Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
192


__ADS_3

Di sebuah gudang pengap yang tidak lagi terpakai, seorang gadis cantik duduk terikat di sebuah kursi, masih dengan mata terpejam karena pengaruh obat bius. Namun, sesaat kemudian mata gadis itu terlihat mengerjap. Dia terkejut saat mendapati tubuhnya sudah terikat kencang.


"Tolong!" teriak Sabrina dengan berusaha melepaskan ikatan tersebut.


"Diamlah! Mau berteriak sekeras apa pun, tidak akan ada yang mendengarmu!" bentak salah satu pria bertubuh kekar yang berjaga di sana.


"Kalian siapa? Aku tidak pernah ada urusan dengan kalian!" Sabrina berbicara dengan suara tinggi.


"Kita memang tidak pernah mengenalmu, tapi setelah kamu menghina Nyonya Bos, maka kamu harus mendapatkan balasannya!" timpal mereka.


Kening Sabrina terlihat mengerut, dan masih terus berusaha mengingat-ingat. "Nyonya bos siapa? Aku merasa tidak pernah menghina siapa pun."


"Anda yakin, Nona?"


Suara dari pintu masuk berhasil mengalihkan perhatian mereka. Bola mata Sabrina melebar sempurna saat melihat lelaki tadi siang, sedang berjalan mendekat ke arahnya dengan raut wajah yang tampak begitu datar.


"Bukankah kamu anak buah Nona Muda Alexander dan Cacha?" tanya Sabrina.

__ADS_1


"Ternyata ingatan Anda sangat bagus, Nona." Sudut bibir Mike terangkat. Salah satu anak buah Mike mengambil kursi, dan menyuruh bosnya tersebut untuk duduk.


"Aku tidak ada urusan denganmu!" pekik Sabrina. Mike duduk di kursi dengan gagah, satu kakinya menindih kaki yang lain dan posisi tubuh bersandar.


"Kita memang tidak ada urusan sebelumnya, tetapi kamu sudah berani menghina istri kecilku!" Tangan Mike terkepal erat dengan rahang mengetat tatkala ucapan Sabrina yang mengatakan Cacha adalah seorang sugar baby terputar dalam ingatannya.


"Istri kecilmu siapa?" Sabrina masih belum paham.


"Marisa Saputri atau Cacha," sahut Mike tegas.


Kedua mata Sabrina kembali terbuka lebar. "Cacha? Jadi, kamu ini suami Cacha? Hahaha, aku tidak menyangka kalau selera Cacha adalah lelaki yang berumur," ledek Sabrina.


"Aku tidak menyangka saja kalau ternyata selera Cacha sudah berubah sekarang." Sabrina masih saja meledek. Dia tidak menyadari tatapan Mike yang sudah semakin menajam.


"Kamu! Bawa berkasnya ke sini!" perintah Mike pada seorang anak buah yang langsung berjalan mendekat. Dia menyerahkan sebuah map berwarna biru yang langsung diterima oleh Mike. Mendengar perintah Mike yang begitu tegas, tawa Sabrina meredam seketika.


Mike membaca berkas itu perlahan dengan sesekali tersenyum miring, sedangkan Sabrina justru semakin heran dan penasaran isi berkas tersebut. Setelah selesai membaca, Mike menutup berkas tersebut dan mengembalikan kepada anak buahnya.

__ADS_1


"Sabrina Almira. Putri sulung dari dua bersaudara. Ayahnya pergi karena kalah judi dan meninggalkan utang ratusan juta. Pergi merantau ke kota, menjadi pelacur dan juga simpanan pria kaya raya untuk bisa mendapatkan banyak harta. Memasang tarif tiga juta sekali bermain."


Tubuh Sabrina memucat setelah mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari Mike. Bagaimana bisa lelaki itu tahu tentang hal pribadi yang sudah dia tutup rapat?


"Ba-bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Sabrina terbata.


"Kamu menghina istriku, mengatakan dia adalah sugar baby, ternyata kamu sendiri yang sugar baby." Mike tersenyum miring.


"Bukankah Cacha juga sugar baby dengan mencintai lelaki berumur, oh aku lupa kalau kamu hanyalah seorang anak buah!" hina Sabrina. Dia berusaha keras mengumpulkan segala keberaniannya.


"Asal kamu tahu, hubungannku dengan Cacha adalah suami istri sah di mata hukum dan agama. Kalau memang aku dulu hanyalah sebatas anak buah, memang kenapa? Tanpa istriku bekerja pun aku masih bisa menghidupinya!" tegas Mike.


"Dengan apa? Dengan gaji yang diberikan ayah Cacha? Sama saja. Cih!" Sabrina meludah. Anak buah Mike yang melihat itu, menjadi naik pitam. Bahkan salah satu di antara mereka maju dan menampar Sabrina sehingga sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah.


"Jangan menilai hanya dari apa yang kamu lihat dan dengar saja, Nona. Saya bukan lagi anak buah Tuan Johan. Kamu tidak perlu tahu apa pekerjaanku sesungguhnya. Aku hanya ingin memberi kejutan untukmu, sesuai yang aku janjikan padamu."


Sabrina terdiam, entah mengapa perasaannya mendadak tidak enak apalagi saat melihat sorot mata Mike yang begitu menakutkan. Mike bertepuk tangan memberi kode, sesaat kemudian anak buah yang lain masuk bersama seorang lelaki berpakaian lusuh yang juga terikat.

__ADS_1


Sabrina berusaha mengamati lelaki kumal tersebut, terlihat tidak asing untuknya. Di saat lelaki itu mendongak, tubuh Sabrina menegang bahkan seluruh aliran darahnya seolah berhenti saat itu juga.


"Ba-bapak."


__ADS_2