
Cacha baru saja sampai di Bandara bersama Mike yang hanya berniat mengantar istrinya saja karena besok pagi dia akan kembali ke Singapura. Cacha meminta Mike untuk melajukan mobil mereka menuju ke Kediaman Sandijaya, dia sudah tidak sabar ingin melihat bayi Ana yang baru saja pulang dari rumah sakit.
Mobil Mike baru saja berhenti di halaman rumah mewah tersebut. Cacha dengan sangat antusias ingin segera masuk apalagi saat melihat ada mobil keluarganya di sana. Itu artinya kedua orang tuanya juga berada di sana.
Mike tidak berbicara, hanya berjalan di samping istrinya tak lupa sembari bergandengan tangan. "Bunda!" pekik Cacha saat melihat Mila sedang duduk di ruang tamu bersama yang lain.
"Cacha! Astaga, bunda sangat merindukanmu." Mila beranjak bangun dan berjalan mendekati putrinya untuk memberikan pelukan. Wanita itu sudah sangat merindukan putri bungsunya karena sudah beberapa bulan tidak pulang dan mereka hanya melakukan video call saja.
"Cacha juga kangen banget sama Bunda." Mata Cacha terlihat basah, Mila pun segera mengusap wajah putrinya sebelum air mata itu terjatuh.
"Kamu baik-baik saja di sana?" tanya Mila. Cacha mengangguk dengan cepat.
"Tentu, Bun. Mike dan kakek-nenek sangat menyayangiku." Cacha menjawab dengan antusias membuat senyum di bibir Mila mengembang sempurna.
Setelah puas melepas rindu dengan sang bunda, Cacha beralih memeluk sang ayah dan tak lupa menyalami orang tua Kenan yang juga sedang duduk di sofa. Mike pun juga ikut menyalami mereka.
"Di mana ketiga bayinya?" tanya Cacha tak sabar.
"Di kamar, sana kalau mau lihat." Mila menyuruh, Cacha berjalan menuju ke arah tangga, tetapi tiba-tiba dia berbalik dan menarik tangan Mike supaya ikut dengannya.
Cacha membuka kamar Ana dan melihat sahabatnya itu sedang duduk bersama Kenan dan juga tiga bayi yang sedang terlelap. Wajah Cacha semakin berbinar bahagia saat melihat bayi lucu-lucu tersebut. Ana dan Kenan sangat menyambut kedatangan mereka, bahkan Ana langsung menyuruh Cacha untuk menggendong salah satu bayinya.
"Nama mereka siapa?" tanya Cacha sembari menatap bayi mungil yang masih saja terlelap.
"Yang kamu gendong itu si sulung, namanya Kenzo, yang cewek ini Kenzi terus yang bontot Kendra," papar Ana sembari menunjuk kedua bayinya yang lain.
"Wah, namanya Ken semua. Bagus sekali." Cacha menatap bayi mungil itu dengan sangat lekat hingga tanpa sadar air matanya hendak mengalir. Jujur, dia sudah sangat menginginkan seorang bayi hadir di antara mereka.
__ADS_1
"Lihatlah, Neng. Kenzi terbangun, sepertinya dia juga ingin digendong." Mike berusaha mengalihkan perhatian Cacha agar wanita itu tidak bersedih. Bola mata Cacha menatap bayi yang memakai bedong warna pink sedang menggeliat dan menggerakkan kepala mencari susu. Dengan sigap Kenan bangkit berdiri dan membuatkan susu untuk putrinya.
"Cacha!" Teriakan dari arah pintu berhasil mengejutkan mereka. Cacha kembali semringah saat melihat Nadira sedang berjalan mendekat ke arahnya. Cacha menggeleng saat melihat perut Nadira yang sudah sangat buncit bahkan mulai terlihat menurun.
"Ibu hamil, apa kabar?" sapa Cacha. Nadira duduk di samping Cacha dan tak lupa mendaratkan ciuman di pipi adik iparnya itu.
"Kabar baik. Kamu gimana kabar? Kenapa pulang enggak bilang-bilang?" tanya Nadira dengan bibir sedikit mencebik. Cacha terkekeh melihat tingkah Nadira yang seperti anak kecil.
"Aku sengaja buat kejutan untukmu. Biar kamu enggak heboh. Kak Nathan mana?" tanya Cacha karena tidak melihat keberadaan kakaknya.
"Kerja." Nadira menjawab ketus.
"Kerja? Ini akhir pekan loh, Nad. Masa kerja sih?" tanya Cacha heran. Nadira mengangguk dengan cepat. "Emang kerja apaan?"
"Beliin aku gorengan." Nadira menjawab santai. Cacha yang mendengar itu hanya tertegun untuk beberapa saat. Namun, ketika Cacha hendak bertanya lagi, Nathan masuk dengan langkah terburu.
"Kak Nathan kenapa nyebelin banget sih?" Cacha mendengkus kasar. Nathan terkekeh lalu memeluk Cacha dengan erat tak lupa mendaratkan ciuman di puncak kepala adiknya itu.
"Kamu sehat saja 'kan?" tanya Nathan setelah melerai pelukannya.
"Sehat lah, emang Kak Nathan pikir aku udah enggak sehat?" tanya Cacha sedikit sewot.
"Kenapa kamu jadi galak banget, Cha. Kali aja kamu jadi agak oleng karena sekarang udah jadi istri sultan oe!" goda Nathan, alis lelaki itu terlihat naik turun.
"Suamiku namanya Mike bukan Sultan!" protes Cacha. Nathan dengan gemas mencubit pipi adiknya hingga gadis itu semakin kesal.
Setelah puas menggoda adiknya, kini Nathan beralih mendekati sang istri yang sedari tadi terlihat sibuk melihat Kenzi yang sedang minum susu. Nathan mengusap perut Nadira dengan lembut, tetapi wanita hamil itu diam saja seolah tidak peduli. Semua yang berada di kamar yakin kalau pasangan suami istri itu sedang bertengkar.
__ADS_1
"Kenzi lucu ya, Beb. Nanti kalau udah besar bisa kita jodohin sama Baby B," ucap Nathan. Nadira menoleh, menatap suaminya dengan sangat tajam seolah hendak melahap habis lelaki itu. Nathan yang melihat itu pun hanya berusaha keras menelan ludahnya.
"B aja belum lahir udah kamu jodoh-jodohin, Mas!" omel Nadira. Dengan tanpa dosa, Nathan hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya.
"Aku bercanda loh, Beb. Jangan ngambek dong, entar cantiknya ilang." Nathan mencium pipi Nadira berkali-kali, tetapi wanita itu justru melengos.
"Kalian lagi berantem?" tanya Kenan dengan menahan tawa.
"Diamlah, Ken!" timpal Nathan dengan ketus yang justru membuat gelakan tawa Kenan terdengar mengeras.
"Kamu kenapa berantem sama Kak Nathan?" tanya Ana penasaran.
"Dia menyebalkan!" sahut Nadira diiringi hembusan napas kasar.
"Memangnya kenapa, sih?" tanya Cacha yang juga penasaran. Namun, di saat Nadira hendak menceritakan semuanya, dengan cepat Nathan menutup mulut istrinya karena tidak mau wanita itu membuka kartu merah yang bisa menurunkan harga dirinya.
"Beb, jangan turunkan harga diri suamimu di depan orang lain." Nathan berbisik tepat di telinga Nadira. "Cukup kamu turunkan celana suamimu di depanmu jangan di depan orang lain."
Sebuah pekikan terdengar dari mulut Nathan karena Nadira memukul paha lelaki itu dengan kencang. Bahkan, secara refleks Nathan menurunkan tangannya untuk mengusap pahanya yang terasa memanas.
"Kamu ini KDRT, Beb." Nathan masih sedikit merintih.
"Makanya kamu jangan menyebalkan, Mas. Ngapain bawa-bawa celana segala. Aku enggak mau lagi lihat boxer Hello Kitty mu itu!"
Mereka melongo mendengar ucapan Nadira sebelum akhirnya tergelak keras. Wajah Nathan pun memerah karena malu. Namun, karena sudah terlanjur basah maka dia akan mencebur sekalian, begitu pikirnya.
"Iya, Beb, besok aku enggak akan pakai boxer Hello Kitty warna pink lagi, tapi aku yg ganti warnanya hitam biar lebih terkesan macho dan perkasa! Jiwa laki, tapi hati Hello Kitty," seloroh Nathan begitu saja.
__ADS_1