaminya yang baru selesai lembur. Melihat itu, Mike pun melangkah lebar menyambut istrinya. Cacha segera memeluk Mike dengan sangat erat, dan Mike membalasnya.


"Mas, aku ada kabar bahagia untukmu." Cacha berkata dengan binar bahagia yang membuat Mike menjadi begitu penasaran.


"Kabar bahagia apa? Apa kamu hamil?" tanya Mike yang membuat binar bahagia memudar seketika dari wajah cantik Cacha. Kening Mike mengerut saat melihat perubahan raut wajah istrinya yang begitu cepat.


"Mas, apa kamu sudah tidak sabar ingin melihatku hamil lagi?" tanya Cacha perlahan. Mike terdiam dan merasa bersalah karena ucapannya mungkin sudah menyakiti hati istrinya.


"Kenapa kamu jadi bersedih? Kamu bahkan belum mengatakan kabar bahagia itu." Mike menangkap wajah Cacha dengan lembut, tetapi Cacha langsung menepisnya dan memilih berjalan kembali ke kamar. Dengan segera Mike pun mengejar istrinya.

__ADS_1


"Neng!" panggil Mike sedikit mengeras karena Cacha tidak menyahut sama sekali. Wanita itu duduk di tepi tempat tidur dan terisak pelan. Mike berjongkok di depan Cacha dan menggenggam tangan wanita itu dengan erat.


"Neng, maaf kalau aku salah." Mike berbicara dengan embut. Dia menatap mata Cacha begitu lekat.


"Aku yang minta maaf sampai sejauh ini belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu, Mas." Cacha melepas genggaman tangan Mike dan mengusap air mata yang jatuh perlahan.


"Neng, kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku tidak memaksamu harus hamil saat ini juga. Percayalah, kalau sudah waktunya kita memiliki anak, kita pasti akan mendapatkannya."


"Tapi Mas, aku iri dengan yang lain. Mereka semua sudah hamil dan memiliki anak, tetapi aku? Hampir setahun usai pernikahan kita, belum ada tanda-tanda dia kembali hadir." Cacha berbicara lirih. Membicarakan kehadiran buat hati adalah sesuatu yang sensitif untuk wanita itu meskipun Mike tidak pernah menuntutnya harus hamil saat ini juga.


"Yang penting kita selalu berusaha dan berdoa. bukannya doa kita belum terjawab, aku yakin kalau waktunya belum tepat saat ini. Kita harus sedikit lebih bersabar." Mike kembali menggenggam tangan Cacha dan menatapnya penuh cinta. Cacha pun membalas tatapan itu, dan jujur dia merasa begitu nyaman saat menatap mata suaminya yang begitu meneduhkan.


"Mas, terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini." Air mata Cacha kembali mengalir, dia merasa sangat terharu atas cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh suaminya.


"Tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya aku melimpahimu dengan kasih sayang. Sekarang katakan padaku, ada kabar bahagia apa?" tanya Mike penasaran.


"Ana sudah melahirkan ketiga bayinya. Dua laki-laki dan satu perempuan." Cacha menjawab dengan sangat antusias.


"Alhamdulillah. Syukurlah kalau mereka semua sehat dan selamat. Kamu ingin menengok mereka?" tanya Mike menawari. Cacha mengangguk cepat, tetapi sesaat kemudian wajahnya terlihat lesu, membuat Mike kembali heran. "Kenapa lagi, Neng?"


"Kamu 'kan belum libur, Mas. Kita pulang nanti saja pas Nadira mau lahiran biar enggak bolak-balik." Bibir Mike tersenyum mendengar jawaban istrinya.


"Aku akan mengantarmu ke Indonesia dulu. Kamu bisa tinggal bersama mereka, nanti tiga minggu lagi aku akan menyusulmu. Aku selesaikan semua pekerjaanku dulu," ucap Mike lembut.


"Tapi kita jadi jauh, Mas." Cacha terlihat bimbang.


"Tidak apa, Neng. Nanti akhir pekan aku akan menjengukmu." Mike mengusap rambut Cacha dengan penuh sayang. Cacha hanya diam dan mempertimbangkan semuanya. Dia memang ingin sekali berada di dekat keluarganya, tetapi dia tidak mungkin meninggalkan suaminya sampai berminggu-minggu.

__ADS_1


__ADS_2