
Jangan Lupa sambil dengerin lagu sedih biar makin berasa 😅
Lagu yang Othor rekomendasikan saat baca part ini dan selanjutnya
_Kamu dan Kenangan ~ Shanna Sannon_
Happy Reading gaes.
____________________________________________
"Nad," panggil Cacha, tapi Nadira tidak menyahut. Dia hanya diam dengan tatapan kosong. "Menangislah, Nad. Jangan diam seperti ini." Cacha menggoyangkan bahu Nadira, tapi gadis itu tidak terganggu sama sekali. Rendra pun sangat khawatir, tapi dia berusaha sebisa mungkin tetap konsentrasi menyetir.
"Nad ... aku mohon kamu jangan diam saja. Menangislah, Nad. Kamu boleh menangis sekencang mungkin. Aku janji tidak akan meledekmu." Cacha yang sudah penuh dengan derai airmata, masih berusaha keras menyadarkan Nadira.
"Kalau kamu tidak mau menangis, maka aku akan menembak kepalaku sendiri, Nad!" ancam Cacha. Rendra terkejut melihat Cacha mengeluarkan sebuah pistol dari saku jaketnya dan menempelkan di pelipisnya sendiri. Bahkan, tangan Cacha sudah bersiap menarik pelatuk itu. Rendra segera menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Rendra menghadap belakang dan hendak merebut pistol itu tapi Cacha menjauhkan tubuhnya agar tidak bisa dijangkau Rendra. "Kamu yang benar saja, Cha!"
"Nad ... kalau kamu tidak mau menangis saat ini, maka aku benar-benar akan ...."
__ADS_1
"Hiks!"
Cacha menghentikan ucapannya saat mendengar isak tangis Nadira yang begitu menyayat hati. Nadira menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan mulai menangis keras. Cacha kembali memasukkan pistol itu ke saku, lalu menyuruh Rendra kembali melajukan mobilnya karena mereka sudah ditunggu.
"Tenanglah. Ada aku di sini." Cacha menarik tubuh Nadira masuk dalam dekapannya.
"Cha ... aku sakit." Suara Nadira terdengar begitu lemah, terkalahkan oleh isak tangisnya. Cacha tidak menjawab, dia hanya mengeratkan pelukannya.
"Aku tahu itu, tapi aku percaya kalau kamu gadis yang sangat tangguh," ucap Cacha dengan berat.
"Cha ... aku sakit! Hiks!" Kali ini Cacha tidak menyahut. Dia membiarkan Nadira menangis sekencang dan sepuasnya agar hati gadis itu sedikit lega. Cacha tak kuasa menahan airmata. Dia pun ikut menangis terisak.
Mobil Rendra baru saja memasuki area pelataran Mansion Alexander yang sudah banyak orang di sana. Terutama rekan bisnis Alexander Group, mereka datang untuk melayat. Bendera kuning sudah terpasang di depan Mansion. Nadira sudah tak sabar ingin segera turun dari mobil.
Begitu mobil Rendra berhenti, dua orang pengawal mendekati mobil itu. Salah satu di antara mereka mendorong kursi roda, sedangkan salah satu membuka pintu mobil untuk Nona Muda.
Setelah Nadira duduk di kursi roda, pengawal itu mendorongnya masuk ke dalam mansion. "Nona Muda," panggil Johan. Suara lelaki itu terdengar serak.
Nadira hanya diam saja, tapi kemudian tangis Nadira pecah saat melihat dua orang yang dia cintai terbujur kaku.
__ADS_1
"Mommy! Daddy!" teriak Nadira. Dia duduk di antara kedua orang tuanya. Nathan yang baru saja datang pun tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Hatinya terasa berdenyut sangat sakit. Ingin sekali dia memeluk erat tubuh Nadira, tapi dia tidak mau semakin memperkeruh hati gadis itu.
"Kenapa kalian begitu jahat ninggalin Nadira! Kenapa! Bangun, Mom! Dad! Bangun!" Nadira menggoyangkan kedua tubuh orang tuanya. Mereka semua yang berada di sana tak kuasa lagi menahan tangis.
Alvino dan Febian segera mendekati Nadira dan memeluk tubuh Nadira dengan sangat erat. "Kak Al, Bi ... aku mohon bangunkan mommy dan daddy. Mereka tidak boleh tidur," kata Nadira disela isak tangisnya. Bahkan dia memukul dada kedua saudaranya.
"Kamu harus tenang, Nad. Doakan mommy dan daddy," kata Alvino dengan berat. Dia pun ikut menangis.
"Kenapa mereka begitu jahat?" Nadira melepaskan diri dari pelukan itu. Lalu kembali menggoyangkan tubuh Aluna, tapi kemudian dia memeluk tubuh kaku itu.
"Mommy jangan pergi ... jangan tinggalin Nadira. Apa mommy tidak sayang Nadira? Katanya mommy ingin melihat cucu pertama mommy lahir, kenapa mommy sudah pergi terlebih dulu?" Nadira masih terus saja menangis tersedu. Dia bangkit lalu bergantian memeluk tubuh Davin dengan erat.
"Dad ... bangun, Dad! Kenapa daddy selalu saja membuat kita cemburu dengan kebucinan daddy. Bahkan, ketika mommy pergi pun daddy ikut pergi tanpa peduli pada kita bertiga. Sebegitu besarkah rasa sayang daddy untuk mommy? Nadira cemburu, dad! Bangun, dad! Nadira mohon." Nadira merebahkan kepalanya dan semakin menangis keras.
"Nad, ikhlaskan mereka, biarkan mommy dan daddy pergi dengan tenang," kata Alvino berusaha menenangkan adiknya.
"Kak, bangunkan mommy dan daddy. Nadira janji akan tinggal di mansion lagi menemani mereka. Kak Al, Bi ... tolong bangunkan mereka." Suara Nadira mulai terdengar lirih, bahkan isakan gadis itu tidak lagi terdengar. Alvino menyentuh tubuh adiknya yang sudah tak sadarkan diri.
"Nad!" panggil Alvino, tapi mata Nadira masih saja terpejam. Alvino membopong Nadira masuk ke kamar. Suasana duka begitu terasa di mansion itu. Cacha masih menangis terisak dalam pelukan Mila, sedangkan Johan dan Nathan berdiri bersebelahan tidak jauh dari jasad Davin dan Aluna.
__ADS_1
Johan menatap lekat wajah Davin dan Aluna yang sudah sangat pucat. Airmata mengalir membasahi wajahnya. Dia sudah berusaha keras menahan airmatanya, tapi dia tetap tidak mampu. Kehilangan kedua orang itu menjadi pukulan berat untuknya. Bagi Johan, kedua orang itu adalah orang yang sangat berharga baginya. Apalagi dirinya sudah bertahun-tahun hidup bersama mereka, membuat Davin dan Aluna begitu berharga bagi hidup Johan.