
Jangan lupa tinggalkan like di setiap bab nya 😅
Begitu mendengar suara teriakan dari arah dapur, Rendra yang hendak menuju ke kamar tamu segera membelokkan langkahnya ke arah teriakan itu. Dia terkejut melihat Cacha sedang memegang kaki kanan yang terangkat, dan panci yang berisi cilok itu tergeletak di lantai samping gadis itu dengan isi yang berhamburan.
"Kamu kenapa, Cha?" Rendra berjalan mendekat.
"Barusan ada tikus lewat," sahut Cacha asal. Dia tersenyum tipis saat ekor matanya tidak lagi melihat orang tadi.
"Jangan mengigau! Mana ada tikus di mansion ini," tutur Rendra. Dia mengambil satu butir cilok di piring lalu memakannya.
"Mas, itu buat Nadira bukan buat kamu!" cebik Cacha kesal.
"Aku cuma nyicip doang, lagian El tidak boleh terlalu banyak makan sambal kacang. Perutnya enggak cocok," kata Rendra di sela kunyahannya. Cacha menatap Rendra dengan menyelidik.
"Kamu tahu dari mana?" Cacha memajukan wajahnya, membuat Rendra menjadi begitu gugup. Bahkan jantungnya berdegup kencang.
"Jangan dekat-dekat!" Rendra menonyor kepala Cacha hingga tubuh gadis itu terhuyung ke belakang. "Ayo kubantu," tawar Rendra. Senyum di bibir Cacha mengembang sempurna.
Cacha mengulurkan tangannya di depan Rendra, tapi lelaki itu justru berjalan dengan santai meninggalkan Cacha yang hanya melongo melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu enggak jalan juga?" tanya Rendra. Dia yang sudah hampir sampai di pintu dapur, membalikkan tubuh dan melihat Cacha yang masih berdiri di tempatnya.
"Katanya kamu mau bantu aku," rajuk Cacha. Dia melipat tangan di dada.
"Ini sudah ku bantu." Rendra menunjukkan piring yang berisi cilok di tangannya. Kedua alis Rendra terlihat naik turun dengan bibir yang tersenyum seolah tak berdosa.
"Astaga! Mas Rendra! Ku kira kamu bakal bantuin aku jalan," kata Cacha dengan kesal. Tanpa sadar, dia berjalan cepat mendekati Rendra.
"Lah kamu 'kan sudah bisa jalan sendiri ngapain minta bantuan Cacha Maricha Hehey!" balas Rendra sembari menghembuskan napas kasar.
"Ya, setidaknya 'kan biar romantis. Pantes aja enggak pernah pacaran, cowok gak ada romantis-romantisnya!" cibir Cacha. Dia mengambil alih piring di tangan Rendra, lalu berjalan cepat meninggalkan Rendra begitu saja.
Kemudian setelah itu, Rendra kembali ke kamar tamu karena selama tiga hari ke depan dia akan menginap di Mansion Alexander sebelum kembali ke Bandung.
***
Sementara itu di ruangan kerja Davin, suasana cukup tegang. Johan duduk santai di sofa, sedangkan Alvino duduk di kursi kerja ayahnya.
"Bagaimana, Nat?" tanya Alvino. Nathan yang berdiri di samping sofa menggeleng dengan cepat.
__ADS_1
"Tidak akan! Al, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Nadira." Nathan menolak dengan tegas.
"Aku juga tidak mau, Nat. Tapi hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan. Mereka mengincar Nadira karena dia satu-satunya putri keluarga Alexander dan juga kelemahanmu." Alvino menghela napas berat. Sungguh, dia dihadapkan pada dua pilihan yang dia sendiri begitu susah untuk memilih.
"Nat, Ayah akan berusaha semaksimal mungkin agar Nona Muda tidak terluka sedikit pun. Kalau kita bergerak lamban, yang ada kita akan kalah. Kamu tidak lupa 'kan? Karena mereka Tuan Davin dan Nonya Aluna meninggal dunia," ucap Johan dengan suara berat. Kedua mata lelaki paruh baya itu kembali terlihat berkaca-kaca.
"Bukankah tadi kamu lihat sendiri, Nat? Orang itu berada di dekat kita," ucap Alvino sambil kembali menunjuk CCTV yang terpasang di dapur yang memperlihatkan apa yang terjadi dengan Cacha tadi.
Nathan masih bungkam. Dia benar-benar dilema saat ini. "Baiklah. Aku setuju." Nathan akhirnya memberi keputusan, Johan dan Alvino pun bernapas lega.
"Yah," panggil Nathan dengan lirih. Johan menatap putranya yang kembali terdiam. "Apa setelah mereka tertangkap, Nathan dan Nadira akan bercerai?" tanya Nathan pelan.
"Semua keputusan ada di tangan Nona Muda. Ayah cuma bisa berdoa untuk kebaikan kalian." Johan bangkit berdiri lalu menepuk pundak putranya.
"Jangan pikirkan itu dulu. Tiga hari lagi kita akan beraksi." Nathan hanya mengangguk lemah.
Johan berjalan keluar ruangan, meninggalkan Nathan dan Alvino. Setelah pintu ruangan itu tertutup rapat, Nathan duduk di atas meja di depan Alvino. Dia menatap sahabatnya lekat.
"Al, kamu yakin akan menjaga Nadira dengan baik?" tanya Nathan memastikan.
__ADS_1
"Tentu saja. Nadira itu adik kandungku, Nat. Jadi aku akan menjaganya dengan sangat baik. Aku juga tidak menyangka kalau orang itu ternyata di dekat kita." Alvino menatap layar di depannya dan mengamati seluruh tampilan CCTV yang terlihat di sana.