
Nadira yang sudah selesai mencoba gaun, segera keluar menemui Rendra yang masih menunggunya. Hati Nadira kembali berdenyut sakit saat melihat Nathan yang sedang memberi perhatian kepada Jasmin. Bahkan, terlihat sekali Nathan begitu menyayangi gadis itu.
"Kamu sudah selesai, El?" tanya Rendra saat melihat Nadira sudah berada di dekatnya.
"Sudah, Mas. Ayo kita pulang," ajak Nadira. Rendra pun mengangguk mengiyakan.
"Setelah ini kamu mau ke mana, Nat?" tanya Rendra sebelum berpamitan dari sana.
"Aku akan mencari cincin pernikahan," sahut Nathan datar.
"Wah, jangan-jangan kamu akan memberi kejutan untuk seseorang," tebak Rendra. Nathan hanya menanggapi dengan senyuman.
Nadira menatap lekat kedua bola mata Nathan yang juga sedang menatapnya. Namun, Nadira langsung memalingkan wajahnya saat merasakan hatinya yang kembali berdenyut sakit.
Nadira pun langsung berpamitan pergi, disusul Rendra. Sementara Nathan hanya menatap kepergian istrinya. Setelah mereka tidak lagi terlihat, Nathan mengajak Jasmin untuk mencari cincin pernikahan. Tentu saja Jasmin menyambutnya dengan bahagia.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, Nadira hanya terdiam menatap ke luar jendela mobil. Wajahnya tampak begitu sayu. Dia sedang berusaha mengontrol perasaan yang terasa berkecamuk di dalam hatinya. Seolah ada sebilah belati yang menyayat hatinya hingga menorehkan luka yang teramat dalam.
Mungkinkah benar Kak Nathan akan menikahi Jasmin? Kenapa aku harus sesakit ini? Bukankah harusnya aku bahagia karena Kak Nathan akan melepaskanku? Sampai mati pun aku tidak mau jika harus dimadu.
Nadira mengusap airmata yang membasahi wajah cantiknya. Dia tidak tahu kalau Rendra sejak tadi diam-diam mengamati.
"El, kamu baik-baik saja?" tanya Rendra mengagetkan Nadira.
"Aku baik saja, Mas." Nadira menoleh ke arah Rendra dan tersenyum simpul. Menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
Nadira membisu. Dia menatap jalan di depannya. Bingung harus menjawab yang bagaimana. "Apa Kak Nathan mengatakan siapa suamiku?" tanya Nadira lirih.
"Berarti kamu memang sudah menikah?" Rendra memastikan apa yang dia tangkap dari ucapan Nadira tidaklah salah. Nadira mengangguk lemah.
Hati Rendra terasa patah. Dia menggigit bibir bawahnya saat merasakan ada luka yang mengalir seiring aliran darahnya. Menghujami jantungnya dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Apa aku boleh tahu siapa suamimu?" tanya Rendra penasaran.
"Dia masih rahasia, Mas. Bolehkah aku bercerita sedikit denganmu?" Suara Nadira terdengar begitu berat. Rendra mengiyakan, tapi sebelumnya dia menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran. Dia tahu pembicaraan kali ini akan serius. Jadi, Rendra tidak mau jika konsentrasi menyetirnya akan buyar dan itu akan membahayakan dirinya maupun Nadira.
Mereka masuk dan memilih duduk di meja paling ujung yang sepi pengunjung. Setelah makanan yang mereka pesan telah tersaji. Rendra mengajak Nadira untuk makan terlebih dahulu sebelum selera makan gadis itu hilang.
Hampir lima belas menit berlalu, Nadira akhirnya membalik sendok, menandakan dia telah selesai. Rendra pun melakukan hal yang sama. Sebelum menceritakan beban yang mengganjal di hatinya, Nadira menghela napas panjang dan menghembuskan dengan perlahan.
"Mas, bisakah kamu menjaga rahasia ini dari siapa pun?" tanya Nadira. Rendra mengangguk dengan cepat.
"Aku tidak akan menyebutkan nama suamiku. Biarlah dia akan menjadi rahasia yang selamanya tersimpan rapat. Karena pernikahan kita bukanlah sebuah pernikahan pada umumnya." Nadira terdiam saat merasakan ada rasa sakit yang terasa mencabik hatinya. Bahkan kedua matanya mulai terlihat basah.
"Apa kamu dijodohkan dan kalian berdua tidak saling mencintai?" tanya Rendra menyelidik. Nadira menggeleng lemah.
"Aku yang mencintainya, tapi tidak dengan dia. Dulu dia mencintaiku, tapi sekarang dia sangat membenciku. Dia terpaksa menerima pernikahan ini untuk memenuhi pesan daddy sebelum daddy dan mommy mengalami kecelakaan." Nadira tidak bisa lagi membendung airmatanya. Dia berusaha menyeka, tetapi airmata itu seolah mengajaknya bercanda dengan tidak mau berhenti mengalir.
__ADS_1
Rendra merasakan hatinya mencelos sakit saat melihat airmata gadis itu. Gadis yang mampu membuatnya terpikat meski sampai saat ini dirinya belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.