
Jakarta, Kediaman Saputra.
Mila yang sedang tidur siang tiba-tiba terbangun saat dirinya bermimpi buruk tentang Cacha. Keringat dingin terlihat membanjiri dahi wanita itu, dan tidak sedikit pun Mila berniat untuk menyeka. Tangannya meremas kuat dada saat merasakan sebuah perasaan aneh yang membuatnya tidak nyaman kembali menghampiri.
Dengan tergesa dia segera turun dari kasur dan mengambil ponsel yang sedang diisi daya. Telapak tangannya terlihat gemetar bahkan beberapa kali salah menekan keypad. Panggilan itu terhubung, tetapi tidak ada satu pun yang diangkat. Lima kali mencoba, dan hasilnya tetap sama. Perasaan Mila pun semakin tidak nyaman.
Dia beralih mencari nomor Mike dan berusaha menghubungi, tetapi nomor itu justru tidak aktif sama sekali. Di saat Mila sedang merem*s ponsel dengan kuat, Johan masuk ke kamar dan menatap heran ke arah istrinya.
"Kamu kenapa Mil?" tanya Johan dengan kening mengerut yang membuat alisnya mengetat.
"Mas, aku mimpi buruk tentang Cacha. Perasaanku pun enggak enak dari kemarin. Aku takut terjadi apa-apa dengan putri kita," sahut Mila. Raut kekhawatiran terlihat jelas memenuhi wajah wanita itu.
"Mimpi hanya bunga tidur, Mil. Apalagi kamu tidur jam segini. Pasti setan menganggu kamu." Johan berusaha menenangkan istrinya.
"Tapi, Mas, aku bener-bener khawatir sama Cacha, apalagi sekarang nomor mereka tidak bisa dihubungi sama sekali," ucap Mila.
Johan menarik tubuh Mila masuk dalam dekapannya untuk menenangkan wanita itu. Tangannya mengusap punggung Mila dengan perlahan, sedangkan Mila tanpa sadar meneteskan air mata.
"Biar nanti aku hubungi anak buahku. Sekarang lebih baik kita makan dulu. Bukankah kamu belum makan dari siang?" tanya Johan lembut.
"Aku tidak nafsu makan, Mas." Mila menolak dengan lemah.
"Kamu yakin tidak akan makan? Sebentar lagi putra-putri kita akan ke sini," ucap Johan. Mila melerai pelukan itu lalu menatap suaminya dengan lekat.
"Siapa yang akan ke sini?" tanya Mila antusias.
"Queen, Nadira dan tentu saja kedua putra kita." Johan tersenyum lebar saat melihat wajah Mila yang sudah kembali sumringah.
"Kalau begitu aku makan nanti saja sama mereka. Aku mau mandi dulu biar tetap terlihat cantik." Mila bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
"Bunda, putramu yang paling tampan sudah datang!" teriak Nathan memenuhi ruang tamu di rumah Johan. Rayhan yang berdiri di samping lelaki itu menggeram sembari menutup telinga yang berdenging.
"Bisakah kamu memelankan suaramu?" cebik Rayhan dengan tangan menonyor kepala Nathan.
__ADS_1
"Ini udah pelan, Kak. Enggak usah protes!" Nathan bersidekap dan berjalan gagah menuju ke ruang keluarga. Nadira yang ditinggal pun merasa sangat kesal.
"Hay! Kaleng Rombeng! Istrimu diculik!" teriak Rayhan menjahili Nathan. Benar saja, lelaki itu berbalik dan melihat Nadira yang sedang bersungut-sungut.
Dengan langkah lebar, Nathan berjalan mendekati istrinya dan mencium kedua pipi wanita itu untuk meredam emosinya. Namun, dengan cukup kencang Nadira menjauhkan wajah Nathan bahkan sampai lelaki itu hampir jatuh tersungkur.
"Aku enggak mau sama kamu!" Nadira berjalan dengan kaki menghentak menuju sofa, lalu menghempaskan tubuhnya di sana. Nathan pun kembali mendekat, sedangkan Rayhan dan Queen yang melihat itu haya terkekeh geli.
"Beb, maafin aku, ya." Nathan merayu, tetapi Nadira justru melipat tangan di depan dada. "Hai, Sayang. Bilang sama mami jangan marah-marah terus," bisik Nathan di perut Nadira, bahkan lelaki itu dengan lembut mengusapnya.
"Aku marah sama kamu!" Bibir Nadira semakin terlihat mengerucut.
"Jangan marah dong, Beb. Aku beliin ice cream mau?" tawar Nathan.
"Enggak!"
"Kalau pizza?"
"Enggak!"
"Enggak mau!"
"Terus maunya apa?" tanya Nathan frustasi. Dia mengacak rambut dengan sangat kasar. Namun, sesaat kemudian, lelaki itu tersenyum semringah karena mendapat ide. "Kalau tempe bacem mau enggak?"
Nadira mengangguk dengan cepat. "Aku mau lima, digoreng setengah matang jangan sampai gosong, yang masih warna coklat sawo matang aja." Nadira memeluk Nathan dengan erat. Rayhan dan Queen pun tak kuasa menahan tawa, sedangkan Nathan berkali-kali mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya.
"Dasar bayi tempe!" cebik Nathan diiringi gelakan tawa. Nadira hendak merajuk lagi, tetapi Nathan segera merayu, bahkan lelaki itu bergegas ke dapur untuk mencari tempe bacem.
"Kalian sudah datang?" sapa Mila dan Johan yang baru saja turun.
"Sudah, Bun. Kenapa Bunda makin cantik aja." Rayhan mencium pipi Mila bergantian dengan dua ibu hamil, lalu tak lupa mencium punggung tangan Johan.
"Pasti dong. Skincare bunda kan mahal," ucap Mila bangga.
"Iya, sayang udah tua." Rayhan tergelak, tetapi kemudian dia menunjukkan dua jari tanda damai.
__ADS_1
"Rayhan Adijaya Saputra!" pekik Mila dengan sorot mata tajam sambil berkacak pinggang.
"Bunda," teriak Nathan dari pintu dapur. Amarah Mila lenyap seketika, dia berbalik dan menyambut putra kesayangannya.
"Kamu dari mana, Nat?" tanya Mila.
"Nyari tempe, Bun." Mereka semua duduk di sofa.
"Tumben sekali nyari tempe, bukannya setiap hari kamu makan tempe mlenuk?" goda Mila. Mereka semua hanya mendesah kasar dan bersiap menulikan telinga mendengar dua manusia satu spesies itu.
"Enggak tiap hari, Bun. Seminggu sekali aja masih untung. Bener kata Bunda, aku harus perbanyak stok sabun di rumah," seloroh Nathan. Dia dan Mila tergelak sendiri.
"Tumben Baby Jin enggak ikut kamu, Nat?" tanya Johan. Biasanya, di saat sedang senggang, putranya itu tidak pernah ketinggalan membawa serta Baby Jin bersamanya.
"Lagi diajak daddy nya ke Semarang buat jalan-jalan, Yah."
PRANG!
Suara benda jatuh dari arah belakang berhasil mengejutkan mereka. Setelah tersadar dari keterkejutannya, mereka bergegas mendekati asal suara itu. Tubuh Mila menegang saat melihat foto Cacha sudah berada di lantai dengan kaca pecah berserakan.
"Mas," panggil Mila lirih. Johan merangkul pundak Mila, sedangkan dua orang pelayan segera membersihkan serpihan kaca itu.
"Pakunya lepas, Tuan," adu salah satu pelayan itu.
"Bersihkan sampai benar-benar bersih." Johan mengajak Mila dan putra-putrinya kembali ke sofa.
"Ada apa sih, Yah?" tanya Nadira. Perasaannya mendadak tidak enak apalagi saat melihat raut wajah Mila yang terlihat begitu cemas.
"Tidak ada apa-apa. Bunda hanya terlalu khawatir sama Cacha karena baru kali ini keluar negeri tanpa dirinya," ucap Johan menenangkan. Namun, di balik sikap tenangnya, lelaki itu sedang sangat gelisah saat ini.
Nathan yang sedari tadi diam, akhirnya mengambil ponsel dan menghubungi nomor adiknya, tetapi tidak ada satu pun panggilannya yang terangkat. Kemudian, dia beralih menghubungi Mike, tetapi sama saja.
"Tidak ada yang mengangkat panggilanku." Nathan kembali memasukkan ponselnya.
"Mungkin mereka masih di kantor. Biar ayah hubungi anak buah ayah dulu." Johan mengambil ponsel dan menghubungi salah seorang anak buahnya.
__ADS_1