
Suara musik yang barusan terdengar memenuhi ruangan, kini tidak lagi terdengar saat pembawa acara memulai acara tersebut. Mike sudah memosisikan diri di meja tempat akad nikah dengan ditemani penghulu dan juga Johan serta dua orang saksi.
Sementara di pintu masuk ruangan, Cacha yang digandeng Nadira dan Mila, menautkan alis saat melihat ruangan yang sudah dihias dengan begitu indah. Bahkan karpet merah terbentang dari tempatnya berdiri saat ini sampai ke panggung yang sudah penuh dekorasi bunga.
"Bun, ini ada apa?" tanya Cacha menuntut jawaban. Menatap sang bunda dengan tatapan penuh heran. Mila tidak menjawab, hanya menunjukkan senyum simpulnya dan mengajak mereka segera masuk ke dalam ruangan.
Walaupun merasa begitu heran, Cacha tetap mengikuti langkah mereka. Tepat ketika mereka berjalan di tengah ruangan, sebuah lagu ulang tahun menggema di sana.
Cacha menutup mulut tidak percaya saat Rayhan mendorong sebuah troli dengan kue ulang tahun yang besar di sana. Mike dan Johan beranjak bangun dan berdiri bergabung bersama mereka.
"Bun ...."
"Selamat ulang tahun, Sayang."
Cacha tidak menjawab, hanya memeluk tubuh sang bunda dengan sangat erat. Mila pun membalas pelukan putrinya tersebut. Di susul Johan dan Rayhan yang ikut memeluknya.
__ADS_1
Kali ini, Nadira melangkah mundur, bukannya dia tidak mau ikut berpelukan, dia hanya ingin memberikan waktu untuk keluarga inti tersebut merasakan kebahagiaan. Pandangan Nadira menyapu seluruh ruangan, tetapi dia tidak menemukan keberadaan suaminya sama sekali. Hanya Ana dan Kenan yang kini berdiri di samping kanan dan kirinya.
"Selamat ulang tahun, Cha. Maaf kita sengaja berpura-pura lupa." Johan mendaratkan ciuman di puncak kepala putrinya. Nadira yang melihat itu, hanya mengusap sudut matanya yang berair. Jujur, Nadira merasa kembali sakit saat teringat kedua orang tuanya.
Seandainya mereka masih hidup, mungkin saat ini dia sedang merayakan ulang tahun bersama keluarganya. Namun, sekarang? Tidak ada siapa pun. Kakaknya tidak bisa ikut, bahkan ucapan selamat ulang tahun lewat ponsel pun, Alvino tidak mengirimkannya.
Mungkinkah sang kakak lupa? Karena terlalu sibuk dengan dua bayi kembarnya. Sementara Febian tidak bisa hadir karena pekerjaan kantor yang sedang sibuk-sibuknya. Bahkan suaminya pun, pergi entah ke mana.
"Ehem!" Johan mengambil alih mic dari pembawa acara setelah mereka melepaskan pelukan itu. Semua yang hadir di sana terdiam, dan ruangan itu terasa begitu senyap. Mila berkali-kali menahan Cacha agar tidak menangis karena takut riasannya akan berantakan.
"Saya minta waktunya sejenak." Johan mulai membuka suara. "Selamat ulang tahun, Cacha. Marisa Saputri. Putri bungsu ayah yang sangat ayah cintai." Johan menghentikan ucapannya dan menatap lekat putrinya yang saat ini sedang menahan tangis.
Tepat ketika Johan selesai berbicara, Cacha memeluk tubuh sang ayah dengan sangat erat. Johan pun membenamkan kembali ciuman di kening putrinya dengan sangat lama. Suasana begitu haru, tidak sedikit dari mereka yang mengusap air mata saat melihat pemandangan di tengah ruangan itu.
Air mata Nadira semakin mengalir deras, bahkan dia tidak bisa lagi menahannya. Antara bahagia dan sakit, berkumpul jadi satu dalam hatinya. Dia bukannya cemburu saat melihat mereka, dia hanya teringat kedua orang tuanya saja, juga keluarganya yang tidak ada satu pun yang hadir di sana.
__ADS_1
Nadira hendak beranjak pergi, tetapi Ana segera menahan lengannya. "Kamu mau ke mana?" tanya Ana.
"Aku mau ke toilet, An." Nadira berusaha menepis tangan Ana, tetapi wanita itu justru mengeratkan cekalan tangannya.
"Tunggu sebentar. Kamu tidak ingin melihat pernikahan Mike dan Cacha?" Ana masih berusaha menahan. Nadira pun terdiam sesaat, tetapi akhirnya dia tetap berdiri di sana untuk menyaksikan kejutan Mike untuk sahabatnya.
Perhatian seluruh tamu semakin terfokus di tengah ruangan. Mereka terkejut saat melihat Mike yang tiba-tiba berdiri setengah jongkok di depan Cacha, dan menunjukkan sebuah kotak bludru dengan dua cincin di dalamnya.
"Selamat ulang tahun, Nona." Mike berbicara dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Cacha membisu, menatap Mike yang sedang menatapnya—penuh cinta.
"Mike ...." Cacha terdiam, dia tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya.
"Tepat di ulang tahun Anda, saya ingin mengucapkan sepatah dua patah kata untuk Anda, Nona. Maukah Anda mendengarnya?" Suara Mike terdengar begitu gugup. Cacha tidak bisa menjawab, hanya mengangguk lemah.
"Nona Muda Marisa Saputri atau Cacha. Saya ingin bicara jujur kalau saya sangat mencintai Anda. Mungkin saya sudah salah, tetapi saya ingin memperjuangkan perasaan saya." Mike terdiam sesaat untuk mengambil napas dalam-dalam.
__ADS_1
"Nona Muda, dengan segenap kerendahan hati. Izinkan saya meminang Anda, tepat di ulang tahun Anda ini. Maukah Anda menikah dengan saya? Menjadi istri dan ibu dari anak-anak saya kelak?" Mike kembali menghirup napas dalam untuk mengurangi kegugupannya. Cacha masih saja membisu, berusaha mencerna semua yang dia dengar saat ini.
Bagaimana perasaan kalian gaes?