
Alvino mendesah kasar. "Aku cuma penasaran aja, kenapa kamu begitu membanggakan gaya itu. Memang seenak apa? Aku juga yakin kalau para readers juga penasaran gaya buatan Othor kalem," ucap Alvino.
"Baiklah, aku kasih tahu daripada kalian mati penasaran." Nathan berbicara dengan yakin. "Jadi, anjing kawin itu sejenis DS."
"Astaga, DS apalagi?" Kali ini Rania yang bertanya bingung.
"Dogg* sty*e." Nathan menjawab santai. Dengan gemas, Nadira memukul lengan suaminya.
"Ada anak kecil di sini!" protes Nadira.
"Jin dan Jun mana mudeng, Beb. Biar enggak pada penasaran aja kalau kisah ini udah tamat," sahut Nathan santai. Nadira tidak lagi menjawab.
"Bilang aja nungging kenapa susah sekali pakai gaya anjing kawin segala." Alvino menimpali dengan ketus.
"Suka-suka aku dong, Kakak Ipar. Biar lebih keren aja. Kalian tahu, gaya ini berkemungkinan besar membuat cepat hamil karena kecebong kita diterbangkan sedalam-dalamnya," seloroh Nathan. Alvino bangkit berdiri dan menonyor kepala Nathan saking kesalnya.
"Kalau ngomong suka ngawur kamu!"
"Yaelah. Enggak percaya kamu, Al. Selain itu buat dapetin gender cewek cowok juga ada tips nya loh." Bibir Nathan menyeringai.
"Jangan mengada-ada!" Kali ini, Kenan yang protes tidak terima.
"Beneran, ya walaupun belum terbukti secara ampuh." Nathan tergelak sendiri.
"Memang tips nya apaan?" Alvino meskipun kesal, tetapi tetap saja penasaran.
"Jadi, kalau pengen anak perempuan kamu pas ajeb-ajeb miring aja ke kanan, kalau mau anak laki-laki miring ke kanan."
"Kak Nathan! Jangan berbicara sembarangan!" seru Nadira yang semakin kesal dengan perkataan suaminya yang terkesan ngawur.
"Aku enggak bicara sembarangan, Beb. Kita buktikan aja, kalau Baby B pasti laki-laki karena kita kan lebih suka miring kiri." Nathan berbicara dengan sangat yakin, sedangkan yang lain memutar bola mata malas kecuali Ana yang terlihat begitu antusias dan ingin segera mencoba berbagai gaya ala kaleng rombeng itu.
***
__ADS_1
Cacha sudah merasakan lelahnya sedikit hilang setelah tidur hampir tiga jam, tetapi otot di tubuhnya terasa begitu kaku. Mike yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum lebar saat melihat kedua mata Cacha yang sudah terbuka.
"Kamu sudah mandi, Mas?" tanya Cacha. Menghentikan langkah Mike begitu saja. Lelaki itu terkejut saat Cacha tidak lagi memanggil namanya saja.
"Sudah. Kamu sudah bangun?" Mike balik bertanya. Dia kembali berjalan mendekati Cacha dan mencium kening wanita itu.
"Sudah, kenapa kamu tidak membangunkanku?" Cacha merajuk, membuat Mike menjadi gemas dan kembali mendaratkan ciuman di wajah istrinya.
"Aku tidak mau mengganggu tidurmu." Mike beranjak bangun dan membuka lemari pakaian untuk mencari baju ganti. Cacha pun turun dari kasur dengan cepat dan berdiri di depan Mike yang sedang mencari baju. Mike begitu terkejut dengan istrinya.
"Jangan menggodaku, Neng." Mike mengurungkan niatnya mencari baju ganti dan justru mengunci tubuh Cacha dengan berpegangan pada lemari.
"Aku tidak menggodamu, Mas. Biar aku saja yang carikan baju ganti untukmu. Itu kan kewajibanku, dan aku ingin menjadi istri yang baik untukmu." Cacha berbalik dan mencarikan pakaian ganti untuk Mike.
"Kamu benar-benar membuatku merasa sangat bahagia, Neng. Apalagi dengan mendengar panggilan kesayangan darimu." Mike melingkarkan tangan di perut Cacha dan menaruh kepala di ceruk leher wanita itu.
"Maaf, aku selama ini enggak pernah sopan padamu, Mike." Cacha berbicara lirih.
Cacha menoleh, menatap suaminya yang juga sedang menatapnya penuh cinta. Berada dalam jarak yang sangat dekat, membuat Mike tak kuasa untuk tidak meraup bibir istrinya. Mereka pun saling berciuman. Cacha mengurungkan niatnya mengambil pakaian untuk Mike, dan justru berbalik, beralih melingkarkan tangan di leher lelaki itu.
Mike memegang pinggang Cacha dan saling berbagi saliva dengan istrinya. Semakin lama, ciuman itu semakin menuntut dan membuat tubuh Mike maupun Cacha sama-sama saling memanas. Mike menurunkan ciuman itu ke leher jenjang istrinya, dan Cacha tak kuasa untuk menahan desa*an yang memaksa keluar dari mulutnya.
Mendengar suara sexy sang istri, semakin membuat hasrat Mike naik ke ubun-ubun. Ciumannya semakin menurun ke dada Cacha yang kancing piyamanya kini telah terbuka lebar. Lidah Mike menyesap cocho chip itu secara bergantian. Cacha pun meremas rambut Mike saat merasakan seluruh tubuhnya meremang.
"Kamu mau berolahraga?" tanya Mike dengan napas memburu. Adik kecilnya sudah berdiri menantang langit. Cacha tidak menjawab, tetapi pipinya yang merah merona cukup menjadi jawaban kalau wanita itu menginginkan lebih dari ini sekarang.
Mike pun mengajak Cacha kembali ke ranjang, dan langsung menindihnya. Tanpa menunggu lama, Cacha kembali melingkarkan tangan di leher suaminya dan mencium bibir lelaki itu. Mike mengimbangi istrinya.
Namun, di saat suasana dan tubuh mereka sudah sangat memanas, terdengar suara diketuk dari luar. Mike dan Cacha menghentikan gerakan mereka sesaat.
"Cha! Kamu belum bangun? Ini hampir masuk makan siang loh! Cha!" Terdengar suara Mila yang berteriak.
Cacha menaruh telunjuk di bibir, menyuruh Mike supaya tidak menjawab. Lelaki itu pun menurut saja, dan mereka masih berada dalam posisi saling bertindihan.
__ADS_1
"Cha! Astaga!"
Setelah menunggu beberapa lama, suara Mila tidak lagi terdengar bahkan suara ketukan pun sudah berhenti. Cacha yakin kalau sang bunda saat ini sudah pergi.
"Kamu ini ada-ada saja, Neng. Kasihan bunda." Mike merasa tidak tega.
"Biarin aja, Mas. Emang kamu juga enggak kasihan sama adik kecil kamu yang sudah meronta-ronta?" tanya Cacha menggoda.
"Bahasamu absurd sekali, Neng." Mike mencium pipi Cacha dengan gemas. Lelaki itu kembali menjamah tubuh istrinya. Melakukan sentuhan demi sentuhan yang membuat Cacha benar-benar tak kuasa menahan desah*n.
Tanpa sadar, piyama yang dikenakan Cacha sudah terlepas dan tidak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh wanita itu. Cacha tidur telentang, sedangkan Mike menindih di atas juga dengan tubuh telanjang karena handuk yang dikenakan sudah terlepas.
Desah*n Cacha semakin sering terdengar saat Mike menjelajah dadanya bahkan menciptakan sebuah tanda kepemilikan di sana. Mike pun memasang kuda-kuda hendak menerobos gua milik Cacha. Namun, suara ponsel yang berdering menghentikan gerakan mereka. Awalnya Cacha hanya membiarkan, tetapi ponsel itu terus saja berdering membuat Cacha mendesah kasar.
"Bisakah kamu tidak menganggu orang pagi-pagi!" seru Cacha tanpa melihat siapa yang sedang menghubungi.
"Kenapa kamu sewot gitu, Cha?" Suara Mila dari seberang membuat Cacha terdiam seketika. "Barusan bunda panggil kamu tidak menyahut. Jangan-jangan kamu sedang anu-anuan ya?" tukas Mila.
"Ish! Bunda apaan sih!" Cacha merasa begitu malu.
"Bener 'kan? Ya udah sana kamu lanjutin gih. Bunda juga mau ah mumpung ayah di rumah."
Panggilan itu terputus begitu saja. Cacha menggeleng tidak percaya lalu menaruh kembali ponselnya dan meneruskan aktivitasnya bersama Mike.
๐ฆ๐ฆ๐ฆ
Pagi-pagi Othor udah gabut banget ini
Thor, itu beneran kah tipsnya? Entah juga ๐ othor suka miring kiri๐ ๐ pas tidur
Aishhh, hilal tamat udah kelihatan kah? Padahal Othor mau sampai 300 bab, kalian bosen enggak? Wkwkkw
Selamat pagi, selamat beraktivitas gaess
__ADS_1