
Mobil Nathan baru saja terparkir di halaman rumah, tapi mereka sudah langsung disambut Johan dan Mila yang berdiri menanti di teras. Cacha tampak begitu gugup, takut kalau orang tuanya tahu penyebab kaburnya Nadira adalah karena ucapannya yang sangat menyakitkan.
"Tenanglah, Cha. Biar aku bilang sama ayah dan bunda kalau bukan kamu penyebab aku kabur." Nadira berusaha menenangkan Cacha yang sedari tadi gelisah.
"Tapi, Nad—"
"Sudah, kamu cukup diam aja. Aku yakin mereka enggak akan marah." Nadira menepuk bahu sahabatnya itu.
"Ayo, Beb. Aku bantu kamu bersandiwara." Nathan mengusap puncak kepala Nadira dengan penuh kasih sayang.
"Jangan bucin depan aku! Bikin iri! Ingat, aku ini habis patah hati!" protes Cacha. Namun, Nathan justru semakin menggoda dengan mendaratkan ciuman di pipi Nadira dengan lembut.
"Makanya, cari laki yang bener. Eh, Cha ... kamu dijodohin ayah sama siapa sih?" tanya Nathan penasaran.
Wajah Cacha mendadak muram, bahkan senyumnya memudar begitu saja. Bayangan Mike tiba-tiba menghampiri dan semakin memupuk rasa rindunya kepada lelaki itu.
"Yaelah, Anak Kambing ditanya malah diem." Suara Nathan berhasil menyadarkan Cacha dari lamunannya.
"Kalau aku anak kambing, berarti kakak juga dong. Kan kita keluar dari lubang yang sama," timpal Cacha sedikit sewot.
"Kakak lupa." Nathan tergelak keras, tapi tawanya langsung mereda saat melihat Johan dan Mila berjalan mendekat ke mobil dengan tergesa. Nathan pun membuka pintu mobil dan berdiri di sampingnya.
"Nadira sudah ketemu?" tanya Johan tak sabar.
"Sudah, Yah. Di dalam sama Cacha." Tepat ketika Nathan menjawab, Nadira membuka pintu mobil, dia keluar dari sana dan langsung disambut pelukan oleh Mila. Cacha yang baru saja keluar pun hanya melihat dan hampir saja kembali iri kalau saja Nadira tidak menariknya ikut masuk dalam pelukan mereka.
"Kamu dari mana, Nad?" tanya Mila saat pelukan itu sudah terlepas.
"Habis dari makam daddy dan mommy, Bun. Nadira kangen mereka," sahut Nadira dengan tenang. Mila mengamati wajah Nadira dengan lekat.
"Kenapa kamu tidak bilang suamimu? Tadi waktu Nathan telepon, bunda pikir kamu kabur," papar Mila. Bibir Nadira tersenyum lebar.
"Nunggu Kak Nathan kelamaan. Nadira suruh beli rujak, hampir satu jam enggak pulang-pulang." Nadira merengek kesal. Sementara Nathan merasa sedikit marah karena dijadikan kambing hitam.
"Kamu pengen rujak?" tanya Mila memastikan. Nadira mengangguk cepat. "Mas! Akhirnya kita akan punya cucu." Wajah Mila terlihat begitu semringah, berbeda dengan mereka yang memutar bola mata dengan malas.
"Bun, mana ada si Nadira hamil. Mereka bulan madu aja baru seminggu. Itu aja Nadira baru selesai haid." Kali ini, Cacha yang menimpali dengan sedikit ketus.
"Siapa tahu kecebong kakakmu ini paling super, jadi cepat sampainya," seloroh Mila, dan disambut Nathan yang mengangguk setuju.
__ADS_1
"Mana ada!" sewot Cacha.
"Sudahlah, lebih baik kita masuk saja." Johan mengajak mereka agar tidak ada perdebatan yang terus berlanjut.
Sesampainya di ruang keluarga, mereka duduk bersama di sofa. Nadira duduk bersandar karena merasakan kepalanya terasa berdenyut sakit. Nathan yang melihatnya, beralih merebahkan Nadira dalam pangkuannya, dan mengusap kening Nadira dengan lembut.
"Pusing lagi?" tanya Nathan. Nadira mengangguk perlahan.
"Tidurlah di kamar, Nad," suruh Johan, tapi Nadira menolaknya.
"Nadira masih mau di sini dulu. Kumpul sama kalian." Nadira memejamkan mata saat merasakan usapan Nathan begitu lembut dan sedikit mengurangi rasa sakitnya.
"Iya sana, Nad. Kalian berdua di sini cuman bikin iri kaum jomlo aja," cebik Cacha. Dia duduk bersandar di bahu sang bunda.
"Yah, Nathan tuh penasaran banget, siapa sih yang Ayah jodohin sama Cacha, kok tuh anak sampai nolak?" tanya Nathan berusaha mencari tahu.
"Jangan dibahas sih, Kak. Kalau aku nangis lagi, palingan juga Kak Nathan mau ngeledek 'kan?" tukas Cacha. Bibir gadis itu terlihat mengerucut.
"Aku beliin permen kapas, Cha!" celetuk Nathan diiringi kekehan.
"Murah bener cuman permen kapas, malu-maluin jabatan Kak Nathan yang katanya seorang CEO," ledek Cacha dengan menjulurkan lidahnya.
"Cih!" Cacha berdecih kesal.
"Sudahlah, ayah pusing mendengar kalian berdebat terus." Johan memijat pangkal hidungnya, sedangkan mereka langsung terdiam.
"Yah, Cacha mau tanya boleh? Tapi jangan diketawain," tanya Cacha ragu. Johan menghentikan pijatannya lalu menatap putrinya dengan sangat dalam.
"Apa yang mau kamu tanyakan, Cha?" tanya Johan penuh selidik.
"Em ... itu ...."
"Kelamaan kamu, Cha!" sela Nathan yang sudah begitu gemas.
"Ish! Jangan rusuh deh, Kak!" Cacha mendelik ke arah Nathan sesaat. "Yah, memang sekarang Mike sedang di Bali?" tanya Cacha dengah lirih.
"Ya, kemarin malam dia baru berangkat. Kenapa kamu menanyakan Mike?" Johan menatap Cacha dengan lekat.
"E-enggak papa, Yah. Tanya aja," elak Cacha. Raut wajahnya tampak begitu gugup.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Tatapan Johan begitu menuntut jawaban.
"Tunggu dulu, kok aku curiga ya." Nathan menatap Johan dan Cacha bergantian, sedangkan Mila dan Nadira hanya diam mendengarkan. "Jangan-jangan orang yang dijodohin sama kamu itu, Mike ya!"
Cacha hanya bungkam. Dia bingung harus menjawab yang bagaimana. Melihat kebingungan di wajah sang adik, membuat Nathan yakin kalau tebakannya benar.
"Aku mau kembali ke kamar aja." Cacha bangkit berdiri dan berpamitan pergi tanpa peduli pada Nathan yang memanggil-manggil.
"Yah, bener ya kalau Ayah jodohin Cacha sama Mike?" tanya Nathan ingin tahu. Johan mengangguk cepat sebagai jawaban. "Kayaknya Cacha nyesel udah sia-siain orang sebaik Mike."
"Biar saja dia merasakan menyesal dulu. Ayah yakin kalau kelak Cacha akan menemukan lelaki yang bertanggung jawab." Johan bicara dengan yakin.
"Semoga saja, Yah." Nathan menatap wajah Nadira yang terlihat begitu damai dalam tidurnya. Dia pun mendengar dengkuran halus dari istrinya itu.
"Si Dedek minta dikelonin kayaknya." Nathan berseloroh. Dengan perlahan Nathan menurunkan kepala Nadira, tapi wanita itu justru terbangun.
"Eh, aku ketiduran." Nadira bangkit duduk untuk mengumpulkan kembali nyawanya yang hampir berpencar.
"Kita ke kamar, Beb. Aku gendong kamu," ajak Nathan.
"Aku jalan aja. Ayah, Bunda ... Nadira mau ke kamar dulu ya," pamit Nadira. Dia berjalan menuju ke kamar meninggalkan Nathan begitu saja. Nathan pun berpamitan hendak menyusul, tapi Mila menahan langkah putranya.
"Apa, Bun?" tanya Nathan heran.
"Sini, ada yang mau bunda bisikin ke kamu." Nathan pun dengan malas mendekati Mila, sedangkan Johan hanya menatap curiga ke arah mereka.
Ketika Mila sedang berbisik di telinga Nathan, lelaki itu hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
"Siap, Bun!" Nathan hormat seperti saat upacara bendera, membuat Mila tergelak keras.
"Apa yang dikatakan bundamu, Nat?" tanya Johan penuh selidik.
"Yah, kata bunda habis ini bunda mau minta jatah, tapi bunda yang di bawah. Katanya dia bosen di atas terus dan pengen sekali-kali pasrah di bawah. Nathan balik kamar dulu."
"Nathan! Dasar anak kurang ajar!" teriak Mila saat melihat Nathan yang berlari kencang meninggalkan ruang keluarga. Padahal, bukan itu yang dia bisikan kepada putranya.
"Mil!" panggil Johan.
"Apa, Suamiku? Ayo kita praktek aja." Mila menggandeng tangan Johan sebelum lelaki itu marah, dan Johan hanya bisa menurut karena malas untuk mendebat.
__ADS_1