Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
299


__ADS_3

Mansion Alexander tampak begitu ramai karena Baby Michel sudah pulang dari rumah sakit. Mansion itu tampak semakin ramai karena dipenuhi celotehan juga pertengkaran anak-anak. Apalagi Jinny dan Bobby, serta Patricia dan Kenzo yang lebih sering terdengar teriakan dari mereka, entah karena berebut sesuatu atau saling meledek.


"Patricia! Kenzo!" bentak Mila saking kesalnya karena dua bocah itu sedari tadi terus saja berteriak.


"Kenzo dulu, Oma."


"Patrick, Oma."


"Ken! Sekali lagi kamu memanggilku Patrick maka aku akanโ€”"


"Akan menembakku? Aku tidak takut karena saat ini kamu sedang tidak memegang senjata," sela Kenzo, bibirnya tersenyum meledek.


"Sudah!" Lengkingan suara Mila membuat mereka semua terdiam. "Oma bisa cepat tua kalau melihat kalian selalu bertengkar seperti ini."


"Bukankah Oma memang sudah tua?" sarkas Junno, membuat mereka yang mendengar menjadi tergelak.


"Jun, kenapa jujur sekali?" Mila mencebik kesal.


"Mommy tidak pernah mengajariku berbohong." Junno masih terlihat santai dengan game di depannya.


Mila menghela napas panjangnya, "Astaga. Ternyata memiliki cucu kecil sebanyak ini cukup menguras kesabaran."


"Nikmatilah waktumu, Mil," ucap Johan. Mila tidak menjawab, hanya memeluk lelaki itu dengan erat, tak lupa mendaratkan ciuman di pipi, sedangkan Johan membalas dengan mencium kening Mila.


"Ciee, yang udah tua, tapi masih mesra." Bobby meledek.


"Iri? Bilang, Bos! Papale-papale." Jinny menimpali seraya berjoget ala tiktok, sedangkan Bobby langsung melipat tangan di dada dan menghempaskan tubuhnya secara kasar di sofa.


"Aku harus sangat bersabar." Mila kembali menghembuskan napas kasar, sedangkan Johan hanya terkekeh melihat wajah pasrah istrinya.


***


"Ra, kamu sudah telat?" tanya Nadira. Mereka sedang duduk berdua di dekat kolam.


"Seharusnya, sih, dua hari lalu aku udah datang bulan, tapi sampai sekarang belum." Ara menjawab.


"Coba kamu tes saja. Siapa tahu kamu memang sedang hamil," suruh Nadira, tetapi Ara justru menggeleng lemah. "Kenapa?"


"Nunggu seminggu aja, Kak. Aku takut telat cuma karena kecapean aja." Wajah Ara tampak lesu. Nadira pun menghela napas panjang. Entah mengapa, dia merasa kalau adik iparnya itu sedang mengandung saat ini. Hampir lima hari berada di mansion Alexander, Febian sering mengeluh padanya kalau Ara sekarang terlihat berbeda.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana, Ra?" tanya Nadira saat wanita itu hendak melangkah pergi.


"Aku mau nyari Mas Bi." Mendengar jawaban Ara, Nadira pun hanya mengiyakan saja.


Langkah Ara menyusuri hampir di setiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan suaminya. Langkahnya semakin lebar saat melihat Febian sedang berbincang bersama Queen di ruang keluarga. Melihat kedatangan istrinya, Febian pun langsung menyambut.


"Kamu dari mana?" tanya Febian lembut. Dia menyuruh Ara untuk duduk di sampingnya.


"Habis dari belakang sama Kak Nadira." Ara tampak begitu lesu.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Queen heran.


"Entahlah, Kak. Aku merasa sangat lesu dan malas melakukan apa pun." Ara menghirup napas dalam-dalam.


"Ra, kamu sudah telat berapa hari?" tanya Queen.


"Dua hari, Kak."


"Kalau begitu, kita tunggu lima hari lagi setelah itu kita test." Mereka hanya mengiyakan. Febian mengusap puncak kepala istrinya dan dia sangat berharap semoga istrinya benar-benar hamil.


***


Wanita itu berlari menuju ke kamar mandi, sesaat kemudian terdengar suara dia sedang muntah-muntah. Febian bergegas turun dan berjalan setengah berlari menyusul istrinya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Febian cemas.


"Aku pusing sekali." Setelah menyiram bekas muntahan itu, tubuh Ara hampir terjatuh ke lantai saking lemasnya. Beruntung, Febian segera menahan Ara supaya tidak terjatuh. Tanpa menunggu lama, Febian membopong Ara kembali ke atas tempat tidur.


"Kenapa kamu bisa mual-mual? Apa kamu memang hamil?" tanya Febian antusias.


"Mas, mungkin aku cuma masuk angin. Aku tidak mau berharap lebih." Ara mendes*h kasar. Dalam hati kecilnya, dia merasa ada yang sedang tumbuh di dalam rahimnya, tetapi dia takut itu hanyalah perasaannya saja.


"Sayang, kita harus mencobanya. Kalaupun nanti kamu belum hamil, tidak apa. Kita masih memiliki banyak waktu untuk tetap berusaha." Febian menangkup wajah Ara, dan mendaratkan ciuman di bibir wanita itu.


"Tunggu di sini. Aku panggilkan Kak Queen." Febian mengecup bibir Ara sekali sebelum akhirnya melangkah lebar keluar kamar.


"Apa kamu memang sudah ada di sini?" gumam Ara sembari mengusap perutnya yang masih rata.


Febian yang baru saja sampai di lantai bawah, terlihat begitu semringah saat melihat Queen yang sedang duduk santai bersama suaminya. Tanpa berkata-kata, Febian menarik tangan Queen begitu saja hingga membuat Rayhan yang sedang duduk bersama istrinya menjadi begitu heran.

__ADS_1


"Ada apa, sih, Bi?" tanya Rayhan setengah kesal karena tangan istrinya ditarik-tarik.


"Kak, barusan Ara muntah-muntah, dan sampai saat ini dia belum datang bulan juga." Febian menjelaskan.


"Baiklah, coba kita tes."


Mereka pun bergegas menuju ke kamar Febian, tak lupa Queen membawa peralatan juga sebuah alat testpack. Keluarga yang lain juga ikut ke kamar Febian saat mendengarnya. Melihat semua anggota keluarga berkumpul menjadi satu, Ara semakin terlihat gugup dan takut akan mengecewakan mereka semua. Namun, karena desakan dari mereka, akhirnya Ara bergegas ke kamar mandi untuk mengeceknya, sedangkan Queen yang barusan sudah memeriksa Ara, hanya tersenyum simpul.


Satu menit menunggu alat tes kehamilan itu bekerja, Ara tampak begitu gugup. Febian yang menunggu di depan pintu kamar mandi pun, rasanya sudah sangat tidak sabar. Ara terdiam saat melihat dua garis merah terlihat jelas di sana.


"Sayang, bagaimana hasilnya?" Gedoran pintu membuat kesadaran Ara kembali. Wanita itu bergegas keluar kamar mandi dengan raut berbinar.


"Bagaimana?" tanya Febian tidak sabar saat pintu baru saja terbuka. Ara tidak menjawab, hanya menunjukkan hasil tespack yang berada dalam genggaman tangannya.


"Ka-kamu hamil?" teriak Febian, masih belum percaya. Ara mengangguk dengan cepat. "Alhamdulillah." Febian memeluk erat tubuh istrinya. Berbagai ucapan syukur pun terlontar dari mulutnya. Sungguh, ini adalah kabar yang sangat membahagiakan untuk mereka berdua, juga untuk seluruh anggota keluarga. Wajah mereka pun tampak berbinar bahagia.


๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ


Udah tamat Thor?


Othor kasih 5-6 bab, bagaimana Febian dan Ara menjalani proses 'ngidam' biar adil, wkwkwk


setelah itu kisah ini benar-benar akan TAMAT.


Ada ekstra partnya enggak Thor?


jawabannya ... Ada.


tapi untuk ekstra part nanti Othor enggak janji bakal rutin update ya


karena ada judul lain yang akan Othor garap.


Jadi, buat kalian jangan lupa follow akun Othor ini, biar waktu ada judul baru, tidak ketinggalan ye. ๐Ÿ˜…


Thor, kisah Rendra-Annisa


Jasmin-Erlando?


Mereka nanti ada di judul baru. tunggu aja ya ๐Ÿ˜

__ADS_1


Selamat pagi dan selamat berakhir pekan.


__ADS_2