Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
250


__ADS_3

Mila dan Johan yang sedang tertidur lelap, merasa begitu terganggu dengan suara gedoran pintu. Namun, saat mendengar suara Rayhan yang begitu terburu membuat mereka beranjak bangun dengan cepat. Mila bahkan memakai baju tidurnya secara asal karena mereka belum lama usai melakukan olahraga malam.


"Bun, Queen mau melahirkan," ucap Rayhan saat pintu kamar itu baru saja dibuka.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang!" Mila menggandeng tangan Rayhan hendak mengajak putranya pergi, tetapi suara Johan yang menggelegar mampu membuat langkah wanita itu terhenti.


"Ada apa, Mas? Putri kita akan segera melahirkan!" kata Mila dengan begitu ketus.


"Aku tahu, tapi bisakah kamu mengganti pakaianmu terlebih dahulu?" ucap Johan tak kalah ketus. Mila menatap dirinya yang tampak sedikit awut-awutan apalagi dengan baju tidur bercelana pendek.


"Astaga! Aku lupa!" Mila menepuk keningnya sendiri.


"Nanti bunda sama ayah nyusul. Kamu berangkat dulu saja sama Nathan." Mila mendorong tubuh Rayhan agar segera pergi. Setelahnya, dia masuk kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Johan pun ikut bersiap-siap.


***


Queen menggigit bibir bawahnya saat merasakan sakit yang teramat hebat. Dia sengaja meredam rintihannya karena tidak mau merusak citra sebagai dokter kandungan. Rayhan yang sedari tadi berada di sampingnya pun merasa sangat gugup. Sejak tadi Rayhan mengusap puncak kepala Queen dan terus saja memberi semangat.

__ADS_1


"Ngel, sepertinya dia mau keluar, rasanya sudah di ujung." Queen berkali-kali mengembuskan napas panjang.


"Baiklah. Jangan lupa praktekan apa yang selama ini kamu katakan kepada para pasienmu." Angel sedikit berseloroh agar Queen tidak merasa begitu tegang. Queen pun mulai mengejan untuk mengeluarkan bayi itu.


"Ayo, Queen. Satu kali lagi dia keluar!" Angel setengah berteriak. Queen pun mengerahkan segala tenaga yang dia punya dan benar saja, selang beberapa detik terdengar tangisan bayi di ruangan itu.


Queen tak kuasa menahan air mata saat melihat bayinya yang berjenis kelamin perempuan. Rayhan pun sama. Banyak ciuman mendarat di puncak kepala Queen. Mereka merasa begitu bahagia saat ini.


"Sayang, kamu luar biasa. Aku mencintaimu." Rayhan mencium bibir Queen dengan sangat lembut, bahkan tidak peduli pada keberadaan Dokter Angel dan perawat di ruangan itu.


"Aku juga mencintaimu, Hubby," balas Queen saat ciuman itu sudah terlepas.


Shania pun meminta mereka tinggal di rumah Marvel. Awalnya Queen ragu, tetapi Rayhan menyanggupi karena dia tahu mertuanya itu sangat ingin dekat dengan putri semata wayangnya juga cucu pertama mereka. Apalagi, Mila sedang sibuk membantu Nadira mengurus Baby B.


"Siapa nama putrimu, Ray?" tanya Johan. Dia menatap cucu keduanya itu dengan penuh haru.


"Cheryl Anastasia Adijaya."

__ADS_1


"Wah, nama yang cantik. Ngomong-ngomong soal Adijaya, aku jadi merindukan Ayah Kevinmu, Ray."


"Ehem!" Johan berdeham dengan keras sehingga mengalihkan perhatian mereka semua.


"Lama sekali kita tidak berjumpa dengan dia loh, Mas." Seolah tidak takut, Mila justru semakin gencar memanasi hati suaminya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Kevin masuk bersama Rayfan. Lelaki itu masih saja terlihat menawan meski sudah tidak muda lagi, dan Mila masih saja terpesona.


"Di mana istri dan putri Anda, Tuan?" tanya Mila karena hanya melihat dua lelaki itu saja.


"Masih di Paris, dua hari lagi akan menyusul ke sini." Kevin tersenyum membuat Mila semakin terpukau. Sementara Johan yang melihat itu sungguh merasa begitu kesal.


"Rayfan kapan kamu akan menikah?" Kali ini Mila beralih menatap kembaran Rayhan yang begitu tampan, tetapi sampai saat ini belum juga menikah.


"Tunggu ada jodoh yang tepat, Bun." Rayfan sedikit terkekeh sendiri.


"Semoga lekas mendapat jodoh yang tepat," ucap Shania. Mereka hanya mengamini, sedangkan Rayfan hanya diam saja karena lelaki itu memang belum berpikiran untuk menikah padahal usianya sudah kepala tiga.

__ADS_1


Akhirnya, mereka pun saling mengobrol bersama, Mila sedari tadi merangkul lengan suaminya yang terus saja diam karena menahan rasa kesal dan cemburu. Namun, dalam hati Mila justru tertawa puas saat melihat kecemburuan suaminya.


__ADS_2