
"Kak, aku boleh gendong mereka enggak, sih?" pinta Nadira dengan menatap penuh memohon ke arah Alvino.
"Boleh, tapi hati-hati!" kata Alvino tegas. Nadira terlihat sangat bahagia. Dengan perlahan dia mengambil Baby Jun dan menggendongnya dengan hati-hati.
"Aku juga pengen, Nad." Cacha merengek, tapi Nadira memutar bola matanya malas.
"Tanganmu aja masih kaya gitu. Gendong besok aja kalau udah sembuh." Cacha pun hanya mendengkus kasar.
Melihat istrinya yang menggendong Baby Jun, membuat Nathan menjadi sangat tidak sabar ingin segera memiliki anak bersama Nadira.
Nathan berjalan mendekati Nadira, lalu memeluk dari belakang dan menaruh kepalanya di ceruk leher istrinya.
"Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera memiliki bayi selucu ini denganmu, Beb." Nathan bicara dengan sangat lembut.
"Sabar sih, Mas. Kalau sudah waktunya juga kita akan segera mendapatkannya," sahut Nadira tak kalah lembut.
"Sepertinya kita harus bekerja lebih keras lagi. Kalau biasanya sehari sekali, kita harus mencobanya tiga kali sehari," celetuk Nathan, dan hanya disambut ******* kasar dari Nadira.
"Heh! Kamu pikir lagi minum obat, Nat!" cebik Alvino.
"Diam kamu, Al! Bersiaplah berkencan dengan Tante Citra selama empat puluh hari penuh. Hahaha!"
"Oee oeee."
"Ish! Awas!" Nadira menyuruh Nathan melerai pelukannya karena Baby Jun menangis terkejut mendengar tawa Nathan yang menggelegar.
"Uncle mu menyebalkan ya, Jun," sindir Nadira. Dia menggoyangkan dengan gerakan yang sangat perlahan agar bayi itu terdiam.
"Awas saja kalau anakku kena sawan. Aku pecat kamu jadi adik ipar, Nat!" seru Alvino kesal.
"Jahat banget kamu, Al! Selalu dzolimi aku!" Nathan berpura-pura sedih. Mereka yang melihat hanya menatap malas ke arah Kaleng Rombeng itu.
Merasa nyaman dengan gendongan Nadira, Baby Jun akhirnya terlelap. Nadira menghembuskan napas lega. Kemudian, dengan perlahan dia menidurkan Baby Jun di dalam box. Baru saja Nadira selesai menidurkan Baby Jun, tiba-tiba Baby Jin menangis kencang.
"Dia iri kayaknya, minta digendong juga," kata Nadira, hendak menggendong Baby Jin, tetapi Ana langsung menahannya.
"Biar sama aku saja, Nad," kata Ana. Nadira pun mempersilakan.
__ADS_1
"Sini sama Onty ya, Sayang." Ana menggendong dengan hati-hati. Bibir wanita itu tersenyum simpul, tetapi dalam hati dia merasa begitu sedih.
Mengamati raut wajah istrinya, Kenan melangkah mendekat lalu merangkul pundak istrinya. Ana menoleh, menatap suaminya yang juga sedang menatapnya penuh cinta.
"Kita pasti akan segera mendapatkannya." Kenan berbicara dengan sangat tenang. Ana pun hanya mengangguk lemah, dan berharap semoga keinginannya segera terkabul.
"Kalian sudah siap untuk pulang?" tanya Queen dari arah pintu.
"Sudah, Kak. Ayo, Sayang." Alvino membantu Rania turun dari brankar, dan mendudukkannya di kursi roda. Sementara Baby JJ, digendong Ana dan Nadira. Setelah semua siap, mereka pun segera pulang ke Mansion Alexander.
***
Setelah selesai melakukan panggilan video dengan Cacha, bibir Mike tak berhenti tersenyum. Perasaan lelaki itu merasa sangat bahagia melihat Cacha yang tetap baik-baik saja.
"Bos!" Panggilan dari arah belakang, membuat Mike mengalihkan pandangan dan melihat dua anak buahnya berjalan mendekat.
"Kalian dari mana?" tanya Mike dengan sedikit ketus.
"Habis meninjau lokasi yang sudah Bos pesan," sahut salah satu di antara mereka.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Mike, memijat pangkal hidungnya.
"Masih lama, sih. Sekitar satu setengah bulan lagi, tepat ketika ulang tahunnya, dan aku mau semuanya sempurna." Mike tersenyum simpul membayangkan kejutan yang sudah dia persiapkan untuk pemilik hatinya.
"Semoga semuanya berjalan lancar, Bos," ucap mereka berdua bersamaan.
"Semoga saja. Bagaimana kabar Rendra?" tanya Mike menatap kedua anak buahnya bergantian.
"Tuan Rendra akan menikah dengan Nona Anisa minggu depan."
"Benarkah?" tanya Mike, lelaki itu bangkit berdiri karena belum sepenuhnya percaya.
"Iya, Bos. Karena video yang direkam Bos Zack, Tuan Bastian langsung memaksa Tuan Rendra untuk menikahi Nona Anisa," jelasnya.
"Rendra menyanggupi?" tanya Mike ingin tahu.
"Ya, Tuan Rendra sepertinya mulai ada perasaan dengan Nona Anisa." Anak buah Mike bicara dengan penuh ketegasan.
__ADS_1
"Syukurlah. Dengan begitu lelaki itu tidak akan mengganggu hubungan Tuan Nathan dan Nona Nadira. Kalau begitu kalian istirahatlah," suruh Mike.
Kedua anak buah itu pun berpamitan untuk kembali ke kamar mereka. Selepas kepergiaan anak buahnya, Mike merebahkan tubuhnya di sofa. Dirinya rasanya tidak sabar ingin segera pulang ke Jakarta, tetapi jika mengingat tujuannya ke Bali, membuat Mike harus bertahan selama sebulan lebih di sana dan memastikan semuanya akan berjalan dengan sempurna.
***
Saat ini Rendra dan keluarganya sudah berada di rumah sederhana milik Anisa untuk melamar gadis tersebut. Awalnya, Anisa dan ayahnya begitu terkejut, apalagi saat Anisa disuruh pulang dengan paksa.
"Kamu serius, Mas? Bukankah kamu sudah menolak perjodohan kita?" tanya Anisa masih tidak percaya.
"Aku berubah pikiran, Nis. Mungkin kita bisa menjalaninya," sahut Rendra menatap lekat wajah cantik Anisa.
Anisa menghela napas panjangnya, " Tuan Bastian, Nyonya Nirmala. Bolehkah saya berbicara berdua dengan Mas Rendra?" tanya Anisa meminta izin.
"Silakan, Nis." Nirmala menjawab lembut.
Anisa pun mengajak Rendra untuk duduk di depan rumah yang tersedia bangku panjang di sana. Gadis itu berharap orang tua mereka tidak akan mendengarkannya.
"Apa yang akan kamu bicarakan, Nis?" tanya Rendra saat mereka sudah duduk bersebelahan.
"Kamu serius akan melamarku, Mas? Kenapa kamu berubah pikiran secepat itu?" tanya Anisa curiga.
"Em, aku ingin belajar mencintaimu, Nis. Aku salah, sudah bertindak khilaf kepadamu," jawab Rendra dengan tenang.
"Kamu yakin hanya itu alasannya? Jangan-jangan Nona Cacha sudah menolak lamaranmu," tukas Anisa. Rendra membisu karena apa yang Anisa katakan memang benar.
"Ya, keluarga Cacha menolak lamaranku karena ada seseorang yang merekam adegan saat kita sedang berciuman di dalam mobil," kata Rendra dengan jujur. Anisa yang mendengarnya hanya tersenyum getir.
"Menurutmu, aku ini hanya bisa dijadikan tempat pelampiasan, Mas?" tanya Anisa berusaha mengatur emosi yang terasa membuncah.
"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan padamu, Nis." Rendra begitu memohon, tapi Anisa justru tersenyum miring.
"Tidak ada yang perlu kamu pertanggung jawabkan, Mas. Aku tidak akan hamil hanya karena berciuman. Anggap saja kemarin kita sama-sama khilaf. Pulanglah, Mas. Aku tidak menerima lamaranmu." Anisa hendak pergi dari sana, tapi Rendra langsung menahannya.
"Aku mohon, Nis. Terima aku." Rendra begitu memohon. Melihat Rendra yang seperti itu, membuat Anisa menjadi tidak tega.
"Baiklah, tapi aku tidak janji bisa menjadi istri yang baik untukmu, Mas. Karena aku bukan sebuah permainan ataupun tempat pelampiasanmu saja."
__ADS_1
Ada yang kangen dan selalu menanti cerita Othor Kalem enggak nih?