
Setelah melakukan panggilan video dengan kakak iparnya. Kini Cacha sudah bersiap untuk pulang ke Jakarta bersama kedua orang tuanya. Cacha mengedarkan pandangannya, mencari sosok Mike ataupun Rendra, tapi tidak ada dari mereka yang terlihat membuat hati Cacha begitu kecewa.
"Kamu sudah siap, Cha?" tanya Johan.
Cacha tidak langsung menjawab, hanya mendesah kasar, lalu mengangguk mengiyakan. "Sudah, Yah."
"Kalau begitu ayo kita pulang." Mila menggandeng tangan putrinya. Mereka bertiga pun segera berjalan keluar.
Ketika hendak masuk ke mobil, kening Cacha terlihat mengerut karena bukan Mike yang membukakan pintu untuk mereka, tapi salah satu anak buah Mike. Ingin sekali Cacha bertanya, tapi dia terlalu malu. Jujur, dua hari tidak melihat wajah Mike membuat Cacha rindu lelaki yang selalu menjaganya dua puluh empat jam.
Setelah mereka semua sudah masuk ke dalam mobil, anak buah Mike itu pun segera melajukan mobilnya menuju ke Kediaman Saputra.
"Yah, ke mana Mike?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Cacha setelah sedari tadi gadis itu begitu gelisah.
Bibir Johan tersenyum simpul. "Mike sudah mengundurkan diri menjadi anak buah ayah."
"Apa!" seru Cacha dengan bibir terbuka lebar. "Ayah izinkan dia berhenti?" tanyanya menuntut jawaban.
"Tentu saja. Sepertinya dia sudah waktunya pensiun. Lagi pula, dia bilang mau fokus nyari istri," sahut Johan dengan tenang. Wajah Cacha mendadak muram.
"Apa kamu sedih Mike sudah berhenti, Cha?" tanya Mila dengan senyum setengah meledek saat melihat raut sendu di wajah putrinya.
"Kenapa Mike tidak pamitan sama Cacha?" Suara Cacha terdengar melirih.
"Kenapa harus berpamitan sama kamu? Oh iya, Cha. Bagaimana dengan Rendra? Apa dia mau menemui kita?" tanya Mila mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum tanya lagi, Bun. Lagian Mas Rendra itu kayaknya mulai cinta sama si Anisa," sahut Cacha lesu.
"Bagus dong, kalau begitu kalian bisa sudahi sandiwara itu. Ayah tidak mau kamu terus-terusan berbohong, Cha." Nada bicara Johan terdengar penuh penekanan.
"Baik, Yah."
Suasana di mobil menjadi hening karena mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Cacha duduk bersandar menatap luar jendela. Hatinya merasa begitu bimbang saat ini.
__ADS_1
***
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, mobil milik Johan akhirnya berhenti di pelataran rumahnya. Johan segera keluar dari mobil dan membantu putrinya.
"Hati-hati, Cha." Mila berkata lembut. Dia menuntun putrinya masuk ke rumah bersama Johan. Cacha pun langsung masuk ke kamar untuk beristirahat karena otot tubuhnya merasa kaku sehabis perjalanan jauh.
Ketika sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan kedua orang tuanya berpamitan untuk istirahat juga, Cacha hanya terdiam menatap langit-langit kamar.
Bayangan semua tentang Mike dan Rendra seolah saling berebutan untuk membayanginya. Cacha begitu bimbang saat ini, dia sendiri masih ragu siapa yang akan dipilihnya.
Dirinya mulai berdebar-debar saat berdekatan dengan Rendra, bahkan terkadang bayangan lelaki itu mengganggu pikirannya. Namun, Cacha merasa begitu nyaman saat Mike ada di dekatnya.
"Huh!" Hembusan napas kasar terdengar memecah keheningan di kamar itu. "Mungkin aku harus biarkan semua seperti air yang mengalir saja," ucapnya. Cacha memaksa kedua matanya agar bisa terpejam. Dia benar-benar butuh istirahat saat ini.
Sementara itu di rumah Mike, lelaki itu sedang duduk sendiri dengan secangkir kopi panas berada di depannya. Lelaki itu hanya diam dengan pikiran yang berkelana memikirkan nona mudanya.
Sebenarnya, dia merasa sangat khawatir dan ingin menemani nona mudanya itu. Namun, dia tidak ingin membuat Cacha merasa tidak nyaman.
Tiba-tiba, pintu rumah Mike terdengar diketuk. Kening lelaki itu terlihat mengerut, memikirkan siapa yang berkunjung ke rumahnya.
"Hai, Mike," sapa Mario. Namun, Mike hanya membisu. "Kamu tidak menyuruh tamu kamu untuk masuk?" tanya Mario menyindir.
"Silakan masuk, Mar." Mike membuka pintu rumahnya lebih lebar dan membiarkan Mario masuk.
Setelah Mario sudah duduk di sofa, Mike bergegas masuk ke dapur untuk membuatkan kopi untuk lelaki itu. Selepas kepergian Mike, Mario mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut ruangan di rumah itu.
Bayangan ketika mereka masih bersahabat baik, kembali terputar dalam memori Mario. Tanpa terasa, sudut mata lelaki itu basah saat teringat Devi, wanita yang dia cintai.
"Jangan melamun, Mar!" Suara Mike berhasil membuat Mario terlonjak dan mengembalikan kesadaran lelaki tersebut.
Mario tidak menyahut, dia hanya menatap gerak-gerik Mike yang sedang menaruh secangkir kopi hitam di depannya.
"Silakan diminum, Mar." Mike kembali mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal yang berhadapan dengan Mario.
__ADS_1
"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Mike, kembali menyeruput kopi yang hampir dingin.
" Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukan sahabatku saja," sahut Mario dengan santai. Bibir Mike tersenyum miring.
"Kamu masih menganggapku sahabat?" tanya Mike.
"Maafkan aku, Mike. Aku sudah salah paham padamu selama ini. Andai saja saat itu kamu—"
"Sudahlah, Mar. Tidak perlu dibahas. Semua sudah berlalu. Sekarang aku merasa lega karenaa kamu sudah tahu semuanya." Mike bicara dengan sangat tenang.
Mario menatap lekat wajah sahabatnya yang terlihat begitu suram, seperti ada pikiran yang sedang mengusik lelaki itu.
"Apa ada pikiran yang mengganggumu, Mike?" tanya Mario memberanikan diri.
"Tidak ada." Mike menjawab cepat.
"Jangan berbohong, Mike. Bicaralah, siapa tahu aku bisa membantu." Mario mengangkat cangkir kopinya, lalu meniup sekali sebelum menyeruput cairan hitam itu.
"Mar, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Mike ragu.
"Tentu saja boleh. Apa ini menyangkut nona muda mu?" tebak Mario.
Mike terdiam saat Mario berhasil menebaknya. Ya, dirinya memang akan bertanya tentang hubungan Cacha dan Rendra. Dengan perlahan, Mike menggerakkan tubuhnya untuk bersandar pada sofa.
"Apa Tuan Rendra mencintai nona mudaku?" tanya Mike hati-hati.
"Kalau itu aku tidak tahu, Mike. Dalamnya hati orang tidak ada yang tahu, tapi dari yang kutangkap dari gerak-gerik Tuan Rendra, sepertinya beliau sudah memiliki perasaan dengan Nona Cacha," tutur Mario.
Mike menghela napas panjangnya. "Mungkin aku harus menyerah dan menjadi jomlo abadi." Mike terkekeh.
"Jangan berbicara seperti itu, Mike. Aku yakin pasti jodohmu sudah dekat. Ya ... walau kita belum tahu siapa gadis yang akan menjadi pendamping hidupmu." Mario berusaha menenangkan hati sahabatnya.
"Aku tidak ada keinginan untuk jatuh cinta lagi, Mar."
__ADS_1
"Aku tahu kamu orang yang susah untuk jatuh cinta, Mike," sela Mario, kembali menyeruput kopi hitamnya. "Kemarin Tuan Rendra bercerita padaku, kalau Tuan Johan meminta beliau untuk datang bersama orang tuanya untuk melamar Nona Cacha."
"Apa!" sela Mike, dengan menatap tak percaya.