
"Cha, apa Kak Nathan baik-baik saja?" tanya Nadira. Raut wajahnya terlihat sangat cemas.
"Bunda bilang belum sadarkan diri. Sebenarnya ...." Cacha menghentikan ucapannya.
"Sebenarnya apa?" tanya Nadira tak sabar.
"Sebenarnya Kak Nathan akan ikut ke Bali dan memberi kejutan padamu. Bahkan dia sudah memesan tiket pesawat yang sama dengan kita. Aku juga tidak percaya Kak Nathan akan mengalami kecelakaan seperti ini," sahut Cacha dengan suara berat. Bahkan matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
Nadira tidak membuka suara, dia hanya mengusap wajahnya dengan sangat kasar. "Semoga Kak Nathan baik-baik saja." Cacha hanya mengamini ucapan Nadira. Setelah itu suasana di mobil kembali hening.
***
Baru saja Mike menghentikan mobilnya di depan rumah sakit. Nadira sudah keluar dan berlari cepat menuju ke ruang VVIP tempat Nathan di rawat. Rendra dan Cacha pun ikut berlari menyusul.
"Nona Muda," panggil Johan saat Nadira masuk ke ruangan.
"Uncle, bagaimana keadaan Kak Nathan?" tanya Nadira khawatir.
"Lihatlah, dia masih belum sadar, Nad." Mila terlihat begitu sedih melihat Nathan yang masih memejamkan mata dengan luka terbalut perban di sebagian wajah dan tangan kirinya.
"Aunty." Nadira memeluk tubuh Mila dengan sangat erat dan terisak keras. Cacha yang baru bergabung, segera ikut berpelukan bersama mereka.
"Yakinlah Nathan pasti akan sadar dan kembali sehat seperti sedia kala." Mila berusaha menenangkan meski dirinya juga sangat khawatir. Baru saja Mila menutup mulutnya, tangan Nathan sudah terlihat bergerak.
Nathan mengerjapkan kedua matanya, berusaha menyesuaikan dengan cahaya di ruangan itu. Dia melihat satu persatu anggota keluarganya yang berada di sana.
"Kamu sudah sadar, Nat?" tanya Johan, dia menekan tombol nurse untuk memanggil dokter. Mendengar itu, Mila segera melerai pelukannya dan berjalan mendekati Nathan.
"Ayah, aku kenapa?" tanya Nathan dengan suara lemah.
__ADS_1
"Kamu kecelakaan, tapi syukurlah kamu sekarang sudah sadar," sahut Johan.
Nathan memijat pelipisnya saat rasa pusing menderanya. Dia mengamati wajah keluarganya satu persatu. Namun, saat menatap Nadira, keningnya terlihat mengerut.
"Bun, gadis itu siapa?" Nathan menunjuk Nadira. Tentu saja mereka sangat terkejut.
"Dia istrimu. Apa kamu tidak mengingatnya?" tanya Mila. Kedua alis Nathan terlihat saling bertautan.
"Istri? Kapan aku menikah, Bun?" Jari jemari Nadira saling meremas saat mendengar pertanyaan Nathan. Mungkinkah lelaki itu melupakannya.
"Nat, kamu ingat kita semua?" tanya Johan. Nathan mengangguk lemah.
"Tapi tidak dengan gadis itu." Nathan menunjuk Nadira yang sudah menunduk sedari tadi. Bahkan airmata gadis itu seolah tidak bisa lagi ditahan.
Mereka masih belum percaya dengan Nathan yang melupakan Nadira. Seorang dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan itu dan langsung memeriksa Nathan.
"Dok, putra saya tidak bisa mengingat Nona Muda yang sudah berstatus sebagai istrinya," adu Johan. Kening dokter itu terlihat mengerut.
"Iyakah? Tuan, ingatkan kamu dengan mereka?" Dokter menunjuk mereka yang berada di ruangan.
Nathan mengangguk lemah. "Itu ayah, bunda, Cacha, Rendra, dan itu ...." Namun Nathan langsung terdiam saat telunjuknya mengarah ke Nadira yang sedang menatapnya penuh harap. "Aghh!" Nathan mengerang saat merasakan sakit yang hebat di kepala.
"Jangan paksa untuk mengingat." Dokter itu berusaha menenangkan Nathan.
"Dok, apa kejadian ini bisa saja terjadi?" tanya Johan saat melihat Nathan sudah kembali tenang.
"Bisa saja. Kemungkinan Tuan Nathan mengalami amnesia disosiatif." Johan menatap bingung ke arah dokter itu.
"Apa itu amnesia disosiatif?" tanya Johan.
__ADS_1
"Amnesia yang di mana penderitanya hanya melupakan sebagian kecil saja hal-hal terpenting dalam hidupnya," jelas dokter.
"Apa bisa sembuh?" tanya Mila khawatir.
"Tentu saja bisa. Kalian bisa berusaha membantu mengingat dengan mengatakan atau menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan Nona Muda," suruh dokter itu.
"Apa lama, Dok?" tanya Johan lagi.
"Tidak bisa dipastikan, Tuan. Tapi berusahalah untuk membantu Tuan Nathan mengingat Nona Muda." Mereka pun mengangguk mengiyakan. Sementara Nadira hanya menatap Nathan dengan nanar.
Hati Nadira merasa sangat sakit karena Nathan hanya melupakan dirinya saja. Bahkan airmata Nadira sudah terlihat membasahi sudut matanya. Mereka pun tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa semoga Nathan bisa kembali mengingat Nadira.
"Nad, percayalah kalau Kak Nathan akan kembali ingat denganmu." Cacha menepuk bahu Nadira untuk menenangkannya. Nadira tidak menyahut, dia hanya menatap Nathan yang juga sedang menatapnya dengan sangat lekat.
"Kak Nathan tidak mengingatku sama sekali?" tanya Nadira penuh harap.
"Tidak!" jawab Nathan cepat. Hati Nadira terasa berdenyut sakit mendengar jawaban Nathan.
"El, bersabarlah. Suatu saat Nathan pasti akan mengingatmu." Rendra merangkul pundak Nadira dan gadis itu sama sekali tidak menolaknya. "Lebih baik sekarang makan dulu. Kamu dari pagi belum makan, El." Rendra terlihat sangat khawatir.
"Aku mau di sini sampai Kak Nathan mengingatku, Mas." Nadira menolak dengan tegas.
"El, ingat kamu punya asam lambung. Aku tidak mau asam lambungmu kumat. Aku janji, setelah makan aku akan mengantarmu kembali ke sini." Rendra berusaha merayu Nadira yang terlihat bingung.
"Sebaiknya Anda sarapan dulu, Nona Muda. Kesehatan Anda itu sangat penting, Nona." Johan pun berusaha merayu Nadira.
Setelah melakukan berbagai pertimbangan, akhirnya Nadira setuju. Dia meninggalkan ruangan bersama Rendra yang masih setia merangkul pundaknya.
"Tunggu!" teriak Nathan menghentikan langkah Nadira dan Rendra yang hampir sampai pintu.
__ADS_1